WAKTU terus bergulir. Insan olahraga Sumatera Barat bergerak sigap, bagaikan pelari jarak pendek, langsung melesatkan seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Tak sekadar menatap masa depan, tetapi langsung menyusun langkah menyongsong perputaran waktu. Tujuannya jelas, mewujudkan impian menjadi nyata.
Tulisan saya di POSMETRO PADANG dan di online posmetropadang.co.id, Rabu 14 Januari 2026, berjudul; Porprov 2026 Sumbar: Antara Dilema dan Realita, menyoroti persoalan menghadapi Porprov 2026. Kurang sepekan sejak naskah itu dipublis, ada pergerakan yang sangat signifikan. Saya memberikan apresiasi dan rasa hormat setinggi-tingginya kepada semua pemangku kepentingan olahraga di Sumatera Barat.
Pada tulisan awal, saya mencermati dinamika yang terjadi. Ada 12 daerah menyatakan siap mengikuti Porprov, tujuh daerah tidak siap. Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Pasaman Barat, Kabupaten Limapuluh Kota, dan Kota Pariaman menyatakan tidak ada anggaran karena tidak dianggarkan pada RKPD 2026.
Beberapa hal menjadi pertanyaan dalam tulisan tersebut, mengapa tujuh daerah tersebut tidak memasukkan ke dalam RKPD 2026, lalu mengapa 12 daerah lainnya bisa menganggarkan? Banyak kemungkinan atau alasan yang bisa apungkan.
Kalau hanya mengapungkan alasan, tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Ada sejumlah opsi yang ditawarkan pada tulisan tersebut. Diantara opsi tersebut; Pertama; Gubernur atau dinas instansi yang bersentuhan langsung dengan penganggaran, KONI Provinsi, Bupati/Walikota, KONI Kab/KONI duduk bersama untuk mendudukkan dan menyelesaikan secara regulasi. Kedua; dilaksanakan dengan anggaran perubahan.
Lima hari berselang, sebuah informasi sangat mengembirakan dunia olahraga adalah; 15 daerah sudah mendaftar ikut Porprov ke-16 Sumbar, tahun 2026. Cabor yang akan dipertandingkan sebanyak 43 cabang.
Kata Ketua Umum KONI Sumatera Barat Hamdanus, jumlah peserta dan cabang masih dinamis. Finalisasinya ditetapkan melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Porprov yang direncanakan digelar awal Februari 2026, di Padang.
Diantara tujuh daerah yang belum ada kepastian, saat tulisan saya terdahulu dipublis, kini justru tiga sudah memutuskan untuk ikut. Tersisa empat daerah yang masih terus berjuang dengan dinamika yang ada. Keempat daerah tersebut; Kota Pariaman, Kota Padang Panjang, Kota Bukittinggi dan Kabupaten Tanah Datar.
Selain ikut Porprov, Kabupaten Pesisir Selatan, Kepulauan Mentawai, Kota Sawahlunto, Kabupaten Solok, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Solok menyampaikan minat menjadi tuan rumah.
Perkembangan ini tentu menjadi kabar gembira bagi insan olahraga, teruma atlet, pelatih, pembina dan orang tua. Inilah momentum besar bagi semuanya menunjukkan capaian dari latihan yang sudah diberikan selama ini.
Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat terdiam, ketika seorang atlet datang dan curhat. Disaat Porprov Sumbar, tahun 2018, usianya memasuki 14 tahun, masih terlalu muda bertarung di arena. Rata-rata usia yang tampil rentang 16 – 18 tahun. Ketika itu, Ia mempersiapkan diri, dua atau empat tahun lagi akan tampil. Rencana itu gagal. Porprov ditiadakan karena alasan Pandemi Covid-19.
Ketika ada rencana diadakan tahun 2023, dirinya membayangkan, masih ada peluang, diusianya jelang 20 tahun. Ia kemudian mengubur impian karena tahun dua tahun kemudian, ajang yang dinantikan tak kunjung terlaksana.
“Juli nanti baru akan diadakan, sayangnya, Om,” katanya.
Sayang, dirinya akan tergolong “tua” jika memaksakan diri tampil lantaran cabang yang digelutinya memiliki batasan usia.
“Sayangnya usia sudah melewati batas maksimal,” katanya lagi sembari menyebutkan, sebagai seorang atlet, berlaga di Porprov akan menjadi pengalaman dan dinamika tersendiri untuk bertarung di arena multi-iven. Ia berharap, semoga kelak Porprov akan terus berkesinambungan.
Kini harapan baru sudah terbentang di depan mata. Porprov 2026 tetap direncanakan sesuai jadwal, Juni – Juli 2026. Ada hal menarik. Pertama, capaian Poprov 2026 memiliki momentum untuk diuji ke tingkat yang lebih tinggi. Akhir Juli – Agustus 2026, ada hajatan PON Beladiri di Manado. Mempertandingkan delapan cabang olahraga.
Tahun depan ada Porwil di Kepri, juga akan disertai dengan Kejurnas/Pra PON, sehingga capaian dan hasil di Porprov 2026 akan bisa menjadi titik dasar persiapan kontingen dimasa depan. Sekiranya ada daerah yang tidak ikut pada Porprov kali ini, hendaknya seluruh komponen berkepentingan di olahraga, berlapang dadalah memberikan ruang kepada atlet daerah tersebut untuk bisa ikut. Bukan tidak mungkin pelatih atau Pengcab dan orang tua mau membiayai mereka. Mereka diperkenankan tetap membawa nama daerahnya, atau menumpang ke daerah lain, tentu saja dengan regulasi yang disepakati. Jangan abaikan waktu dan kesempatan mereka untuk membuktikan diri di arena! (*)






