METRO SUMBAR

Kurang Cairan Bisa Ganggu Ginjal, Atur Pola Minum Selama Ramadan

2
×

Kurang Cairan Bisa Ganggu Ginjal, Atur Pola Minum Selama Ramadan

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI— Minum air putih untuk mencegah dihidrasi saat puasa.

PUASA Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan spiritual, tetapi juga memberi manfaat bagi kesehatan tubuh. Mes­­ki demikian, peruba­han pola makan dan minum selama berpuasa ke­rap membuat sebagian o­rang kurang memperhatikan kebutuhan cairan harian.

Padahal, sekitar 60 persen tubuh manusia terdiri dari air. Artinya, kekura­ngan cairan dapat berdampak langsung pada fungsi organ dan kondisi fisik secara keseluruhan. Selama kurang lebih 12 jam berpuasa, tubuh tidak menerima asupan cairan. Jika kebutuhan tersebut tidak di­penuhi secara optimal saat sahur dan berbuka, risiko gangguan kesehatan bisa meningkat.

Berikut lima dampak kurang minum saat puasa yang sering dianggap sepele, namun berpotensi mengganggu kesehatan.

Dehidrasi dan Turunnya Energi. Dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang masuk. Saat berpuasa, cairan tetap keluar melalui keringat, pernapasan, dan urine. Jika tidak digantikan secara cukup, tubuh bisa mengalami dehidrasi ringan hingga sedang.

Gejala yang umum di­rasakan antara lain mulut dan tenggorokan kering, warna urine menjadi lebih pekat, tubuh terasa lemas, mudah lelah, hingga pusing. Kondisi ini terjadi karena volume darah menurun sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke organ tubuh tidak maksimal.

Akibatnya, energi cepat terkuras dan produktivitas menurun. Risiko ini lebih tinggi pada pekerja lapangan atau mereka yang ba­nyak beraktivitas fisik, terutama saat cuaca panas.

Sulit Fokus dan Sakit Kepala. Kurangnya asupan cairan juga dapat memicu sakit kepala. Penurunan cairan tubuh memengaruhi aliran darah ke otak, sehingga suplai oksigen menjadi kurang optimal. Dampaknya, fungsi kognitif me­nurun.

Keluhan yang sering muncul meliputi sakit kepala ringan hingga berat, sulit berkonsentrasi, mudah mengantuk, serta reaksi yang lebih lambat. Kondisi ini tentu memengaruhi per­­forma kerja maupun belajar.

Bagi pengemudi jarak jauh atau pekerja yang mengoperasikan mesin, penurunan konsentrasi dapat berisiko terhadap keselamatan. Kekurangan cairan juga dapat memperburuk efek kurang tidur yang sering terjadi akibat perubahan pola istirahat selama Ramadan.

Gangguan Pencernaan dan Sembelit. Air berperan penting dalam proses pen­cernaan. Cairan membantu melunakkan makanan di saluran cerna dan mempermudah pergerakan u­sus. Saat tubuh kekurangan cairan, usus besar menyerap lebih banyak air dari sisa makanan, sehingga feses menjadi keras.

Akibatnya, muncul sem­belit, perut terasa begah, tidak nyaman, dan frekuensi buang air besar berkurang. Kondisi ini kerap diperparah oleh pola makan saat berbuka yang tinggi karbohidrat sederhana dan gorengan, namun rendah serat.

Kombinasi kurang minum dan minim serat mem­buat proses pencernaan semakin lambat.

Bau Mulut dan Masalah Kesehatan Mulut. Selama puasa, produksi air liur memang menurun secara alami. Jika asupan cairan saat sahur dan berbuka tidak mencukupi, kondisi mulut kering akan semakin terasa.

Dampaknya bisa berupa bau mulut, bibir pecah-pecah, tenggorokan kering, serta rasa tidak nyaman saat berbicara. Minimnya air liur membuat bakteri lebih mudah berkembang di rongga mulut.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan pada gigi dan gusi. Meski bau mulut saat puasa merupakan hal wajar, kondisi tersebut dapat diminimalkan dengan menjaga kebersihan mulut dan memastikan tubuh tetap terhidrasi.

Risiko Gangguan Ginjal. Ginjal berfungsi menyaring limbah dan racun dari darah melalui urine. Proses ini memerlukan cairan yang cukup. Ketika tubuh kekurangan air, urine menjadi lebih pekat sehingga zat sisa metabolisme lebih mudah mengendap.

Jika berlangsung berulang, risiko gangguan ginjal, termasuk pembentukan batu ginjal, dapat me­ning­kat. Gejala awal sering kali tidak disadari, seperti fre­kuensi buang air kecil yang berkurang, warna urine lebih gelap, hingga nyeri di punggung bagian bawah.

Kebiasaan kurang minum dalam jangka panjang dapat memperberat kerja ginjal, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat gangguan ginjal atau sering mengonsumsi minuman manis dan ber­kafein.

Strategi Memenuhi Kebutuhan Cairan

Untuk mencegah berbagai risiko tersebut, penting mengatur pola minum selama Ramadan. Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah pola 2-4-2, yakni dua gelas air putih saat berbuka, empat gelas di antara waktu berbuka hingga sahur, dan dua gelas saat sahur.

Selain itu, konsumsi buah dan sayur yang kaya air seperti semangka, me­lon, mentimun, dan jeruk dapat membantu menjaga hidrasi. Batasi minuman berkafein karena bersifat diuretik yang dapat meningkatkan pengeluaran ca­i­ran, serta hindari minuman terlalu manis yang dapat memicu rasa haus berlebih.

Dengan pengaturan cairan yang tepat, puasa tetap dapat dijalani secara optimal tanpa mengganggu kesehatan tubuh. (*/rom)