DHARMASRAYA, METRO—Keracunan massal yang diduga disebabkan menyantap hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Sumatra Barat (Sumbar). Kali ini, seratusan siswa SMAN 1 Sungai Rumbai, Kabupaten Dharmasraya, menjadi korban.
Hingga Rabu sore (4/2), jumlah korban keracunan usai menyantap MBG ini mencapai 127 orang. Mirisnya, selain mayoritas korbannya siswa SMAN 1 Sungai Rumbai, juga ada wanita hamil dan pegawai SPPG yang mengalami keracunan.
Para korban mengalami keluhan mual, muntah, diare, hingga demam, tak lama setelah menyantap makanan MBG yang dibagikan di lingkungan sekolah. Makanan MBG tersebut diketahui berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sang Surya.
Setelah mendapatkan penanganan medis, 118 orang sudah diperbolehkan pulang dengan status rawat jalan. Sementara itu, masih ada enam orang yang menjalani perawatan di klinik, RSUD Sungai Rumbai dan Puskesmas Koto Baru. Sisanya tiga orang dalam tahapan observasi di di Puskesmas Sei Rumbai.
Salah seorang wali murid, Murni (36) nama samaran, mengaku panik setelah mendapat kabar dari anaknya yang tengah dirawat di rumah sakit.
“Saya dihubungi anak saya, dia menyampaikan kondisinya dan sekarang sedang dirawat di RSUD Sungai Rumbai,” ujar Murni kepada POSMETRO, Rabu (4/2).
Murni menjelaskan, anaknya mulai merasakan gangguan kesehatan tidak lama setelah mengonsumsi makanan MBG di sekolah.
“Menurut keterangan anak saya, dia mengalami mual, muntah, dan diare setelah makan MBG di sekolah,” jelasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala SMAN 1 Sungai Rumbai, Rini Susila, belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan media ini melalui pesan WhatsApp terkait menu MBG yang disajikan serta jumlah pasti siswa SMAN 1 yang terdampak, belum mendapat respons meskipun yang bersangkutan terpantau dalam kondisi daring.
Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Dharmasraya yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas MBG, Jasman Rizal, menegaskan bahwa pemerintah daerah belum dapat memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut.
“Untuk sementara kita belum bisa menyimpulkan gangguan kesehatan berupa diare dan mual ini disebabkan oleh apa. Saat ini masih dilakukan pengecekan dan pengambilan sampel, apakah berasal dari makanan hari ini atau makanan kemarin,” ungkapJasman Rizal kepada wartawan.
Jasman menambahkan, Bupati Dharmasraya telah bergerak cepat dengan memimpin langsung rapat bersama Satgas MBG untuk menindaklanjuti kejadian tersebut.
“Ibu Bupati sudah memerintahkan Satgas MBG untuk melakukan investigasi menyeluruh. Seluruh sampel telah dikumpulkan dan diminta agar hasil laboratorium keluar dalam waktu 1×24 jam,” terangnya.
Berdasarkan pendalaman awal, ungkap Jasman, terdapat dugaan sementara bahwa gangguan kesehatan tersebut tidak berasal dari makanan MBG yang dibagikan pada hari kejadian, melainkan dari konsumsi makanan sebelumnya.
“Kepastian penyebab baru akan disampaikan setelah hasil pemeriksaan laboratorium resmi diterbitkan. Masyarakat diminta bersabar dan kasus ini pasti akan kita tindaklanjuti,” tutupnya.
Kasus ini langsung menyita perhatian publik, mengingat Program MBG merupakan program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan asupan gizi pelajar.
Dugaan keracunan massal ini pun memunculkan desakan agar pihak terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan pangan, pengawasan dapur penyedia MBG, serta distribusi makanan ke sekolah-sekolah. (dpr)






