BERITA UTAMA

Lima Hari Menyusuri Lokasi Galodo di Sumatera Barat, Bagaikan Naga Berpindah Disertai Bunyi Menakutkan

4
×

Lima Hari Menyusuri Lokasi Galodo di Sumatera Barat, Bagaikan Naga Berpindah Disertai Bunyi Menakutkan

Sebarkan artikel ini

GABAK di hulu telah menurunkan hujan. Airnya berubah warna, membawa tanah, batu dan  pohon menjadi galodo. Turun seakan berlaridari puncak bukit. Ratusan orang meregang nyawa, ribuan keluarga kehilangan sanak saudara. Harta benda lenyap seketika. Tangis tak lagi berair mata.

Mereka dihempas dal­am hitungan sekerdipan mata, kemudian di­benam­kan dalam pagutan lum­pur, disertai bebatuan  yang­ lebih besar dari mobil. Lebih besar dari rumah. Kayu yang dibawa arus dari bukit,ada tanpa ranting lagi. Ada ujung pang­kalnya yang sudah rapi.

Firdaus Abie

Sepekan setelah ben­cana galodo di Sumatera Barat, saya melakukan perjalanan mandiri selama lima hari. Menyusuri lokasi galodo, merasakan denyut nadi kehidupan masyara­kat dari dekat.  Mencumbui bau lembab tanah berair. Merasakan tanah ber­lum­pur. Tanah yang membuat ratusan orang terkubur, kehilangan sanak saudara. Kehilangan tempat ber­teduh yang dibangun dari mimpi panjang dan kerja keras.

Kampung Apa meng­hadirkan nestapa. Debit air sungai di Lubuk Minturun, Kec Koto Tangah, Kota Padang, sangatlah besar. Melebihi kapasitas yang pernah mengalir sebelum­nya. Kurang 2 km dari jem­batan Lubuk Minturun, per­sis di belakang Kampung Apa, diseberangnya Kam­pung Banda Gadang, ada bendungan pengatur ali­ran air. Bendungan jebol. Air tak lagi melintasi ben­dungan, tetapi mengambil “j­alan lurus” sehingga meng­­hanyutkan semua yang­ ada di de­pan­nya.

Longsoran meng­han­tam kawasan padat pen­duduk. Tak kurang dari 30 rumah hanyut digulung air bercampur lumpur disertai kayu-kayu besar. Ada ru­mah yang tergantung di pinggir sungai. Kondisinya sudah rusak berat. Puluhan nyawa melayang. Ada yang dite­mukan dalam keadaan tak bernyawa. Ada yang tak bersua. Ba­nyak yang trauma.

“Mama saya tak bersua, abang masih trauma,” kata Ani, mahasiswi UNP yang sempat bertahan sem­bari memeluk pohon kelapa bersama abang dan mamanya. Mereka kemudian dihempasair, sehingga pegangan ketiganya lepas.

Ketika lepas, Ani dipermainkan gulungan air bercampur tanah berlumpur. Ia kemudian menggapai apa saja yang dapat dijangkau, kemudian naik ke atap sebuah rumah. Sekitar dua jam di sana. Ketika hari terang, Ia melihat abangnya di atap yang sama.

“Mama mana, Bang?” tanya Ani seketika, menceritakan ulang, Jumat (5/12) siang.

“Lepas dari pegangan,” kata sang kakak, seperti ditirukan kembali oleh Ani.

Ketika air surut, keduanya berenang ke tepian. Tak lama setelah sampai di tempat aman,  keduanya  melihat rumah yang tadi ditempati untuk bertahan, ambruk dihantam long­soran.Ani juga menyaksikan rumahnya hanyut dan hilang dari pandangan bersama laptopyang berisi bahan-bahan skrip­sinya­un­tuk penyelesaian pendidikan  di UNP.

Nursal (70), tetangga Ani, menceritakan bahwa  air masuk ke rumahnyaselepas Subuh. Ketinggian air sangat cepat. Kurang dari 20 menit, dirinya terpaksa memanjat jendela.  Air terus naik. Ia naik  ke pagu (loteng)lalu bertahan di atasnya.

