Kapolsek Tanjung Raya AKP Muzakar, material longsoran menutup alur sungai sehingga air meluap ke jalur lain dan mengarah ke kawasan Pasar Maninjau atau Simpang Maninjau. Akibatnya, sejumlah rumah warga terdampak dan mengalami kerusakan.
“Meski hujan tidak turun, banjir bandang tetap terjadi. Kondisi ini membuat warga diminta untuk selalu waspada, karena potensi longsor susulan masih tinggi. Hingga sore hari, sekitar 200 warga terpaksa mengungsi ke mushala, rumah kerabat, serta fasilitas pemerintah terdekat,” kata AKP Muzakar.
Di tengah situasi darurat, alat berat telah disiagakan untuk membersihkan material banjir. Namun, proses pembersihan harus dilakukan secara tentatif. Setiap kali banjir bandang kembali turun, pekerjaan dihentikan sementara demi keselamatan petugas.
“Kami dan masyarakat di wilayah hulu Sungai Muaro Pisang juga bekerja sama dengan sistem peringatan dini sederhana. Jika terjadi longsor susulan, informasi segera diteruskan ke wilayah bawah agar warga dan petugas bisa menghindari area berbahaya,” jelas AKP Muzakar.
Di sisi lain Bupati Agam Benni warlis menyebutkan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan upaya pembersihan material longsor dengan menggunakan alat berat serta petugas gabungan dari TNI,Polri,Basarnas dan pihak Kecamatan Tanjung Raya
“Berdasarkan ada data yang diperoleh untuk sementara 40 unit rumah yang terdampak banjir bandang dan longsor ini. Namun dalam peristiwa ini tidak ada menimbulkan korban jiwa namun secara kerugian belum bisa ditaksir karena pihaknya masih melakukan penyisiran terhadap barang warga yang terkena longsor seperti motor atau alat alat berharga lainnya,” tutup dia.
Benni menyebutkan, jumlah rumah terdampak berpotensi bertambah karena aliran air sudah melebar ke daerah lain akibat sumbatan material longsor di hulu sungai. Kondisi ini terjadi meski cuaca tidak dalam keadaan hujan pada Rabu, 13 Desember 2025.
Sedikitnya 200 warga mengungsi ke musalah, rumah keluarga, dan fasilitas pemerintah. Warga panik karena banjir bandang sudah terjadi lima kali sejak akhir November 2025.
”Air sungai disertai material turun beberapa kali, setelah tanah longsor melanda hulu sungai. Kondisi ini kurang baik bagi mereka, karena saat mereka pulang ke rumah, ada bunyi dentuman di hulu sungai, sehingga mereka kembali mengungsi,” ujar Benni.
Benni menuturkan situasi semakin mengkhawatirkan karena alur sungai telah berpindah sehingga mengancam lebih banyak permukiman. Saat ini sebagian aliran sungai mengering setelah berpindah jalur.
“Temuan di lapangan akan dilaporkan ke Gubernur dan Balai Wilayah Sungai (BWS) V untuk mendapatkan penanganan teknis jangka panjang. Bagaimana kita mencarikan masalahnya dan saat ini kita hanya menyelesaikan sungai yang tersumbat di hilir sungai apabila terjadi longsor,” pungkas Benni. (pry)













