PAYAKUMBUH, METRO–Di balik etalase kaca yang memamerkan Brownies Burnt Cheese Cake yang sedang naik daun, ada sebuah cerita tentang keteguhan yang melampaui sekadar bisnis. Ini adalah kisah Dinda Denura (25), sosok muda yang membuktikan bahwa sukses bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa kuat kita bertahan setelah jatuh bangun.
Dinda bukanlah pemain baru dalam dunia niaga. Sejak berseragam sekolah, jemari kecilnya sudah terbiasa menjajakan apa saja, mulai dari perabotan rumah tangga, produk kecantikan, hingga ayam geprek saat pandemi melanda.
Kehilangan sang Ibunda 15 tahun silam memaksa Dinda dewasa sebelum waktunya. Di saat teman sebaya bermanja, Dinda justru sibuk di dapur, bereksperimen dengan resep untuk mengisi sunyi rumahnya, sementara Ayah dan kakaknya berjuang di kehidupannya masing-masing. Kesendirian itulah yang menuntunnya mengambil jurusan Tata Boga, sebuah langkah awal yang mengasah bakat alaminya menjadi keahlian yang mumpuni.
Dinda tak pernah setengah-setengah. Ia menempa ilmu di Balai Latihan Kerja (BLK) Payakumbuh, menjadi tangan kanan dosen di Unit Produksi, hingga melanglang buana mencari pengalaman di dapur-dapur hotel berbintang, mulai dari The Balcone Hotel di Bukittinggi hingga Santika Premiere di Padang.
Namun, sejauh apa pun ia merantau, hatinya selalu memanggilnya pulang ke usaha kecil yang dulu sempat ia “abaikan” karena kesibukan kerja. Kini, melalui Buttermilk Cakes & Dessert, Dinda memutuskan untuk berhenti berlari dan mulai menanam akar. “Orderanku tidak selalu ramai, terkadang sunyi. Namun, setiap ada barang baru yang datang, sekecil apa pun itu, saya selalu berbisik. Bismillah dan Alhamdulillah,”ungkap Dinda dengan suara bergetar namun penuh ketegaran saat ditemui di tepian Batang Agam, Minggu (25/1).
Keberhasilan Buttermilk bukan sekadar hasil dari teknik pastry yang canggih. Bagi Dinda, bahan baku utamanya adalah restu langit.
“Menjalankan usaha ini tidak cukup dengan skill. Di ujung sajadah, saya selalu menitipkan doa untuk Ibunda. Saya ingin beliau tahu di surga sana, bahwa putrinya sangat gigih, hebat, dan berani walau tanpa pelukannya,” ucapnya lirih.
Dukungan tak terbatas dari sang Ayah serta ketiga kakaknya, Wulan, Bayu, dan Aditya Denura, menjadi napas bagi Dinda untuk tetap optimis. Baginya, Buttermilk adalah monumen cinta keluarga yang berdiri tegak di tengah pasang surut kehidupan.
Dinda adalah tipe pengusaha yang tak segan mengotori tangan. Kedisiplinannya dimulai saat fajar menyingsing. Usai salat Subuh, sebelum matahari menyentuh bumi, ia sudah berjibaku dengan adonan. (uus)






