METRO SUMBAR

Keteladanan Rasulullah SAW dalam Memaafkan, Cahaya Akhlak dari Zaman Kenabian

2
×

Keteladanan Rasulullah SAW dalam Memaafkan, Cahaya Akhlak dari Zaman Kenabian

Sebarkan artikel ini

SEJARAH Islam mencatat bahwa keteladanan bukan hanya lahir dari kemenangan dan kejayaan, tetapi justru tampak paling terang saat seseorang berada di puncak kekuasaan namun memilih kerendahan hati.

Salah satu kisah paling menggetarkan hati tentang keteladanan itu terjadi pada diri Nabi Muhammad SAW, sosok yang diutus bukan hanya membawa wahyu, tetapi juga menyempurnakan akhlak manusia.

Sejak awal dakwah di Makkah, Rasulullah SAW menghadapi penolakan yang luar biasa keras dari kaum Quraisy. Cacian, hinaan, hingga kekerasan fisik menjadi bagian dari hari-hari beliau.

Tidak sedikit orang yang secara terang-terangan memusuhi Nabi. Ada yang melemparkan batu, menaburkan duri di jalan yang biasa beliau lewati, bahkan meludahi beliau saat melintas.

Namun, Rasulullah SAW tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Beliau memilih jalan sabar, meski itu berarti menahan luka yang dalam di hati.

Salah satu peristiwa yang paling dikenal adalah ketika Rasulullah SAW berdakwah ke Thaif. Harapan akan sambutan hangat justru berujung pada penolakan dan kekerasan.

Anak-anak dan budak disuruh melempari beliau dengan batu hingga darah mengalir dari kaki beliau. Dalam kondisi terluka, Rasulullah SAW masih mampu menengadahkan tangan dan berdoa.

Beliau tidak meminta kebinasaan bagi mereka, tetapi justru memohon agar Allah memberi hidayah kepada kaum yang belum mengenal kebenaran itu.

Tahun-tahun berlalu. Kaum Muslimin akhirnya hijrah ke Madinah dan membangun kekuatan. Islam tumbuh dan pengaruh Rasulullah SAW semakin luas.

Hingga tibalah peristiwa besar dalam sejarah Islam, yakni Fathu Makkah—penaklukan Kota Makkah tanpa pertumpahan darah yang berarti.

Saat itu, Rasulullah SAW kembali ke kota yang dulu mengusir, menyakiti, dan berusaha membunuh beliau.

Kaum Quraisy gemetar ketakutan. Mereka sadar, kini Rasulullah SAW memiliki kekuasaan penuh untuk membalas semua kejahatan masa lalu.

Di hadapan ribuan penduduk Makkah, Rasulullah SAW berdiri dengan penuh wibawa. Semua mata tertuju pada beliau, menunggu keputusan yang akan diambil.

Dalam situasi itu, Rasulullah SAW justru bertanya, “Menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”

Dengan suara bergetar, mereka menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”

Jawaban Rasulullah SAW sungguh di luar dugaan. Beliau berkata, “Pergilah kalian semua, kalian bebas.”

Kalimat itu bukan sekadar pengampunan, tetapi pernyataan kemanusiaan yang melampaui zamannya.

Tidak ada balas dendam, tidak ada hukuman massal, padahal semua alasan untuk itu ada di tangan beliau.

Rasulullah SAW memilih memaafkan demi menyelamatkan hati manusia, bukan menaklukkannya dengan ketakutan.

Sikap ini justru meluluhkan hati banyak orang Quraisy. Mereka yang sebelumnya memusuhi Islam, akhirnya memeluk Islam dengan penuh kesadaran.

Dari peristiwa ini, umat Islam belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan membalas, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri.

Memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan puncak kedewasaan iman.

Rasulullah SAW menunjukkan bahwa dakwah yang paling efektif adalah keteladanan, bukan paksaan.

Dalam kehidupan modern, sikap ini menjadi sangat relevan ketika konflik mudah terjadi, baik di ruang sosial, politik, maupun keluarga.

Dunia hari ini sering mengajarkan untuk membalas kesalahan dengan hukuman, kebencian dengan kebencian.

Namun Rasulullah SAW mengajarkan jalan yang lebih tinggi—jalan kasih sayang dan kebijaksanaan.

Memaafkan memang tidak selalu mudah, tetapi dari sanalah lahir kedamaian yang sejati.

Keteladanan Rasulullah SAW ini menjadi cermin bagi umat Islam agar tidak terjebak pada dendam yang merusak hati.

Dalam setiap luka, selalu ada pilihan: membalas atau memaafkan.

Rasulullah SAW telah memberi teladan bahwa memaafkan adalah cahaya yang mampu mengubah musuh menjadi saudara.

Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi pesan abadi bagi siapa pun yang ingin membangun peradaban dengan akhlak.

Dari zaman Nabi hingga hari ini, teladan itu tetap hidup, menunggu untuk diteladani oleh umat manusia. (***)