KEPUTUSAN besar kembali diambil Chelsea, dan sekali lagi memantik kontroversi besar. Klub asal London Barat itu resmi memecat Enzo Maresca meski musim belum benar-benar keluar jalur.
Hanya dua kemenangan liga dari tujuh laga terakhir menjadi faktor penentu. Dari situlah, masa depan Maresca akhirnya berakhir lebih cepat dari rencana.
Pemecatan tersebut langsung memunculkan tanda tanya besar di kalangan publik sepak bola. Pasalnya, Chelsea masih berada di papan atas Liga Inggris dan bertahan di sejumlah kompetisi penting. Mereka masih berada di Liga Champions dan menempati posisi kelima klasemen sementara Liga Inggris.
Manajemen klub berdalih langkah ini diambil demi menjaga ambisi bersaing di level tertinggi. Namun, alasan itu justru dinilai tak sejalan dengan situasi tim yang relatif stabil.
Tak butuh waktu lama, keputusan ini pun memicu reaksi berantai dari para netizen, termasuk dari pendukung The Blues sendiri. Sebutan Chelsea sebagai klub dengan manajemen terburuk akhirnya mencuat ke permukaan.
Situasi inilah yang kemudian memancing komentar tajam dari mantan pemain Chelsea, Pat Nevin.
Pat Nevin menilai pemecatan Enzo Maresca bukan sekadar soal hasil di lapangan. Ia melihat ada gambaran lebih besar tentang tipe pelatih yang sebenarnya diinginkan manajemen Chelsea.
Menurut Nevin, The Blues menginginkan sosok yang sepenuhnya mengikuti arahan klub. Pelatih ideal versi manajemen dinilai bukan figur yang banyak berdebat atau menentang keputusan di atas.
Chelsea disebut memiliki metodologi dan rencana jangka panjang yang ingin dijalankan secara ketat. Dalam situasi seperti itu, ruang independensi pelatih dianggap sangat terbatas.
“Chelsea membutuhkan seseorang yang akan mengikuti metodologi tersebut. Dengan kata lain, mereka membutuhkan boneka. Seseorang yang melakukan persis apa yang diperintahkan dari atas,” klaimnya pada BBC.
Kontradiksi Besar Chelsea
Meski memahami ambisi Chelsea, Nevin menilai ada kontradiksi besar dalam keinginan klub. Ia melihat tuntutan hasil instan sulit berjalan seiring dengan keinginan mengontrol penuh pelatih.
Chelsea ingin tetap konsisten finis di papan atas dan lolos ke Liga Champions setiap musim. Namun pada saat yang sama, mereka juga ingin pelatih yang sepenuhnya tunduk pada instruksi manajemen.
Menurut Nevin, dua tujuan itu berpotensi saling bertabrakan di level tertinggi sepak bola. Pelatih yang hanya mengikuti perintah belum tentu mampu membawa kesuksesan berkelanjutan.
“Chelsea menginginkan kesuksesan. Mereka menginginkan poin untuk masuk empat atau lima besar dan lolos ke Liga Champions setiap musim. Tetapi mereka menginginkan sesuatu yang lain. Mereka menginginkan seseorang yang akan melakukan apa yang mereka perintahkan. Kedua hal itu mungkin tidak kompatibel,” tegasnya.
Liam Rosenior Muncul sebagai Kandidat Pengganti
Usai memecat Maresca, Chelsea langsung dikaitkan dengan sejumlah nama pelatih baru. Salah satu yang paling sering disebut adalah pelatih Strasbourg, Liam Rosenior.
Pelatih berusia 41 tahun itu dinilai punya pendekatan modern dan progresif. Gaya melatihnya dianggap selaras dengan arah proyek jangka panjang Chelsea.
Selain Rosenior, nama Roberto De Zerbi juga sempat masuk radar. Namun, Chelsea disebut tidak terlalu tertarik mengejar pelatih Marseille tersebut karena berbagai pertimbangan.
Situasi ini membuat Rosenior terlihat sebagai kandidat terdepan. Meski begitu, statusnya yang minim pengalaman di level elite memicu perdebatan. (*/ren)













