METRO PADANG

Warrior Fun Run 5K 2026, Kampanyekan Bahaya Resistensi Antimikroba

8
×

Warrior Fun Run 5K 2026, Kampanyekan Bahaya Resistensi Antimikroba

Sebarkan artikel ini
AMR WARRIOR FUN RUN 5K— Wali Kota Padang, Fadly Amran, mengikuti AMR Warrior Fun Run 5K 2026 yang diikuti ratusan peserta di kawasan Pantai Purus, Minggu (8/2). Event lari ini dibuka secara resmi oleh Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar. Dan juga dihadiri Anggota Komisi IX DPR RI, Ade Rezki Pratama, Kepala Dispora Sumbar Mahdianur Musa, Kepala Balai Besar POM (BBPOM) di Padang, Martin Suhendri.

PURUS, METRO–Wali Kota Padang, Fadly Amran, ikut ambil bagian dalam ajang AMR Warrior Fun Run 5K 2026 yang diikuti ratusan peserta di kawasan Pantai Purus, Minggu (8/2).

Event lari ini dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar. Hadir di kesempatan itu Anggota Komisi IX DPR RI, Ade Rezki Pratama, Kepala Dispora Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Mahdianur Musa, dan Kepala Balai Besar POM (BBPOM) di Padang, Martin Suhendri, beserta jajaran.

Fadly Amran menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat strategis karena mampu mengintegrasikan upaya peningkatan kesehatan ma­sya­rakat dengan promosi pariwisata daerah. Menurutnya, konsep sport tourism yang memanfaatkan keindahan Pantai Padang tentu menjadi daya tarik tersendiri.

“Ajang AMR Warrior Fun Run 5K ini patut diapresiasi. Selain mendorong gaya hidup sehat bagi ma­syarakat, juga turut mempromosikan potensi wisata Kota Padang,” ujarnya.

Fadly pun berharap kegiatan serupa dapat di­gelar secara berkelanjutan sebagai bagian dari penguatan citra Kota Padang sebagai destinasi wisata berbasis olahraga dan ke­sehatan.

“Melalui Program Unggulan (Progul) Jelajah Pa­dang, penataan kawasan pesisir pantai akan terus dilakukan untuk memper­kuat daya tarik wisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan itu, Pa­dang diharapkan semakin mantap menjadi kota tujuan event nasional dan internasional,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menekankan bahwa ajang AMR Warrior Fun Run 5K 2026 menjadi langkah strategis untuk mengedukasi publik tentang bahaya resistensi antimikroba yang kini menjadi ancaman serius kesehatan global.

Ia menyebutkan, pe­nye­bab utama resistensi antimikroba adalah kebiasaan masyarakat me­ngon­sumsi obat secara sem­­­barangan, tanpa resep, atau tidak sesuai aturan.

“AMR adalah ancaman nyata, dan jika tidak kita lawan bersama justru kuman yang akan mengalahkan kita. Karena itu, BPOM me­ngajak masyarakat men­­­jadi AMR Warrior dengan menggunakan obat secara benar, tepat dosis dan indikasi, serta sesuai anjuran tenaga medis,” ujarnya.

Kepala BBPOM di Pa­dang, Martin Suhendri, menyebutkan bahwa para peserta berlari menempuh rute sejauh 5 kilometer menyusuri Jalan Samudera Pantai Padang. Kegiatan ini sebutnya, mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Sumbar, Pemerintah Kota Padang, serta sejumlah mitra lainnya.

“Melalui kampanye AMR­ Warrior 2026, Kota Padang diharapkan menjadi pelopor penggunaan obat yang rasional serta berkontribusi dalam men­cegah krisis kesehatan global akibat resistensi antimikroba,” harapnya.

Untuk diketahui, resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR) adalah kondisi di mana mikroorganisme mampu bertahan terhadap dosis terapi senyawa antimikroba. Akibatnya, mikroorganisme tersebut tetap dapat berkembang, sehingga me­­ngu­rangi ke­am­puhan obat, meningkatkan risiko pe­nyebaran penyakit, mem­­perparah kondisi pa­sien, dan bahkan me­nye­bab­kan kematian pada ma­nusia, hewan, ikan, dan tum­buhan.

AMR merupakan tantangan besar dalam dunia kesehatan. Pada 2019, di­perkirakan hampir 5 juta kematian dikaitkan dengan AMR, termasuk 1,27 juta kematian secara langsung di­sebabkan oleh AMR. AMR menimbulkan ancaman terhadap kesehatan global, ketahanan pangan, serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.

Indonesia masih memiliki tantangan berat karena sebanyak 22,1% masya­rakat menggunakan antibiotik oral yang sangat mu­dah didapatkan, baik itu bentuknya tablet atau sirup yang akan diberikan pada anak-anak. Dari angka itu, sebanyak 41% diantaranya memperoleh antibiotik tanpa resep.

Mengenai peredaran antimikroba, berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia, dari masyarakat yang menggunakan antibiotik oral dalam 1 tahun terakhir 41% diantaranya mem­peroleh antibiotik tanpa resep, termasuk dari apotek.

AMR membebani sis­tem kesehatan dengan me­­ngurangi efektivitas pengobatan, yang me­nye­babkan peningkatan waktu ra­wat pasien dan pening­katan biaya perawatan kesehatan, peningkatan morbiditas dan mortalitas, sehingga mutu dan keselamatan pasien menurun.

Di Indonesia, kejadian resistansi yang terus meningkar adalah tuberkulosis resistansi obat, dengan angka kematian 4-5 kali lebih tinggi dibandingkan kasus tuberkulosis sensitif obat. Resistansi obat juga terjadi kepada hewan, yai­tu ayam, babi, dan sapi yang membutuhkan pengawasan. (oza)