Ia sebenarnya sudah meng­hindar, beberapa sa­at sebelumnya. Ketika air masuk, Ia mengevakuasi anak dan cucunyake mas­jid. Nursal kembali ke rumahnya hendak mengambil barang-barang yang dibutuhkan.

“Di depan rumah, air sudah. Saya masuk,air me­ngi­kuti sangat cepat,” kata lelaki kelahiran tahun 1956, menetap di Kampung Apa sejak 1980.

Di timur Kampung Apa, ada komplek perumahanLuminPark. Dua kawasan ini bersebelahan. Saat kejadian, komplek yang umumnya rumah berlantai dua, sudah tergenang. Air bercampur lumpur masuk dan memenuhi lantai I. Sejumlah mobil dan sepeda motor disapu banjir dan longsor.

“Saya terbangun ketika ada bunyi hantaman keras di dinding rumah, kemudian di pintu. Ketika pintu terbuka, air masuk, saya panik!” kata Febriandi (56), ketika ditemui saat mengumpulkan sisa bangunannya yang masih bisa digunakan, Jumat (5/12) siang.

Rumah kayu peninggalan orang tuanya hancur. Beberapa kayu dan seng teronggok tak jauh dari posisi semula.

Febriandi mengisahkan, ketika dirinya terbangun, air sudah masuk. Rumah papannya memiliki sejumlah anak tangga. Ketika menyelamatkan diri dan keluar dari rumah, air bercampur lumpur sudah setinggi dada.

“Saya berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Alhamdulillah, saya selamat. Rumah peninggalan orang tua hancur,” katanya sembari menunjukkan, rumahnya berjarak sekitar 200 meter dari aliran sungai awal.

Dasril (60) warga Lubuk Minturun menceritakan, saat peristiwa terjadi, Iasendirian di rumah. Ketika mendengar suara gemuruh, saat itu juga rumahnya bergetar. Ia membuka jendela di belakang rumah. Dirinya melihat airbergelombang, de­ras­,de­bit­nya sangat luar biasa be­sar.

“Kata ibu saya, ini pertama kali beliau melihat air di Lubuk Minturun sebesar dan sederas ini,” kata Dasril sembari menyebutkan, ibunya saat ini berusia 90 tahun.

Ia memperkirakan pu­la, sedimen longsoran dari hulu menutupi aliran sungai antara dua hingga tiga meter. Aliran sungai di Lubuk Minturun semakin dang­kal. Kondisi tersebut berpengaruh ketika dua hari kemudian, air kembali naik ke permukaan, melewati badan sungai, padahal debitnya tidak sebesar kejadian Kamis (27/11)

Sungai Kembali ke Jalur­nya

Ketika berada di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kec Palembayan, Kab Agam, tatapan saya tertuju pada seorang perempuan. Di sampingnya ada dua orang anak kecil. Saya memperkirakan, mereka berusia 8 sampai 11 tahun. Ia memandang sebuah bagian dari ketinggian dalam diam.

Ia tak menolak diwa­wan­carai, namun tidak ber­kenan berbentuk vidio. Na­manya, Yuli. Ia menunjuk ke arah tatapannya.

“Itu bekas rumah Pak Etek saya dengan isteri, anak dan cucunya. Mereka berlima belum ditemukan sampai hari ini,” kata Yuli, Sabtu (6/12), sembari menyebutkan, Kayu Pasak merupakan kampung isteri dari Pak Etek ––saudara ibunya, lelaki paling kecil.

Yuli menceritakan kisah di balik peristiwa yang dialami mamaknya. Cerita tersebut didapatkan dari sejumlah warga. Yuli warga Jorong Ngungun, masih dalam Nagari Salareh Aia.

