BERITA UTAMA

Ramadan Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Haus

11
×

Ramadan Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Haus

Sebarkan artikel ini
Ustaz Khalid Basalamah

Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus. Ramadan adalah momen besar, kesempatan emas yang Allah kasih setiap tahun untuk memperbaiki diri. Dan menariknya, Rasulullah selalu menyambut Ramadan dengan kabar gembira. Karena bulan ini bukan bulan biasa.

Ramadan disebut bulan penuh berkah. Bukan cuma istilah manis yang sering kita dengar, tapi benar-benar terasa.

Coba perhatikan. Saat puasa, makan se­dikit sudah kenyang. Minum dua gelas saja rasanya sudah cukup. Waktu yang biasanya terasa cepat, di Ramadan justru terasa panjang. Siang terasa lama, malam pun seperti lebih luas untuk ibadah.

Itulah makna keberkahan. Sesuatu yang sedikit tapi terasa cukup, bahkan lebih dari cukup. Allah memang memuliakan Ramadan sebagaimana Dia memuliakan tempat-tempat tertentu seperti Makkah dan Madinah. Allah juga memuliakan malaikat tertentu seperti Jibril. Begitu juga dengan waktu. Ramadan dipilih dan dimuliakan dibanding bulan lainnya.

Di bulan ini, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Artinya apa? Ke­sempatan masuk surga dibuka selebar-lebarnya. Setiap malam, ada hamba yang dibebaskan dari api neraka. Bahkan ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yai­tu Lailatul Qadar. Kalau bukan di Ramadan kita berubah, lalu kapan lagi?

Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar

Puasa punya kedudukan istimewa. Semua amal dilipatgandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Tapi Puasa berbeda. Allah sendiri yang langsung membalasnya.

Namun, ada dua syarat penting agar puasa benar-benar bernilai: Pertama, karena iman. Bukan karena ikut-ikutan. Bukan karena lingkungan. Tapi karena sadar ini perintah Allah.

Kedua, mengharap pahala semata. Puasa bukan cuma soal perut kosong. Tapi juga soal lisan yang dijaga, pandangan yang ditundukkan, emosi yang dikendalikan. Kalau masih berdusta, masih suka marah-marah, masih mengisi waktu dengan hal sia-sia, maka esensi puasanya ber­­kurang.

Puasa itu perisai. Perisai dari neraka. Sekaligus latihan mengontrol diri. Ramadan adalah training massal selama sebulan penuh.

Salat Tarawih

Selain puasa, amalan yang sangat ditekankan adalah salat tarawih atau qiyamul lail di bulan Ramadan.

Rasulullah bersabda, siapa yang salat malam di Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Keutamaan lain yang sering diremehkan adalah salat bersama imam sampai selesai. Pahalanya dicatat seperti salat sema­lam suntuk. Bayangkan, hanya dengan bertahan sampai witir selesai, kita bisa dapat pahala seperti ibadah sepanjang malam.

Para sahabat sangat menjaga salat malam. Ada riwayat bahwa Utsman bin Affan pernah membaca Al-Qur’an hingga khatam da­lam satu rakaat. Itu me­nunjukkan betapa seriusnya mereka memanfaatkan Ramadan.

Ramadan mengajarkan kita rendah hati, tidak mu­dah terpancing emosi, dan membiasakan diri bangun malam.

Sedekah

Rasulullah adalah orang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadan. Sedekah terbaik adalah sedekah di bulan Ramadan.

Para sahabat berlomba dalam kebaikan. Umar bin Khattab pernah bersedekah setengah hartanya. Sementara Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan seluruh harta yang ia miliki saat itu.

Bentuknya tidak harus besar. Bisa dengan memberi makan orang berbuka, membantu fakir miskin, atau sekadar membelikan makanan untuk orang lain. Yang penting, memberi tanpa mengharap balasan atau ucapan terima kasih. Sedekah bukan cuma soal harta yang keluar. Tapi soal hati yang dilapangkan.

Ramadan Adalah Bulan Perubahan

Intinya sederhana tapi dalam. Ramadan adalah bulan pelatihan. Kalau di bulan ini kita tidak berubah menjadi lebih baik, padahal setan dibelenggu dan pintu surga dibuka, maka kapan lagi kita mau berubah?

Ramadan seharusnya jadi momen memperbaiki akhlak, memperbanyak ibadah, menahan emosi, dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia.

Hari ini adalah hari pertama puasa. Masih panjang perjalanan menuju Idulfitri. Jangan cuma fokus pada menu berbuka atau hitung-hitungan tanggal lebaran.

Fokuslah pada perubahan diri. Karena Ramadan bukan sekadar tentang la­par dan haus. Tapi tentang menghapus dosa, menaikkan derajat, dan menyiapkan diri menuju surga.

Semoga Ramadan kali ini bukan hanya lewat begitu saja, tapi benar-benar meninggalkan jejak perubahan dalam diri kita. (*)