BERITA UTAMA

Pengembangan UMKM dan peningkatan Produktivitas Pertanian Sekolah Lapang Daun

0
×

Pengembangan UMKM dan peningkatan Produktivitas Pertanian Sekolah Lapang Daun

Sebarkan artikel ini

Dukungan penguatan ekonomi nagari di Sumatera Barat sepanjang 2025 dilakukan melalui dua jalur yang saling menguatkan: percepatan digitalisasi dan ekspor UMKM, serta peningkatan produktivitas pertanian melalui Sekolah Lapang DAUN. Program Onboarding UMKM Go Digital yang melibatkan 99 UMKM dan Go Ekspor bagi 50 UMKM berhasil membawa pelaku usaha naik kelas, memanfaatkan kanal digital, dan menembus pasar global. Hasilnya langsung terlihat, seperti ekspor coffee beans oleh Solok Radjo ke Taichung, Taiwan senilai USD 11.310, serta ekspor kayu manis oleh Spices Indo ke Thailand senilai USD 86.029,75.

Melalui berbagai forum business matching, capaian ekspor UMKM semakin meluas. Pada BM KKI 2025, tiga UMKM binaan dhi Kopi Solok Radjo, UniKayo, dan Spices Indomenandatangani MoU ekspor total USD 649.290. Pada BM SCF 2025, UMKM binaan menandatangani LOI dengan buyer Malaysia senilai Rp 1.388.250.000. Dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, MoU dilakukan antara Rendang Gadih dan More N More (Australia) senilai USD 15.600. Program digitalisasi juga mencatat keberhasilan signifikan: 46 UMKM memenuhi standar UMKM Go Digital dengan 35 UMKM mengalami peningkatan omzet rata-rata 300%, serta kenaikan penjualan online 9,6%. Capaian ini lahir dari pelatihan digital bersama Sekolah Bisnis Online (SBO), kurasi peserta yang ketat, dan pendampingan pasca pelatihan.

Di sisi hulu, peningkatan produktivitas pangan diwujudkan melalui Sekolah Lapang DAUN, yang memfokuskan pelatihan pada metode organik Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT), digital farming, serta pemanfaatan data iklim untuk pengambilan keputusan pertanian.

Program ini dilaksanakan dalam empat tahapan, yaitu Tahap 1 – Kabupaten Pesisir Selatan, 24–27 Februari 2025. Tahap 2 – Kabupaten Solok Selatan (Muara Labuah), 20–25 Mei 2025, Tahap 3 – Kabupaten Agam, 2–6 Juli 2025, Tahap 4 – Kabupaten Lima Puluh Kota (Harau), 11–14 November 2025.

Sebelum pendampingan, produktivitas petani rata-rata hanya 3,6 ton/ha, biaya produksi sekitar Rp 15 juta/ha, dan pemasaran terbatas pada pedagang lokal. Pendekatan DAUN mengubah pola kerja secara fundamental melalui rapid soil check, pemetaan cuaca BMKG, serta teknik MTOT.

Dampaknya nyata: produktivitas meningkat >50%, efisiensi tenaga kerja 30%, risiko hama berkurang, penggunaan pestisida menurun, dan kesuburan tanah meningkat berkat penggunaan mulsa jerami. Peningkatan produksi beras turut memperkuat suplai pangan daerah dan membantu menahan tekanan inflasi.

Sinergi antara Dinas Pertanian, penyuluh, BMKG, Yayasan Dangau Inspirasi (Ir. Djoni), pemerintah daerah, dan Bank Indonesia memperkuat kelembagaan petani. Antusiasme masyarakat pun meningkat, menandakan kepercayaan pada pertanian yang modern, efisien, dan berbasi organik.

Keseluruhan upaya ini menggambarkan satu pesan: ketika ilmu, teknologi, dan kerja kolektif berpadu, manfaatnya kembali memperkuat nagari. Seperti pepatah Minang, “Tampuak mangkonyo di urang banyak, hasilnyo mancariek sampai ka nagari.”(*)