ATMOSFER panas khas Eropa dipastikan menyelimuti Stade Velodrome saat Olympique Marseille menjamu Liverpool dalam lanjutan Liga Champions UEFA 2025–26, Kamis (22/1) pukul 03.00 WIB. Laga ini diprediksi berlangsung sengit karena kedua tim sama-sama membidik tiket lolos otomatis ke babak 16 besar.
Antusiasme pendukung tuan rumah mencapai puncaknya, mengingat duel ini berpotensi menjadi penentu arah perjalanan Marseille dan Liverpool di kompetisi elite Eropa musim ini. Marseille datang dengan kepercayaan diri tinggi, membawa misi meraih kemenangan ketiga secara beruntun di Liga Champions.
Les Phoceens tengah berada dalam tren positif. Kemenangan telak 5-2 atas Angers di Ligue 1 mengangkat Marseille ke posisi tiga besar klasemen domestik sekaligus menegaskan ketajaman lini serang mereka. Sepanjang awal 2026, klub asal Prancis itu telah mencetak 14 gol di semua kompetisi, termasuk kemenangan mencolok 9-0 atas Bayeux di ajang Coupe de France.
Di Liga Champions, performa Marseille memang belum sepenuhnya stabil. Meski sukses menumbangkan Ajax, Newcastle United, dan Union Saint-Gilloise—termasuk kemenangan dua gol lewat Mason Greenwood—mereka juga sempat menelan kekalahan dari Sporting CP, Atalanta BC, dan Real Madrid. Namun, konsistensi di kompetisi domestik menjadi modal penting untuk kembali bangkit di panggung Eropa.
Sementara itu, Liverpool menjadikan Liga Champions sebagai ajang pembuktian di tengah performa domestik yang belum meyakinkan. Tim asuhan Arne Slot datang ke Marseille dengan catatan tak terkalahkan dalam 12 pertandingan terakhir di semua kompetisi, meski hanya mampu meraih enam kemenangan dalam periode tersebut.
Hasil imbang 1-1 melawan Burnley pada akhir pekan lalu kembali menyoroti masalah klasik The Reds, yakni tumpulnya penyelesaian akhir. Bahkan, performa tandang Liverpool menjadi sorotan karena mereka belum meraih kemenangan di luar Anfield sejak menundukkan Tottenham pada 20 Desember lalu.
Meski demikian, Liverpool kerap menunjukkan wajah berbeda di kompetisi Eropa. Kemenangan impresif atas Real Madrid dan Eintracht Frankfurt menjadi bukti bahwa pengalaman serta mental bertanding mereka masih menjadi ancaman serius bagi lawan mana pun.
Secara historis, Liverpool memiliki catatan lebih baik atas Marseille. Kedua tim terakhir kali bertemu di Liga Champions pada musim 2008–2009, di mana Liverpool menyapu bersih dua kemenangan—2-1 di Velodrome dan 1-0 di Anfield di bawah arahan Rafael Benitez. Marseille sendiri terakhir kali menaklukkan Liverpool di kandang terjadi pada 2004 silam.
Kini, kedua tim kembali dipertemukan dengan kepentingan yang sama kuat. Marseille berada di posisi ke-16 fase liga, sementara Liverpool menempati peringkat ke-9 dengan selisih tiga poin. Keduanya masih dibayangi inkonsistensi, namun juga memiliki potensi besar untuk meledak kapan saja.
Dengan karakter permainan menyerang dari Marseille di bawah racikan Roberto De Zerbi dan kecepatan serangan balik Liverpool, laga ini diprediksi berjalan terbuka, sarat duel intensitas tinggi, serta menghadirkan banyak peluang. Liverpool dituntut tampil lebih klinis, sementara Marseille harus menjaga disiplin lini belakang jika tak ingin celah pertahanan mereka dieksploitasi.
Velodrome siap menyajikan drama Eropa klasik. Marseille dan Liverpool sama-sama membutuhkan poin, dan duel ini berpeluang menjadi salah satu pertandingan paling menghibur di pekan Liga Champions. (*/rom)






