Ramadan bukan sekadar jeda antara sahur dan berbuka. Ramadan adalah tamu langit yang turun membawa cahaya, mengetuk pintu-pintu jiwa yang lama berdebu, mengguncang nurani yang hampir beku, dan memaksa kita berdiri di hadapan cermin, tanpa topeng, tanpa alasan, tanpa pembenaran.
Namun betapa sedihnya, jika sebulan penuh kita bersamanya, tetapi tidak ada yang bergeser dalam diri. Jika kebiasaan buruk masih kita peluk erat. Jika lisan tetap tajam, melukai tanpa rasa bersalah. Jika hati masih keras, sulit memaafkan, enggan merendah.
Jika sujud hanya menjadi rutinitas tubuh, tanpa getar yang mengguncang jiwa. Maka mungkin yang patut kita tangisi bukanlah dunia yang tak adil, melainkan diri yang tak berubah.
Hati-hati. Jangan sampai Ramadan hanya ramai di jadwal kegiatan, tetapi sunyi di ruang hati. Jangan sampai ramadan hanya hidup di baliho dan undangan iftar bersama, tetapi mati dalam kesadaran kita.
Barangkali bukan Ramadannya yang kurang mulia. Bukan pula ayat-ayat Alquran yang kurang menyentuh. Bukan doa-doa yang kurang khusyuk.Tetapi hati kita yang terlalu lama tertutup. Terlalu lama terbiasa dengan dosa, hingga pekatnya menjadi tirai yang menghalangi cahaya hidayah menembus relung terdalam.
Ramadan adalah madrasah rohani. Mendidik kita sabar saat perut kosong, melatih kita ikhlas saat tangan memberi, mengajarkan empati saat melihat yang kekurangan, dan menuntun kita jujur, bahkan ketika tak satu pun mata manusia menyaksikan.
Jika sekelas Ramadhan tidak mampu mengubah kita, lalu momentum apa lagi yang kita tunggu? Jika panggilan adzan yang berulang-ulang tak mampu melembutkan hati, lalu suara apa lagi yang kita harapkan menyadarkan diri?
Air mata di bulan ini bukan tanda kelemahan. Tapi tanda bahwa hati masih hidup. Tangisan taubat merupakan bahasa paling jujur seorang hamba, bahasa yang tidak membutuhkan retorika, cukup penyesalan yang tulus dan keinginan untuk kembali.
Saat kita mengakui betapa seringnya kita lalai, betapa mudahnya kita tergoda, betapa jarangnya kita benar-benar bersyukur, di situlah perubahan mulai berdenyut.
Ramadan tidak datang untuk dipuji, tetapi untuk dihayati. Ramadan tidak hadir sekadar untuk dirayakan, tetapi untuk ditinggalkan dengan jejak perubahan.
Jadikan Ramadan ini titik balik. Bukan hanya lebih rajin beribadah, tetapi lebih lembut dalam bersikap. Bukan hanya lebih banyak membaca Alquran, namun juga mengamalkan dengan lebih amanah dalam tanggung jawab.
Bukan hanya lebih sering ke masjid, namun juga lebih adil dalam setiap keputusan. Karena ukuran keberhasilan Ramadhan bukanlah semaraknya iftar bersama, bukan panjangnya doa yang kita lantunkan, bukan pula banyaknya unggahan kebaikan.
Ukurannya adalah siapa diri kita setelah ia pergi. Semoga ketika Ramadan berlalu, yang tersisa bukan sekadar kenangan manis dan foto kebersamaan, melainkan hati yang lebih bersih, langkah yang lebih lurus, dan jiwa yang lebih tunduk.
Jika hari ini kita merasa belum berubah, jangan putus asa. Menangislah, bertaubatlah, lalu bangkitlah dengan tekad yang lebih kuat. Sebab Allah tidak pernah menutup pintu bagi hamba yang ingin kembali. (*)






