BERITA UTAMA

Tak Hanya Tersangka Terorisme, Densus 88 Tangani Anak Terpapar Neo-Nazi dan White Supremacy

1
×

Tak Hanya Tersangka Terorisme, Densus 88 Tangani Anak Terpapar Neo-Nazi dan White Supremacy

Sebarkan artikel ini
RILIS AKHIR TAHUN— Kabareskrim Polri Komjen Pol Syahardiantono, dalam Rilis Akhir Tahun di Mabes Polri, Jakarta Selatan (Jaksel), pada Selasa (30/12).

JAKARTA, METROKinerja Detasemen Khu­sus (Densus) 88 Antiteror tahun ini berhasil mengantarkan Polri mempertahankan zero terrorism attack. Tak hanya me­nang­kap tersangka kasus terorisme, Densus 88 Antite­ror turut menangani anak-anak yang terpapar ideo­logi kekerasan ekstrem seperti Neo-Nazi dan White Supremacy.

Kepala Bareskrim Polri Komjen Syahardiantono menyampaikan bahwa ze­ro terrorism attack merupakan komitmen Korps Bhayangkara. Raihan itu terus terjaga sejak 2023, 2024, hingga 2025. Menurut dia, keberhasilan itu tidak lepas dari langkah penegakan hukum yang proaktif.

“Capaian itu didukung oleh penangkapan terha­dap 147 tersangka pada tahun 2023, 55 tersangka pada tahun 2024, 51 tersangka di tahun 2025,” ungkap Komjen Syahardiantono dalam Rilis Akhir Ta­hun di Mabes Polri, Jakarta Selatan (Jaksel), pada Selasa (30/12).

Menurut perwira tinggi bintang tiga Polri yang akrab dipanggil Syahar itu, kerja-kerja Densus 88 Antiteror tahun ini efektif menekan potensi ancaman serta menjaga stabilitas keamanan nasional. Secara khusus, dia menyebutkan beberapa kasus menonjol yang ditangani oleh Densus 88 Antiteror tahun ini.

“Pengungkapan jaringan radikalisme pada anak di bawah umur dengan rekrutmen online yang melibatkan 5 tersangka teroris dengan target 110 anak di 23 provinsi,” terang dia.

Tidak hanya itu, Syahar menyebutkan bahwa ada 4 kali rencana aksi terorisme yang didalangi oleh Kelompok Anshor Daulah yang berhasil digagalkan oleh Polri. Kemudian 20 rencana aksi serangan oleh anak di bawah umur yang juga sukses dipatahkan oleh Densus 88 Antiteror.

“Penangkapan 7 tersangka terorisme dalam pengamanan Nataru tahun ini. Penanganan 68 anak di 18 provinsi yang terpapar ideologi kekerasan ekstrim melalui grup TCC seperti Neo-Nazi dan White Supremacy. Dimana mereka ditemukan telah menguasai berbagai senjata berbahaya dengan rencana aksi yang menyasar ling­kungan sekolah serta teman sejawat,” terang dia.

Kasus-kasus Neo-Nazi dan White Supremacy itu mulai mendapat perhatian setelah seorang anak mela­kukan aksi di SMAN 72 Jakarta yang beralamat di Kelapa Gading, Jakarta Utara (Jakut), beberapa waktu lalu. Ledakan itu me­nye­babkan puluhan korban luka. (jpg)