METRO BISNIS

Empat Pilar Kebangsaan Fondasi Menghadapi Tantangan Digital

0
×

Empat Pilar Kebangsaan Fondasi Menghadapi Tantangan Digital

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO–Empat Pilar Kebangsaan yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bineka Tunggal Ika, bukan sekadar slogan masa lalu, melainkan fondasi krusial menghadapi perubahan zaman yang kian dinamis.

Hal tersebut diungkapkan, Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Lisda Hendrajoni, saat Kegiatan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan sekaligus silaturahmi menjelang Ramadan di Kota Padang, Sabtu (7/2).

Lisda menilai, di tengah derasnya arus teknologi digital dan keterbukaan informasi, Bangsa Indonesia memerlukan pegangan nilai yang kokoh agar tidak kehilangan arah.

Ia menyebut Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika landasan utama dalam menjaga keadilan sosial dan demokrasi. Menurutnya, perkembangan teknologi bak dua sisi mata uang. Di satu sisi memberikan akses informasi luas, namun di sisi lain membawa tantangan digital yang serius seperti sebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial.

“Di sinilah Empat Pilar Kebangsaan berperan sebagai filter kebangsaan. Kekuatan dan kemajuan hanya bisa dicapai jika kita berdiri di atas nilai-nilai tersebut,” ujar Lisda.

Ia menekankan, literasi kebangsaan digital sangat krusial, terutama bagi generasi muda sebagai pengguna media sosial terbesar. Lisda mendorong kaum muda tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen konten positif dan pelopor literasi yang berbasis nilai kebangsaan.

Lisda juga menekankan pentingnya peran jurnalis dan pelaku usaha, menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital. “Jurnalis memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi yang berimbang dan mendidik, sementara pengusaha berkontribusi melalui praktik usaha yang beretika dan berkeadilan,” ujar Lisda.

Peran Perempuan Menjaga Nilai Kebangsaan

Dalam diskusinya, Lisda memberikan catatan khusus mengenai peran keluarga. Ia menilai keluarga, merupakan sekolah kebangsaan pertama. Di mana sosok ibu memegang peran strategis dalam memberikan bimbingan dan pengawasan terhadap aktivitas digital anak.

“Pendidikan karakter melalui keteladanan jauh lebih kuat daripada sekadar ceramah. Nilai kejujuran dan toleransi harus dimulai dari rumah,” tuturnya.

Selain keluarga, Lisda juga mengajak dunia pendidikan, tokoh masyarakat, dan organisasi sosial untuk menciptakan ruang dialog guna menjaga sinergitas. Ia mengingatkan para tokoh untuk memberikan teladan yang mengedepankan persatuan di atas kepentingan politik sesaat.

Lisda menegaskan, Empat Pilar Kebangsaan adalah jawaban untuk masa depan. Prinsip “berbeda tetapi bersatu, kritis tetapi beretika, serta bebas tetapi bertanggung jawab” harus menjadi napas dalam berpendapat di ruang digital.

Kegiatan ini turut dihadiri berbagai organisasi profesi dan sosial, di antaranya Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumbar, IPEMI Sumbar, Media Online Indonesia (MOI) Sumbar, serta para aktivis perempuan dan insan pers di Sumbar.

Ketua FJPI Sumbar, Nita Arifin menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Ia mengatakan, kegiatan ini memberikan perspektif baru bagi jurnalis perempuan dalam memahami Empat Pilar Kebangsaan sebagai landasan moral dan etika dalam menjalankan profesi jurnalistik.

“Pemahaman ini penting agar karya jurnalistik yang dihasilkan tidak hanya informatif, tetapi juga memperkuat nilai persatuan dan kebangsaan,” katanya.

Sementara itu, perwakilan pengusaha yang hadir dalam diskusi sore itu menilai sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan relevan dengan dunia usaha. Nilai-nilai Pancasila, seperti keadilan sosial dan kemanusiaan, dinilai dapat menjadi pedoman dalam menciptakan iklim usaha yang sehat dan berkelanjutan.(fan)