KOTO TINGGI, METRO—Satu bulan pasca musibah tanah bergerak di Jorong Aia Angek, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten . 50 Kota, kini rumah hunian sementara (huntara) sebanyak 60 unit telah mulai dibangun di atas 1 hektare lahan bagi warga terdampak. Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha yang datang ke lokasi pembangunan huntara, Sabtu (27/12) menyebut 60 unit huntara dibangun di atas lahan pemberian masyarakat seluas 1 hektar melalui Dt. Juang. Rumah huntara dibangun menggunakan dana pemerintah.
Wabup Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha berkunjung ke lokasi pembagunan huntara di Jorong Aia Angek, Nagari Koto Tinggi didampingi tokoh masyarakat setempat Dt. Juang dan Kepala Jorong Aia Angek, Sabtu (27/12).
Wabup Rito berharap Huntara selesai dibangun di Bulan Januari, sehingga masyarakat yang kini tinggal di pengungsian bisa segera pindah ke huntara. “Lahan ini adalah pemberian dari masyarakat melalui Datuak Juang,” kata Wabup Rito. Selain tanah seluas 1 hektar untuk lokasi huntara, masyarakat juga menyumbangkan lagi tanah seluas 500 meter untuk pembangunan mushalla. Diharapkan pembangunan huntara bisa sejalan dengan mushalla. “Ketika huntara selesai, mushalla juga selesai. Sehingga bisa digunakan oleh warga huntara di Bulan Ramadhan 1447 H,” sebut Wabup.
Hanya saja dana pembangunan mushalla tidak termasuk dalam dana bantuan yang dialokasikan pemerintah pusat. Mushalla itu dibangun secara swadana dan swadaya oleh Palang Merah Indonesia (PMI) Lima Puluh Kota dan Baznas Lima Puluh Kota. Bagi masyarakat yang ingin berdonasi untuk pembangunan Mushalla Huntara, bisa melalui Baznas Lima Puluh Kota. “Semua proses transparan, dan dipertanggungjawabkan,” kata Wabup Rito didampingi Dt. Juang dan Kepala Jorong Aia Angek.
Pada bagian lain, tokoh masyarakat Jorong Aia Angek, Widra Efendi mengatakan lokasi pembangunan huntara berjarak sekitar 1 km dari pemukiman warga yang mengalami fenomena tanah bergerak. Lokasi itu dekat dengan kawasan Monumen Nasional PDRI yang juga berada di Jorong Aia Angek.
“Huntara dibangun di dekat jalan menuju kawasan Monumen Nasional PDRI. Tanah itu seluas 1 hektar itu disumbangkan oleh masyarakat,” kata Widra yang rumah orang tuanya juga mengalami kerusakan akibat fenomena tanah bergerak yang terjadi, Kamis 27 November 2025 itu. (uus/rel)





