METRO SUMBAR

Di Tengah Badai Penolakan, Keteguhan Nabi Nuh yang Menggetarkan Zaman

2
×

Di Tengah Badai Penolakan, Keteguhan Nabi Nuh yang Menggetarkan Zaman

Sebarkan artikel ini

PADA masa yang sangat lampau, ketika manusia mulai menjauh dari ajaran tauhid, Allah mengutus seorang rasul yang penuh kesabaran, yaitu Nabi Nuh. Ia diutus untuk meluruskan akidah kaumnya yang telah tenggelam dalam penyembahan berhala. Di tengah masyarakat yang keras kepala, Nuh berdiri membawa cahaya kebenaran.

Kaum Nabi Nuh dikenal sebagai masyarakat yang telah lama hidup dalam kemapanan. Mereka memiliki tradisi, kekuasaan, dan pemimpin-pemimpin yang disegani. Namun di balik kemajuan itu, mereka menyekutukan Allah dengan berhala-berhala seperti Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Berhala-berhala itu awalnya adalah simbol orang saleh yang dihormati, tetapi lambat laun berubah menjadi sesembahan.

Melihat penyimpangan itu, Nabi Nuh tidak tinggal diam. Ia menyeru kaumnya siang dan malam agar kembali menyembah Allah semata. Seruannya dilakukan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, penuh kelembutan dan kasih sayang.

Dakwah yang ia lakukan bukan hanya sehari atau setahun. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun. Rentang waktu yang panjang itu menjadi bukti betapa luar biasanya kesabaran seorang rasul.

Namun, panjangnya waktu dakwah tidak serta-merta membuat kaumnya tersentuh. Justru semakin hari, semakin banyak yang mencemooh dan meremehkan dirinya. Mereka menutup telinga dan berpaling ketika Nuh berbicara.

Ketika dakwahnya tak lagi digubris, Nabi Nuh mengadu kepada Allah. Ia menyampaikan kesedihannya atas kerasnya hati kaumnya. Doanya bukan karena putus asa, melainkan karena keinginan agar kebenaran ditegakkan.

Allah kemudian mewahyukan kepadanya bahwa tidak akan ada lagi yang beriman dari kaumnya selain yang telah beriman. Perintah pun datang agar Nuh membuat sebuah bahtera besar. Perintah itu terasa aneh bagi kaumnya karena saat itu tidak ada tanda-tanda banjir besar.

Dengan penuh kepatuhan, Nabi Nuh mulai membangun kapal di daratan yang kering. Setiap hari ia bekerja, memotong kayu dan menyusunnya sesuai petunjuk wahyu. Orang-orang yang melewati tempat itu tertawa dan mengejeknya.

Baca Juga  BNPB Finalisasi Usulan Perbaikan Rumah Pasca Bencana di Kabupaten Pesisir Selatan

Bahtera itu akhirnya selesai dibangun. Allah memerintahkan agar Nabi Nuh membawa orang-orang beriman dan sepasang dari setiap jenis makhluk ke dalam kapal. Perintah itu menunjukkan kasih sayang Allah terhadap makhluk-Nya yang taat.

Tak lama kemudian, tanda-tanda azab mulai tampak. Air memancar dari bumi dan hujan turun dengan sangat deras dari langit. Banjir besar pun melanda, menenggelamkan segala yang ingkar.

Di tengah gelombang besar, bahtera Nabi Nuh berlayar dengan selamat. Kapal itu mengapung di atas air yang menutupi daratan. Orang-orang beriman di dalamnya diliputi rasa haru dan syukur.

Salah satu peristiwa yang paling menyentuh adalah kisah putra Nabi Nuh. Anaknya memilih tetap bersama kaum yang ingkar. Ketika air semakin tinggi, Nuh memanggilnya agar naik ke kapal.

Namun sang anak menolak dan merasa dapat menyelamatkan diri dengan berlindung di gunung. Keyakinan yang salah itu membuatnya tenggelam bersama kaum yang durhaka. Peristiwa ini mengajarkan bahwa hidayah tidak diwariskan melalui hubungan darah.

Setelah banjir surut, bahtera Nabi Nuh berlabuh di sebuah tempat yang dikenal sebagai Gunung Judi. Dari situlah kehidupan baru dimulai. Orang-orang beriman turun dengan penuh rasa syukur.

Nabi Nuh kemudian memanjatkan doa penuh harap agar Allah memberkahi keturunannya. Ia menyadari bahwa perjalanan belum selesai. Tugas membangun peradaban yang beriman baru saja dimulai.

Kisah Nabi Nuh mengajarkan arti keteguhan dalam prinsip. Ia tidak goyah meski sendirian menghadapi mayoritas. Keberanian moralnya menjadi inspirasi lintas zaman.

Keteladanan lainnya adalah kesabaran tanpa batas. Selama ratusan tahun berdakwah, ia tidak pernah berhenti berharap. Ia tetap yakin bahwa setiap usaha akan dicatat oleh Allah.

Baca Juga  Selama Kepemimpinan Gubernur Mahyeldi, Kualitas Pengelolaan Statistik Sumbar Masuk Lima Besar Nasional

Nabi Nuh juga mengajarkan pentingnya ketaatan total kepada perintah Allah. Membangun kapal di tengah ejekan bukanlah hal mudah. Namun ia melakukannya tanpa ragu.

Dalam kehidupan modern, kisah Nabi Nuh tetap relevan. Ketika kebenaran terasa asing dan suara mayoritas menekan, keteguhan menjadi kunci. Tidak semua yang populer adalah benar.

Kisah ini juga mengingatkan bahwa perubahan besar sering diawali oleh segelintir orang. Nabi Nuh dan para pengikutnya adalah minoritas. Namun sejarah berpihak kepada mereka.

Badai kehidupan hari ini mungkin berbeda bentuknya. Ada badai fitnah, tekanan sosial, dan godaan materialisme. Namun prinsipnya tetap sama, yaitu bertahan dalam iman.

Kesabaran Nabi Nuh menjadi cermin bagi para pendidik, pemimpin, dan orang tua. Mengajak pada kebaikan memerlukan waktu dan ketelatenan. Hasilnya tidak selalu instan.

Ia juga mengajarkan pentingnya doa sebagai senjata orang beriman. Ketika segala upaya terasa berat, ia kembali kepada Allah. Dari situlah datang kekuatan sejati.

Kisah bahtera Nuh bukan hanya cerita tentang banjir besar. Ia adalah simbol perjuangan mempertahankan akidah di tengah arus kesesatan. Bahtera itu menjadi lambang keselamatan bagi yang taat.

Setiap zaman memiliki “bahtera” masing-masing. Bisa berupa nilai, prinsip, atau komunitas yang menjaga iman. Siapa pun yang ingin selamat harus berpegang teguh padanya.

Nabi Nuh telah menunjukkan bahwa kemenangan tidak selalu diukur dari jumlah pengikut. Kemenangan sejati adalah ketika seseorang tetap setia pada kebenaran. Itulah warisan terbesar yang ia tinggalkan.

Akhirnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa sejarah para nabi bukan sekadar dongeng masa lalu. Ia adalah pelajaran hidup yang abadi. Dari keteguhan Nabi Nuh, kita belajar bahwa iman, sabar, dan taat adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat. (***)