LIMAPULUH KOTA, METRO –Sinkhole atau lubang runtuh yang muncul tiba-tiba dalam sawah di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, sejak Minggu lalu (4/1), masih mengeluarkan air. Secara kasat mata dan difoto dengan kamera, air tersebut seperti berwarna biru. Tapi saat diambil justru sangat bening dan jernih sekali.
Sepasang suami-istri yang datang ke lokasi sinkhole pada Selasa siang (6/1), meminta bantuan kepada anggota Linmas Situjuah Batua, Defi Guswanto, mengambil air di dalam sinkhole, menggunakan bekas kotak air mineral. Setelah diambil, air yang tampak jernih dan bening mereka minum di hadapan pengunjung lain. Sesaat sebelumnya, Kepala Bidang Geologi di Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, Inzuddin, juga terpantau melihat air yang keluar dari dalam sinkhole. Inzuddin melihat sinkhole itu bersama Kepala Jorong Tepi, Salmi, dan TNI-Polri yang setiap hari berjaga di lokasi.
“Sudah kita lihat tadi, air dalam sinkhole bening dan bersih. Mungkin warna biru karena pengaruh cahaya dari atas,” kata Kabid Geologi Dinas ESDM Sumbar, Inzuddin, kepada anggota DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, ditemani Danpos TNI Situjuah Limo Nagari, Peltu Wahidi.
Sebelumnya, anggota DPRD M. Fajar Rillah Vesky, meminta BPBD Limapuluh Kota, menyurati Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian ESDM, untuk meneliti sinchole di Situjuah Batua. “Sehingga dengan kajian dari ahli, pemda bisa beri solusi dan ambil langkah antisipatif. Supaya warga tak cemas dan tak muncul spekulasi liar,” kata Fajar Vesky.
Merespons ini, Sekda Limapuluh Kota Herman Azmar selaku Kepala Ex Officio BPBD Limapuluh Kota, sudah bersurat kepada Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi, Badan Geologi Kementerian ESDM. Dalam surat yang dibuat Senin (5/6), Pemda Limapuluh Kota meminta kajian teknik dan rekomendasi geologi teknik, untuk penanganan sinkhole di Situjuah Batua.
Surat dari Pemda Limapuluh Kota sudah diterima Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria. Bahkan, Badan Geologi sudah menyampaikan tanggapan lewat website resmi (https://geologi.esdm.go.id/media-center/tinjauan-geologi-teknik-kejadian-sinkhole-di-jorong-tanah-tepi-nagari-situjuah-batua-) dan akun media sosial Badan Geologi, Selasa (6/1).
Dalam tanggapannya, Badan Geologi Kementerian ESDM menulis, fenomena sinkhole pada umumnya terjadi pada batugamping. Namun, sinkhole di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Situjuah Batua, bukan terjadi pada endapan batuan vulkanik, melainkan karena proses erosi buluh.
Badan Geologi menjelaskan, erosi buluh adalah proses pengikisan tanah oleh aliran air bawah permukaan yang membentuk saluran pipa. Ada lima faktor penyebab erosi buluh. Pertama jenis batuan: mineral lempung: batuan berstruktur halus. Kedua, intensitas curah hujan, tinggi.
Ketiga, proses kejadian terbentuk rekahan secara perlahan yang menjadi jalur aliran air bawah tanah. Keempat, tataguna lahan, pertanian intensif, sistem irigasi buruk, dan alihfungsi lahan. Kelima, graudien hidraulik air tanah.
Berdasarkan analisis Badan Geologi, kejadian amblesan atau fenomena sinkhole di Situjuah Batua, diawali oleh terbentuknya rekahan pada permukaan lapukan batuan tuff, dengan alas batu gamping malihan yang kedap air (impermeable). Rekahan ini berfungsi sebagai media masuknya air ke dalam tanah.
Air yang mengalir pada rekahan tanah tersebut memicu terjadinya proses erosi buluh. Akibat erosi buluh terbentuk rongga di bawah tanah, yang diikuti dengan runtuhnya tanah permukaan dan membentuk sinkhole (analisis Badan Geologi, 2026).
Kesimpulannya, Badan Geologi menyatakan, fenomena alam sinkhole di kawasan Pertanian Pombatan, Situjuah Batua, terjadi karena proses erosi buluh dan tidak terjadi secara mendadak. Proses ini terjadi pada batuan berbutir halus dengan intensitas hujan tinggi. Proses pembentukan sinkhole ini berbeda dengan proses pembentukan sinkhole pada batu gamping.
Berdasarkan kesimpulan ini. Badan Geologi, Kementerian ESDM menyampaikan tiga rekomendasi. Pertama, lubang yang terbentuk pada sinkhole dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan air dengan membuat pagar pengaman di sekitar lubang.
Rekomendasi kedua, peristiwa seperti ini berpotensi terjadi pada lokasi lain pada lahan pertanian sekitarnya. Bila mulai terbentuk retak dan rekahan yang membesar, masyarakat agar melakukan pemantauan dan melaporkan kepada aparat setempat untuk berkoordinasi dengan instansi yang berwenang. Rekomendasi ketiga, masyarakat diimbau tetap tenang, bila terdengar suara gemuruh dari permukaan tanah. (uus)
















