LIMAU MANIS, METRO—Pengumpulan data kebencanaan di wilayah terdampak kini dilakukan dengan pendekatan teknologi udara. Tim melakukan pemetaan dengan menerbangkan pesawat drone milik TNI Angkatan Udara tipe Aviamap P 60, yang mampu menghasilkan resolusi citra sekitar 6 sentimeter pada ketinggian hingga 1.500 feet.
Rektor Universitas Andalas (Unand) Efa Yonnedi, Ph. D menilai langkah ini sebagai terobosan dalam metode pengambilan data kebencanaan. Menurutnya, data yang akurat dan berbasis kebenaran akan menjadi landasan penting dalam penyusunan strategi penanganan, pemulihan, serta rehabilitasi wilayah terdampak.
“Melalui pemetaan udara beresolusi tinggi ini, kita tidak hanya melihat kerusakan secara visual, tetapi juga mendapatkan data spasial yang dapat dipertanggungjawabkan. Data yang kuat akan melahirkan intervensi yang lebih efektif, sehingga proses rehabilitasi dan rekonstruksi benar-benar terarah, adil, dan berpihak pada masyarakat,” ujar Rektor pada Senin (29/12) saat take off pesawat drone TNI AU di Lapangan Sepak Bola Kampus Limau Manis.
Ia menegaskan bahwa pemulihan wilayah terdampak harus mengusung prinsip membangun kembali secara lebih kuat, lebih adil, dengan menjadikan data sebagai instrumen utama dalam pengambilan keputusan.
Kolaborasi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Bappenas, Rieke Diah Pitaloka (Anggota DPR RI), TNI AU, TNI AD, TNI AL, pemerintah daerah, IPB University, hingga dukungan penuh dari Pusat Geospasial. Rektor menyampaikan apresiasi atas sinergi lintas sektor tersebut, yang dinilainya sebagai model kerja bersama dalam penguatan Satu Data Kebencanaan Indonesia.
Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka menyatakan bahwa penguatan data kebencanaan merupakan langkah strategis untuk memastikan negara hadir secara efektif bagi masyarakat terdampak.
“Kebijakan publik tidak boleh didasarkan pada asumsi. Data yang valid adalah instrumen keadilan sosial, karena dari situlah negara bisa menentukan prioritas pemulihan secara tepat, transparan, dan berpihak pada warga yang paling membutuhkan,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah pusat, daerah, dan TNI terus diperkuat sebagai model kerja bersama dalam mitigasi bencana nasional.
Upaya penguatan data kebencanaan ini diharapkan tidak hanya mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun sistem mitigasi bencana yang lebih tangguh di masa mendatang. (*/ren)