Nagari Salareh Aia terdiri dari empat jorong, ma­sing-masing Jorong Kayu Pasak, Jorong Kayu Pasak Se­latan, Jorong Kayu Pa­sak Timur, Jorong Ngungun. Nagari ini dibentuk 31 Mei 1946 melalui Maklumat Residen Sumatera Barat Nomor 20 dan 21 Tahun 1946 tentang Penetapan Struktur Nagari, Wali Nagari, Dewan Perwakilan dan Dewan Harian Nagari. Daerahnya relatif datar dan sebagian lainya banyak perbukitan dan juga ada rawa-rawa atau palung-palung sungai.  Memiliki banyak ungai dan mata air.

Cerita yang didapatkan Yuli, dua pekan sebelum mu­sibah melanda, Pak Etek membersihkan ladang di belakang rumah, sambil membuka beberapa meter lahannya. Bukaannya agak lebar, tetapi bukan untuk ladang.

Ketika ada yang bertanya, mengapa dibuka seperti itu? Beliau menjawab, bukaan tersebut akan menjadi tempat laluan air.Dulu aliran sungai ada sebelum longsor tak jauh dari tebing, tetapi jauh waktu sebelumnya, kata beliau, aliran sungai ada ditempat yang digalinya, atau tak jauh di belakang rumahnya.

“Makanya saya persiapkan dari sekarang untuk alirannya. Dulu aliran sungai di sini,” kata Yuli mengulangi kalimat Pak Etek yang sampaikan sejumlah warga kepadanya.

Yuli menyebutkan, aliran sungai sekarang berada, setelah longsor, sebenarnya merupakan jalur sungai jauh waktu sebelumnya, seperti disampaikan Pak Etek kepada banyak orang, tetapi beliau tidak menceritakan kapan pindah ke tepi tebing di sebelah selatannya,

Hal lain yang masih menjadi misteri bagi Yuli adalah kalimat Pak Etek yang didengarnya dari sejumlah warga. Kalimat tersebut, kata sejumlah warga yang selamat, disampaikan beliau saat membangun aliran sungai tersebut.

“Jika dalam dua minggu saya sakit, insya allah, belum akan meninggal. Kalau saya hilang, tak usah dicari,” kata Yuli, mengutip ulang kalimat yang disampaikan Pak Etek kepada sejumlah warga.

Perihal pencarian, me­nurut Narso, Ketua Tim SAR MTA, ketika ditemui Sabtu (6/12)sangatlah sulit. Dirinya sudah 10 hari di lokasi bencana. Ia telah turun diberbagai lokasi bencana di Indonesia. Katanya, m­e­dan bencana di Salareh Aia, khususnya Jo­rong Kayu Pa­sak, sangat be­rat.

“Medannya berlumpur, lumpurnya labil. Material banyak. Risikonya sangat tinggi,” kata Narso.

Di Jorong Kayu Pasak, puluhan rumah rusak, hanyut dan hilang. Puluhan korban jiwa. Puluhan lainnya  tidak ditemukan.

Air Menyibak di Depan Masjid

Sebuah masjid, bernama Masjid Syuhada, di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia. Melihat posisinya dan arah datang longsor, tak bisa diterima akal kalau masjid ini bisa selamat. Posisi longsor datang dari arah teras utama.

Ketika berdiri di teras utama masjid yang dibangun tahun 1910, posisi akan menghadap ke timur. Terlihat hamparan longsor yang luas dan mulai mengering.  Tak ada lagi bangunan, tak sebatang pun tumbuhan di lamparan luas tersebut.

Menatap jauh ke depan dari teras,terlihat bekas longsoran yang mulai me­nge­ring, dari sanalah air, lumpur, batu besar dan kayu-kayu mengelinding. Di masjid, hanya tersisa bekas genangan air di dinding. Ada tanah berlumpur masuk ke teras dan bangunan utama, tapi dua hari kemudian semuanya su­dah bersih. Tak ada kerusakan di masjid tersebut.

Pengakuan masya­ra­kat, saat galodo datang menghantam, materi yang dihanyutkan seakan menyibak tak jauh dari masjid. Menyibak ke kiri dan kanan masjid. Saat ini posisi air berada di sebelah kanan masjid.

