MENTAWAI, METRO – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai resmi menjalin kemitraan strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU), Jumat (6/2/2026). Kesepakatan tersebut diteken di Ruang Rapim A, Gedung Rektorat ITB, Jalan Tamansari, Bandung.
Dokumen kerja sama ditandatangani langsung oleh Rektor ITB, Prof.DR.Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., dan Bupati Kepulauan Mentawai, DR. Rinto Wardana, S.H., M.H. Kolaborasi ini menjadi fondasi awal sinergi jangka panjang di bidang pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat guna mendukung percepatan pembangunan di Mentawai.
Dalam sambutannya, Rektor ITB menegaskan komitmen kampusnya untuk berperan sebagai perguruan tinggi berkelas dunia yang tetap berpijak pada kebutuhan nasional dan daerah. Menurutnya, kemitraan dengan pemerintah daerah merupakan langkah konkret agar kontribusi keilmuan kampus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia menilai kerja sama dengan Pemkab Mentawai membuka peluang lebih luas, terutama dalam meningkatkan akses putra-putri daerah untuk melanjutkan pendidikan tinggi di ITB. Selain itu, kolaborasi ini dinilai penting agar perguruan tinggi dapat memahami secara langsung tantangan pembangunan daerah dan menghadirkan solusi berbasis riset.
“Tujuan akhirnya adalah mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
ITB, lanjutnya, memiliki berbagai fakultas dan sekolah yang relevan untuk mendukung pengembangan wilayah, mulai dari sektor energi, perencanaan wilayah dan kota, hingga pariwisata. Ia berharap kerja sama ini tidak hanya memperluas akses pendidikan bagi generasi muda Mentawai, tetapi juga mendorong mereka kembali membangun daerah asal.
Sementara itu, Bupati Rinto Wardana menyampaikan bahwa Mentawai memiliki potensi besar, khususnya di sektor pariwisata bahari. Daerah tersebut dikenal luas sebagai destinasi selancar kelas dunia dan tahun ini dijadwalkan menjadi tuan rumah ajang internasional QS 6000. Sebagai perbandingan aja, jika di Bali ada 16-20 lokasi Surfing yang sudah dikenal, di Mentawai ada 70-90 lokasi aktif untuk Surfing.
Di sisi lain, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan pembangunan, terutama terkait infrastruktur dan konektivitas. Pemerintah daerah, kata dia, tengah mempercepat pembangunan jalan, elektrifikasi hingga ke dusun, penyediaan air bersih dan sanitasi, peningkatan layanan kesehatan, serta penguatan jaringan telekomunikasi.
Dengan kondisi geografis yang terdiri atas empat pulau besar dan akses utama melalui jalur laut, penguatan konektivitas antarwilayah menjadi kebutuhan mendesak. Karena itu, dukungan keilmuan dari ITB dinilai strategis dalam merancang pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
“Kami membutuhkan mitra akademik untuk berdiskusi dan menyusun perencanaan pembangunan hingga tingkat dusun,” kata Rinto.
Kesepahaman ini mencakup penguatan kolaborasi dalam penyelenggaraan pendidikan, riset terapan, hingga penyusunan rencana induk pengembangan daerah, termasuk sektor pariwisata dan transformasi digital.
Pegiat pariwisata Sumatera Barat, Nofrins Napilus, mengungkapkan bahwa inisiatif kerja sama ini berawal dari kunjungan kerja bersama Senator RI, Irman Gusman, ke Mentawai. Dalam pertemuan tersebut, muncul aspirasi agar generasi muda Mentawai memiliki kesempatan lebih besar untuk menempuh pendidikan di ITB.
Aspirasi itu kemudian ditindaklanjuti melalui komunikasi dengan pihak rektorat ITB dan mendapat dukungan berbagai pihak. Dari pembahasan mengenai akses pendidikan, dialog berkembang pada peluang penyusunan master plan pengembangan pariwisata serta digitalisasi sistim di Pemda Mentawai bersama Tim Akademisi ITB nantinya.
Melalui kerja sama ini, kedua pihak berharap terbangun sinergi berkelanjutan yang tidak hanya memperluas akses pendidikan tinggi, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan daerah berbasis riset dan inovasi. ***




