BUKITTINGGI, METRO -Guna mensinergikan program Sub-Sub Recipient (SSR) TB HIV Care dengan program kesehatan, Perwakilan Pengurus Daerah ‘Aisyiyah bertemu Walikota Bukittinggi, Jumat (3/4). Perwakilan Aisyiah itu antara lain Dr Endriyenti dengan wali kota untuk membicarakan menekan angka penyakit TBC yang ada di Kota Jam Gadang ini. Karena angka penderita TB dari data di Bukittinggi cukup besar, mencapai 456 orang.
Endriyenti mengatakan, program SSR TB HIV Care merupakan program kerja sama yang ada di tingkat Pimpinan Pusat (PP)Aisyiyah dengan Global Fund kemudian diturunkan hingga tingkat daerah, di Kota Bukittinggi. Salah satunya melalui Program Penanggulangan Tuberculosis (TB), Aisyiyah berupaya dengan berperan serta dalam pembangunan kesehatan di Indonesia dan pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) No. 6, yakni penurunan angka penyebaran penyakit menular.
Sebagai amanat Muktamar dan Tanwir Aisyiyah, upaya penanggulangan TB ini dilakukan baik di daerah yang mendapatkan dukungan dari lembaga donor maupun secara mandiri. Karenanya program Penanggulangan TB (Community TB Care) ‘Aisyiyah terus dikembangkan di 33 provinsi di Indonesia. Untuk provinsi Sumbar ada di empat Kota, Bukittinggi, Padang, Solok dan Padangpariaman.
Program ini untuk memerangi penyakit Tuberculosis yang difokuskan pada kegiatan berbasis masyarakat, yang dikelola Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. ‘Aisyiyah bertanggungjawab untuk mengkoordinasikan kegiatan di 160 kabupaten dan kota. Lewat SSR nya, bertugas menemukan penderita TB dan mendampinginya hingga sembuh.
Endriyenti bertemu dengan Walikota Bukittinggi, sesuai instruksi Pimwil agar program yang akan berakhir pada 2020 itu dapat menggandeng Pemko dan bersinergi dengan program TB di Kota Bukittinggi dan tetap terus berjalan. Program ini membutuhkan dukungan dari semua elemen sehingga tujuan dapat tercapai. Sekaligus memperingati Hari TBC Sedunia,24 Maret.
Tanggal 2 Mei lalu, telah dilakukan Seminar Kesehatan di UMSB Bukittinggi, sekaligus penanda tanganan MoU dengan Fakultas Kesehatan dan MIPA UMSB. Juga dilakukan penanda tanganan deklarasi anti TBC di hari yang sama antara SSR TB HIV Aisyiah Bukittinggi, Dekan UMSB, Ketua GKM, perwakilan dosen dan ratusan mahasiswa dan kader TB Aisyiah serta LSM yang ada di Bukittinggi berikut pasien suporter dan mantan pasien.
Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias berterima kasih pada ‘Aisyiah dengan program SSR TB HIV Care. Karena telah ikut memikirkan persoalan yang terjadi di Bukittinggi, sekaligus ikut serta mencarikan jalan keluar dan solusinya.
Angka penderita TB dari data di Bukittinggi cukup besar, mencapai 456 orang. Tapi setelah data dicroscek ternyata penderita yang tercatat itu terbanyak dari penderita asal luar Kota Bukittinggi yang kebetulan berobat ke Kota Bukittinggi.
Kata Ramlan, dari Pemko sudah punya banyak program berkaitan dengan penanggulangan dan pencegahan TB ini. Seperti penyuluhan, baik di puskesmas, posyandu, Kader PKK dan lain-lain. Pemko tegas Ramlan, tidak ingin menutup-nutupi jika memang ada masalah, tapi fokus bagaimana cara mengatasi persoalan itu dan mencarikan solusinya. Salah satunya lewat materi kesehatan dari Sekolah Keluarga.
Ramlan melihat, semua usaha mengatasi persoalan negatif kuncinya ada pada keluarga. Jika diperkokoh keluarga, maka generasi penerus yang produktif menuju bonus demografi akan akan didapatkan. Langkah penanggulangan TB saat ini adalah menemukan penderita TB, mengajaknya berobat dan mendampinginya sampai sembuh.
”Kita harus meyakinkan masyarakat agar mau diobati penyakit TB nya. Kedepan menurut Ramlan tidak tertutup kemungkinan diadakan kerjasama dengan ‘Aisyiah sekaitan pemberantasan TB ini,” ujarnya. (u)





