BERITA UTAMA

Ketum PP Muhammadiyah Ajak Masyarakat Cerdas dan Tasamuh Sikapi Perbedaan Awal Ramadhan

3
×

Ketum PP Muhammadiyah Ajak Masyarakat Cerdas dan Tasamuh Sikapi Perbedaan Awal Ramadhan

Sebarkan artikel ini
Haedar Nasir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

JAKARTA, METRO–Pengurus Pusat Muhammadiyah memastikan bahwa awal Ramadhan tahun ini jatuh pada Rabu (18/2). Sementara Pemerintah Indonesia akan memutuskan awal Ramadhan 1447 Hijriah setelah sidang isbat. Meski berpotensi ada perbedaan awal puasa, Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir mengajak masyarakat menyika­pinya dengan cerdas dan tasamuh.

Menurut Haedar, perbedaan awal puasa sangat mungkin terjadi. Baik di Indonesia maupun negara lainnya. Menurut dia, hal itu akan terus terjadi selama umat Islam belum memiliki satu kalender tunggal. Untuk itu, dia mengajak masyarakat bersikap cerdas dan tasamuh. Tidak perlu berlebihan menyikapi perbedaan yang memang mungkin terjadi.

“Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” ungkap Haedar pada Selasa (17/2).

Haedar menyampaikan bahwa perbedaan harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Apalagi bila mengingat tujuan pelaksanaan ibadah puasa sebagai jalan untuk me­ning­katkan ketakwaan kepada Allah SWT. Menurut dia, yang menjadi fokus adalah hal substantif, yakni menjadikan ibadah puasa menghadirkan kebaikan dalam hidup.

Melalui peningkatan takwa kepada Allah SWT, Haedar berharap, hubu­ngan atau relasi sosial kemasyarakatan juga semakin baik dengan menebar kebaikan hidup bagi sesama dan lingkungan semesta. Berbagai urusan, lanjut dia, jangan sampai mengganggu tujuan utama mencapai takwa. Dia yakin, dengan bekal kecerdasan dan keimanan, umat Islam akan meraih ketakwaan dan meningkat derajat ke­muliaannya.

“Dalam konteks yang lebih luas, Ramadhan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang ma­kin luas,” ujarnya.

Haedar menambahkan, ibadah puasa bukan sebatas menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan nafsu dan hasrat yang merusak kerekatan sosial, termasuk mengajari muslim untuk bersabar. Apalagi, di era media sosial yang selalu memancing hasrat muslim untuk melampiaskan amarah, kebencian, dan perselisihan, puasa seharus­nya menjadi tameng untuk menangkal dan menahan hawa nafsu agar tidak le­pas diri.

“Dengan berbagai ma­cam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita,” imbuhnya. (jpg)