BERLOMBA-lomba mengejar dunia. Tak pernah puas, selalu merasa belum cukup, mewarnai kehidupan hamba saat ini.
Membandingkan capaian dunia orang lain dengan capaian dunia kita. Menilai keberhasilan dan kesuksesan dengan posisi, jabatan, kekayaan, aset yang dimiliki menjadi indikator dan menghiasi kehidupan.
Kata “puas” untuk dunia tak lagi dikenal. Perlombaan tak terkoordinir terus berlangsung demi ambisi dunia. Di tengah perlombaan yang tak berujung dan kata puas yang hilang dari kamus kehidupan, Allah hadirkan Bulan Ramadan,
Bulan yang mulia, bulan pembuktian, bulan yang membuat ambisi dunia bukan segalanya, kata puas walau tak terungkap tapi dirasakan. Ramadan membuat “rasa cukup” begitu berharga. Betapa Allah menyayangi hamba Nya dengan Ramadan.
Puasa, Tarawih, Tadarus, Sedekah, dan Zakat. Hadir membersamai para hamba. Tak terasa begitu cepat terasa, tersadar ketika waktunya akan berakhir .Ramadhan tak bisa ditahan.
Mudah-mudahan ada “Qanaah” yang menjadi “pakaian baru” setelah sebulan mengumpulkan modal di bulan Ramadan.
Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah Engkau melihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Begitu “Sang Teladan” manusia mengingatkan para pengikutnya yang setia, Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim. Malas bukan kebiasaan hamba…
Dunia bukan tempat terakhir hamba. Terus berusaha dan menerima hasilnya dengan ridha adalah kehidupan kami.
Jiwa yang tenang menjadi bekal kami. Syukur menyinari hari-hari kami. Tamak dan iri jadi musuh kami. Jadikan kami hamba Mu yang Qanaah. (*)





