LIVERPOOL memulai tahun 2026 dengan hasil yang jauh dari kata memuaskan di Anfield. Sang juara bertahan Premier League itu ditahan imbang tanpa gol oleh Leeds United, Jumat (2/1) dini hari WIB.
Bukan sekadar skor kacamata yang menjadi sorotan utama dalam laga awal tahun ini. Performa pasukan Arne Slot dinilai sangat tumpul dan kehilangan identitas menyerang mereka.
Statistik mencatat dominasi semu tuan rumah. Sepanjang 90 menit, tuan rumah tampil mendominasi dengan penguasaan bola mencapai 68% dan melepaskan 19 tembakan. Namun, disiplin tinggi yang ditunjukkan barisan pertahanan Leeds berhasil menggagalkan seluruh upaya serangan Liverpool.
Tidak ada satupun gol tercipta meskipun The Reds berkali-kali mendapatkan peluang berbahaya. Tim tamu konsisten menjaga formasi dan kedalaman lini belakang untuk memastikan mereka membawa pulang satu angka berharga.
Hasil seri ini membuat Liverpool masih bertengger di posisi keempat klasemen sementara dengan mengumpulkan 33 poin dari 19 pertandingan. Sementara itu, Leeds United tetap berada di urutan ke-16 dengan perolehan 21 poin.
Suara cemoohan terdengar sayup-sayup dari tribun The Kop saat peluit panjang dibunyikan wasit. Ini menjadi sinyal peringatan nyata bagi Arne Slot untuk segera berbenah.
Hasil imbang tanpa gol ini juga menjadi catatan langka dalam 84 pertandingan Arne Slot menukangi Liverpool di Anfield. Biasanya, laga kandang selalu menjanjikan pesta gol bagi tuan rumah.
Namun kali ini, permainan Liverpool terasa lambat dan miskin ide. Mereka kesulitan menembus tembok tebal pertahanan tim tamu yang bermain sangat disiplin.
Suara cemoohan yang terdengar di akhir laga menjadi sinyal bahaya bagi Slot. Pendukung setia mulai kehilangan kesabaran melihat tim kesayangannya tampil tanpa gairah.
Dengan jadwal berat melawan Fulham dan Arsenal menanti, hasil ini jelas bukan modal yang baik untuk memulai paruh kedua musim.
Masalah Liverpool sebenarnya mencerminkan tren yang lebih luas di Premier League saat ini. Banyak tim mulai beralih ke gaya pragmatis yang mengutamakan hasil akhir.
Tim-tim elit seperti Manchester City dan Arsenal pun mulai kesulitan memainkan sepak bola indah yang ekspansif. Blok rendah dan serangan balik cepat menjadi senjata ampuh untuk meredam dominasi tim besar.
Liverpool tampaknya menjadi korban paling nyata dari pergeseran tren ini. Mereka kesulitan beradaptasi dengan lawan yang bermain ultra-defensif dan hanya mengandalkan bola mati.
Pertanyaannya kini, apakah gaya main Liverpool tiga atau empat tahun lalu masih relevan di era sepak bola modern yang semakin pragmatis? (*/ren)
















