BUKITTINGGI, METRO–Cuaca ekstrem disertai bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat turut berdampak pada sektor pariwisata. Salah satu kawasan yang merasakan imbas cukup besar adalah objek wisata Ngarai Sianok di Kota Bukittinggi.
Penurunan jumlah wisatawan mulai terasa sejak lebih dari satu bulan terakhir, seiring tingginya intensitas hujan yang terjadi secara berkelanjutan. Kondisi ini membuat aktivitas wisata di kawasan tersebut nyaris terhenti.
“Dampaknya pengunjung tidak ada, tidak ada pemasukan. Puncaknya saat musim hujan yang berlangsung sejak 1,5 bulan ke belakang membuat tingkat kunjungan menurun,” ujar Rahmat, salah seorang pelaku ekonomi wisata di kawasan Ngarai Sianok, Senin (5/1).
Ia menuturkan, pada kondisi normal, terutama saat akhir pekan maupun libur akhir tahun, kawasan Ngarai Sianok biasanya dipadati wisatawan lokal maupun luar daerah. Namun situasi tersebut kini jauh berbeda.
“Biasanya kalau Sabtu dan Minggu atau libur akhir tahun sangat ramai. Sekarang beberapa wahana wisata yang ada di sekitar Ngarai Sianok ini seperti rental benen, mobil off-road, dan tracking ke Ngarai Kaluang tidak ada kunjungan wisatawan,” ungkapnya.
Selain cuaca, kondisi lingkungan juga menjadi faktor penurunan minat kunjungan. Rahmat menyebut, aliran sungai yang keruh akibat longsoran tebing serta banyaknya batang kayu hanyut membuat sejumlah aktivitas wisata air tidak bisa dijalankan.
“Ada juga musala dan bangunan warung yang kini runtuh ke sungai karena hujan deras yang berlangsung di akhir tahun kemarin,” kata Rahmat yang juga mengelola wisata river tubing di kawasan tersebut.
Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk membantu pelaku wisata yang terdampak, baik melalui perbaikan infrastruktur maupun solusi jangka pendek untuk menopang perekonomian masyarakat setempat.
“Semoga kawasan ini segera diperbaiki dan fasilitas yang rusak bisa dibenahi. Ngarai Sianok sudah jadi legenda wisata sejak dulu, jangan dibiarkan sepi,” pungkasnya. (pry)
















