LAGA Napoli kontra Chelsea dipastikan menjadi salah satu pertandingan paling krusial pada matchday terakhir fase liga Liga Champions musim ini. Duel dua raksasa Eropa tersebut akan berlangsung di Stadio Diego Armando Maradona, Kamis (29/1/2026) dini hari WIB, dengan tensi tinggi karena mempertaruhkan nasib kedua tim di kompetisi elite Eropa.
Bagi Napoli, pertandingan ini ibarat laga hidup-mati. Kekalahan hampir pasti membuat juara bertahan Serie A itu tersingkir lebih awal dari Liga Champions. Sementara Chelsea datang dengan misi tak kalah berat, yakni mengamankan kemenangan demi memastikan tiket lolos otomatis ke babak 16 besar tanpa harus melalui jalur play-off yang berisiko.
Ironisnya, Napoli justru berada dalam situasi sulit. Tim asuhan Antonio Conte terpuruk di peringkat ke-25 klasemen sementara fase liga, di luar zona aman. Kekalahan telak 0-3 dari Juventus di Serie A semakin memperpanjang periode sulit, sekaligus membuat Napoli tertinggal jauh dari Inter Milan dalam persaingan domestik.
Kondisi tersebut diperparah dengan kegagalan Napoli meraih kemenangan atas Copenhagen, meski lawan bermain dengan 10 orang. Hasil itu terasa pahit dan menambah tekanan jelang laga penentuan.
Meski demikian, Napoli masih menyimpan harapan besar dari faktor kandang. Stadion Diego Armando Maradona dikenal angker bagi tim tamu. Na—poli meraih tujuh poin dari tiga laga kandang Liga Champions musim ini dan memiliki catatan positif saat menjamu klub-klub asal Inggris di kompetisi Eropa.
Chelsea sendiri datang ke Naples dengan kepercayaan diri cukup baik. Kemenangan 3-1 atas Crystal Palace menjadi sinyal kebangkitan setelah performa yang naik-turun sejak pergantian pelatih. Di Liga Champions, performa The Blues terbilang stabil, meski satu catatan buruk masih menghantui: rekor tandang di Italia.
Dari 13 lawatan Eropa ke Italia, Chelsea hanya mampu meraih dua kemenangan dan menelan delapan kekalahan. Kekalahan 1-2 dari Atalanta pada Desember lalu menjadi bukti bahwa bermain di Italia selalu menghadirkan tantangan berat, terlebih di stadion seintimidatif Maradona.
Secara historis, pertemuan Napoli dan Chelsea selalu sarat cerita. Publik Naples tentu masih mengingat kemenangan 3-1 Napoli atas Chelsea pada musim 2011/2012, sebelum The Blues membalikkan keadaan di Stamford Bridge dan akhirnya keluar sebagai juara Liga Champions.
Kini, 14 tahun berselang, hampir semua elemen telah berubah. Tak satu pun pemain Chelsea saat ini menjadi bagian dari skuad juara tersebut. Bahkan Antonio Conte, yang kala itu belum terlibat, kini berdiri di kubu Napoli menghadapi mantan klub yang pernah ia antarkan menjuarai Premier League 2017 dan Piala FA 2018, sebelum berpisah dengan kisah pahit.
Dari sisi skuad, Napoli mendapat angin segar dengan kembalinya Romelu Lukaku, meski penyerang Belgia itu diprediksi memulai laga dari bangku cadangan. Rasmus Højlund berpeluang menjadi ujung tombak utama. Sorotan juga tertuju pada Scott McTominay, pencetak empat dari tujuh gol Napoli di Liga Champions musim ini, yang berpotensi menjadi pembeda dari lini kedua.
Namun Napoli harus menghadapi kenyataan pahit dengan banyaknya pemain cedera, termasuk Kevin De Bruyne, Frank Anguissa, Matteo Politano, dan Amir Rrahmani.
Chelsea pun tidak sepenuhnya dalam kondisi ideal. Cole Palmer diragukan tampil akibat masalah pada paha. Di lini tengah, Moises Caicedo dan Andrey Santos menjadi tumpuan, sementara Joao Pedro tetap diandalkan di lini depan meski produktivitasnya di Eropa belum setajam di Premier League.
Dengan tekanan besar, sejarah panjang, serta kepentingan vital di papan klasemen, laga Napoli versus Chelsea dipastikan lebih dari sekadar pertandingan penutup fase liga. Ini adalah duel harga diri, masa depan, dan ambisi dua kekuatan besar Eropa. (*/rom)






