PADANG, METRO — Menyongsong masuknya Ramadhan 1447 H, Lapas Kelas II B Anak Air, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang bakal membuat program yang bersifat fokus keagamaan untuk mendekat diri kepada Allah SWT. Lebih introspeksi diri, mengikuti tadarus pada malam Ramadhan, tausiah rohani Islam, pesantren Ramadhan dan bergai kegiatan agama Islam lainya untuk warga binaan. Kegiatan ini dipusatkan nantinya di Masjid Baitul Anshar terletak di Kompleks Lapas.
Kepala Rumah Tahanan (Karutan) Kelas II B Anak Air, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang Mai Yudiansyah, didampingi Kepala , Kesatuan Pengamanan Rutan, Muhamad Aidil Syahputra dan Kasubsi Pelayanan Tahanan Aldo Ramadhan kepada POSMETRO Rabu (11/2) mengatakan, program Ramadhan di Rutan Kelas II B Anak Air ini, akan kita bahas dalam waktu dekat. Soalnya bulan Ramadhan sudah di pelupuk mata, tentu saja secepatnya kita bahas.
“Dalam kegiatan ini pihak Rutan bekerjasama dengan Kamenag Kota Padang. Dan untuk mengisi tausiah nanti, akan kita gilir. Bisa kita datangkan dari ustadz dan bisa juga dari warga binaan itu sendiri. Sebab mereka juga memiliki kemampuan untuk mengisi tausiah,” ucap Mai Yudiansyah.
Yang lebih penting lagi kata Yudi, bahwa tausiah menjadi bagian penting dalam pembinaan kepribadian warga binaan, khususnya dalam menumbuhkan kesadaran spiritual dan semangat perubahan diri. Ramadhan adalah momentum evaluasi dan perbaikan diri. Melalui kegiatan ini, kami ingin Warga Binaan menyambut Ramadan dengan kesiapan hati dan niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
“Jangan menyia-nyiakan Ramadhan. Banyak orang diberi usia, tapi tidak diberi kesempatan bertemu Ramadan. Karena itu, sambutlah dengan rasa syukur dan kebahagiaan. Ia juga mengingatkan agar puasa tidak hanya dijaga secara fisik, tetapi juga secara lisan dan perbuatan. Keberhasilan Ramadhan terletak pada perubahan sikap dan kebiasaan setelahnya.
“Puasa di siang hari melatih pengendalian diri, sementara ibadah di malam hari menguatkan jiwa. Jika Ramadhan dijalani dengan sungguh-sungguh, Insya Allah lahir pribadi yang lebih sabar, jujur, dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Sementara itu Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan, Muhamad Aidil Syaputra dan Kasubsi Pelayanan Tahanan Aldo Ramadhan mengaku utnuk saat ini jumlah penghuni Rutan sebanyak 982 orang, sementara jumlah ideal hanya 600 orang lebih. Meski berada dalam kondisi overkapasitas, pengamanan di Rutan Anak Air tetap terjaga. Sebanyak 12 orang petugas disiagakan setiap saat untuk mengawasi aktivitas warga binaan dan mengantisipasi potensi gangguan keamanan. Dengan jumlah penghuni yang jauh melampaui kapasitas, kedisiplinan dan kesiapsiagaan petugas menjadi kunci utama terciptanya suasana yang kondusif.
Sebagai langkah antisipasi terhadap situasi darurat, Rutan Anak Air juga menerapkan sistem kesiapsiagaan cepat tanggap bencana. Prosedur ini disiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk, seperti kebakaran atau bencana alam, demi menjamin keselamatan seluruh penghuni dan petugas.
Disebutkan Aidil, dalam pengelolaan hunian kita menerapkan sistem penempatan warga binaan secara terkelompok berdasarkan jenis tindak pidana. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menjaga stabilitas keamanan dan meminimalisir potensi konflik. Khusus Blok A, diperuntukkan bagi narapidana baru. Penempatan ini bertujuan memudahkan proses pengenalan lingkungan rutan sekaligus pembinaan awal agar mereka dapat beradaptasi secara bertahap dengan kehidupan di dalam rutan.
Tak hanya fokus pada aspek keamanan, Rutan Anak Air juga berupaya membekali warga binaan dengan keterampilan yang bermanfaat untuk kehidupan mereka setelah bebas nanti. “Melalui program pembinaan kemandirian, rutan ini mengembangkan kegiatan di bidang pertanian dan perkebunan. Warga binaan dilibatkan dalam budidaya ikan lele dan jenis ikan lainnya, serta penanaman berbagai sayuran dan buah-buahan,” sebut Aidil.
Dikatakan Aidil, bahwa pembinaan mental dan spiritual turut menjadi perhatian penting. Rutan Anak Air secara rutin bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) dalam menyelenggarakan kegiatan keagamaan. Siraman rohani diberikan dua kali dalam seminggu kepada santri dan warga binaan. “Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat nilai moral, menumbuhkan kesadaran diri, serta menjadi sarana refleksi bagi warga binaan selama menjalani masa pidana,” tuturnya.
Di sisi layanan kesehatan, tambah Aldo, Rutan Anak Air telah memiliki klinik Kesehatan Pratama yang dilengkapi dengan layanan dokter umum dan dokter gigi. Keberadaan fasilitas ini menjadi penopang penting dalam menjaga kesehatan warga binaan. “Dalam operasional sehari-hari, terdapat kelompok tamping warga binaan yang dipercaya untuk membantu menjaga kebersihan dan mendukung kelancaran pelayanan kesehatan warga binaan,” tegas Aldo. (ped)






