PADANG, METRO—Surat imbauan sudah dikeluarkan Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansgharullah dan juga Wali Kota Padang Fadly Amran. Tidak boleh ada pesta kembang api dan bersifat hura-hura saat malam pergantian. Namun, Kamis (1/1) dinihari WIB, tepat di pergantian tahun, langit di atas Pantai Padang, terang benderang oleh pijar kembang api.
Larangan menyalakan kembang api menjadi simbol sikap empati, bahwa euforia seharusnya ditahan ketika duka masih menyelimuti daerah lain. Kebijakan dari dua kepala daerah itu disampaikan bukan tanpa alasan. Di tengah suasana bencana yang masih membayangi, korban, pengungsian, dan kerusakan akibat bencana, pesta kembang api dianggap berpotensi melukai rasa solidaritas.
Meskipun Pemerintah Provinsi Sumbar, Pemko Padang dan Polresta Padang telah mengeluarkan imbauan tegas untuk meniadakan pesta kembang api dan petasan, realitas di lapangan menunjukkan perbedaan yang kontras dengan seruan tersebut.
Riuh kembang api yang terekam dalam unggahan media sosial, seperti akun @pdg24jam, kabar_nagari menuai reaksi tajam dari warganet.
“Memang empati dak ado, 85% orang sumbar pergi ke area bencana hanya untuk Wisata Bencana dan Record upluad medsos serta LIVE ONCAM, begitu komen @rahmatfajri79.
Hal serupa juga disampaikan pemilik akun @damenpro79, “Krn kurangnya adab , sehingga tak peduli dg keadaan org lain walaupun pendidikan tinggi”.
Banyak yang menilai selebrasi tersebut mencerminkan rasa empati terhadap para penyintas bencana yang saat ini masih berjuang di tenda pengungsian atau tengah meratapi kehilangan materi dan kerabat.
“RIP EMPATI & SIMPATI !!, kata pemilik akun @dio.hk186. “Wuiih membludak taplau kironyo mah, dikiro bakalan sepi,” kata akun @irfanbuspariwisata.
“Langik pun Indak manarimo kembang api rasonyo , krna langsung turun hujan =”=”=”Þ semoga hujannya gak bikin air meluap lagi, tulis akun @ike_henny3005.
Diketahui, sejak matahari terbenam, ribuan warga Kota Padang sudah memadati Pantai Padang untuk menyaksikan detik-detik pergantian tahun. Meski tidak ada panggung hiburan resmi dari pemerintah, pengunjung tetap bertahan hingga tengah malam untuk menikmati suasana laut dan kebersamaan bersama keluarga maupun pasangan.
Di sepanjang bibir Pantai Padang, mulai dari kawasan Masjid Al-Hakim hingga arah Hotel Mercure, warga tampak membawa kembang api dan terompet. Dentuman kembang api mulai terdengar sekitar pukul 23.20 WIB dan semakin ramai tepat saat jarum jam menunjukkan tengah malam. Cahaya warna-warni yang menghiasi langit dan mengarah ke tengah laut menjadi pemandangan yang paling dinantikan para pengunjung.
Suasana di kawasan Pantai Padang justru kontras dengan agenda zikir dan doa bersama yang berlangsung di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.
Gubernur Mahyeldi melalui Surat Edaran Nomor 451/490/XII/Kesra-2025, sudah meminta masyarakat menahan diri sebagai bentuk empati terhadap korban bencana hidrometeorologi yang melanda 16 kabupaten dan kota di Sumbar.
Dalam edaran tersebut, Gubernur Mahyeldi menegaskan pentingnya pengaturan bersama sebagai wujud empati, kepedulian, dan tanggung jawab moral kepada masyarakat yang terdampak musibah. Kebijakan itu, menurutnya, bukan untuk meniadakan kebahagiaan, melainkan mengajak seluruh elemen masyarakat merayakan pergantian tahun dengan cara yang lebih bermakna, sederhana, dan bermanfaat.
“Pergantian tahun ini kita jadikan momentum untuk bermuhasabah, mendoakan daerah dan bangsa agar senantiasa diberi keselamatan, dijauhkan dari musibah, serta diberkahi langkah-langkah ke depan,” ujar Mahyeldi.
Ia berharap, melalui kegiatan zikir dan doa bersama tersebut, Sumatera Barat dan Indonesia secara umum diberikan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan, khususnya pascabencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumbar.
Selain gubernur, Wali Kota Padang Fadly Amran, dalam Surat Edaran Nomor 200.1/984/SE/Kesbangpol-Pdg/2025 tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Hari Raya Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 juga mengingatkan hal serupa.
Wako mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan empati, mengingat Kota Padang saat ini masih menghadapi dampak bencana banjir dan longsor. “Masyarakat diimbau tidak merayakan Tahun Baru secara berlebihan, seperti hura-hura dan pesta kembang api, serta lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat keagamaan, seperti doa bersama,” tegas wako dalam surat edaran tersebut. (ren)






