SAWAHLUNTO/SIJUNJUNG

Pembinaan bagi Warga Binaan Napi di Lapas Narkotika Kandi, Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Sumbar Resmikan Jemari Jeruji Batik Tangsi

1
×

Pembinaan bagi Warga Binaan Napi di Lapas Narkotika Kandi, Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Sumbar Resmikan Jemari Jeruji Batik Tangsi

Sebarkan artikel ini
PERESMIAN PROGRAM WARGA BINAAN—Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Barat Kundrat Kasmiri, memberikan keterangan pers usai meresmikan program Jemari Jeruji Batik Tangsi di Lapas Narkotika Kandi.

SAWAHLUNTO, METRO–Kepala Kantor Wi­la­yah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Barat Kundrat Kasmiri, A.Md.Ip., S.Sos., M.AP., meresmikan program Jemari Jeruji Batik Tangsi, yang dilaksanakan di aula produksi batik tangsi di Lapas Narkotika Kandi Sawahlunto, Selasa (6/1) pukul 14.30 wib.

Kepala Lapas Narkotika Kandi Sawahlunto Res­sy Setiawan yang langsung mendampingi Kakanwil Ditjen Pema­sya­rakatan Sumatera Barat menjelaskan terkait

Jemari Jeruji, yang merupakan program pem­­binaan bagi warga binaan Napi di Lapas Narkotika Kandi. Saat ini di fokuskan kepada produksi Batik Tangsi yang inspiratif motifnya diambil dari sejarah panjang Kota Sawahlunto pada masa penjajahan.  “Motifnya  bentuk jeruji besi dan kawat berduri yang menjadi simbol masa kolonial, tekstur kota tambang batu bara, loko Mak Itam hingga ornamen budaya Minangkabau,” ujar Ressy Setiawan

Dan saat ini Pemko Sawahlunto memberikan dukungan penuh terhadap brand Batik Tangsi. Karena erat kaitannya dengan Wisata tambang dan berbudaya, dimana Kota Sa­wahlunto masuk dalam UNESCO sebagai WTBOS.

“Karya-karya dari warga binaan ini sudah ditampilkan di pameran batik baik tingkat Kota dan ting­kat Provinsi, juga telah dipasarkan secara online. Sangat menjanjikan dilihat dari cukup banyak peminatnya,” ujar Ressy.

Dalam kunjungannya Kakanwil Ditjen Pema­syarakatan Sumbar Kunran kasmiri menyebutkan Jemari Jeruji  batik tangsi merupakan program UM­KN bagi warga binaan. Diharapkan akan memberikan stigma positif, memberikan ruang untuk ber­kreatifitas dan menghasilkan produk yang bernilai ekonomis, memberikan skill dan keahlian yang akan menjadikan bekal bagi warga binaan pasca keluar dari Lapas Narkotika Kandi Sawahlunto.

Di samping itu untuk mengangkat kearifan lo­kal, tidak hanya memproduksi batik, namun didalam motifnya juga terkandung nilai-nilai sejarah.

“Tangsi historisnya di zaman penjajahan Belanda artinya penjara. Sesuai dengan itu batik tangsi pun diproduksi oleh ta­ngan-tangan terampil war­ga binaan Lapas Narkotika. Ini patut diapresiasi dan sangat luar biasa. Ke depannya pemasaran batik tangsi akan diperluas dan diperkenalkan secara nasional. Agar batik tangsi menjadi ikon positif dan bernilai ekonomis juga bisa merubah pandangan masyarakat tentang warga binaan,” katanya.

Dan dari pertemuan dengan Walikota Sawahlunto Riyanda Putra juga sudah diusulkan batik tang­si dari Lapas Narkotika Kandi Sawahlunto masuk dalam museum sejarah masyarakat Sumatera Barat. Telah mendapatkan respon positif dari Gubernur Sumbar Mahyeldi. Dari Ditjen Pemasyarakatan Sumbar juga akan memberikan support untuk perkembangan batik tangsi. (pin)