Tak Ada yang Tersisa

Kecamatan Malalak, Kab Agam, terdiri dari empat nagari. Malalak Timur, Malalak Utara, Malalak Selatan, Malalak Barat. Seluruh jorongnya  terkena dampak bencana galodo. Ada air yang mencapai ketinggian lebih kurang 30 meter.

Memasuki wilayah Ma­la­lak dari Sicincin ke Balingka (Simaka), Minggu (7/12), jorong terkena bencana pertama yang ditemukan adalah Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur. Ketika berdiri di jalan utama, terlihat jelas bekas longsoran. Lebarnya sekitar 100 me­ter. Panjangnya setinggi turunan di perbukitan. Me­lun­cur dari bukit ke per­kam­pungan.

Salah seorang putra daerah, Yurisman yang juga tokoh pemuda setempat menyebutkan, diper­kirakan sumber air yang meluluhlantakkan Jorong Toboh, longsoran dari Gunung Singgalang, airnya berhulu dari Telaga Dewi. Dari Jorong Toboh ke Telaga Dewa ada 10 tingkat air terjunnya.

Di Jorong Limo Badak, em­pat rumah hanyut, begi­tu pun di Subarang Gauang.

Di Malalak Utara, ada dua jembatan putus. Di Jorong Sigiran, 15 ha sawah dan 20 ha kebun hancur berantakan. Di Jorong Salimpauang, aliran sungai Batang Kasai meluap sehingga meruntuhkan jembatan yang menghubungkan Sigirandan  Campago. Putusnya jembatan ini mem­buat Nagari Malalak Barat terisolasi.

Puluhan hektar lahan di Campago dihondoh banjir. Aliran Batang Sariak yang melintasi Sigiran dan Salimpauang meluap dengan ketinggian air mencapai 30 meter. Lahan perkebunan dan pertanian habis. Sekitar 5.000 pohon casiavera hanyut.  Di Nagari Malalak Selatan, jembatan putus, Jorong Siniakair terisolasi.

Beberapa bagian material ada yang sudah disingkirkan, namun lebih banyak yang belum digarap. Banyak bantaun yang datang, akan tetapi ada yang belum hilang.

“Rasanya belum hilang,” kata Yurisman, yang juga wartawan harian terbitan Sumbar sembari me­nye­butkan, di kampungnya ada tiga titik longsoran. Ratusan nyawa melayang. Ratusan rumah hancur dan hilang ditelan longsor.

Setiap malam sejak kejadian, apalagi jika hujan turun, dirinya dan keluarga serta warga dihantui ketakutan luar biasa. Saat kejadian adalah masa yang sangat mencekamdan sangat menakutkan. Ia kemudian memberikan ilustrasi dalam istilah rang Minang; CandoNago Baraliah Disaratoi Talempong Jania. Mak­nanya seperti naga yang berpindah tempat lalu disertai bunyi tak karuan yang memekakkan telinga.

Ilustrasi naga berpindah tempat terjadi di dalam tanah. Tanah longsoran turun secara bergelombang, tidak bisa dihentikan. Hentakannya sangat mengguncang. Pada saat bersamaan bunyi-bunyian dimaksud adalah longsoran yang membawa air, lumpur dan batu yang saling beradu.

Tak jauh dari balik bukit di Nagari Malalak, pekerja sedang berpacu menyelesaikan rehabilitasi pembangunan jalan di kawasan Lembah Anai. Jalan negara tersebut putus karena deras dan besarnya debit air sehingga melimpah ke jalan. Membuat jalan tersebut putus.

Minggu (7/12), terlihat ratusan kendaraan roda dua menunggu pembukaan jalan, setelah jalur al ternatif ditutup pekerja. Jalur tersebut dibuka warga di sisi kiri jalan dari arah Padang – Bukittinggi, tepatnya di jalur rel kereta api yang tak lagi berfungsi, tetapi jalur tersebut ditutup karena mengganggu proses orang kerja.

Pemerintah memberikan akses membuka jalur yang sedang dikerjakan menggunakan jadwal tertentu, yakni pagi sebelum kerja, istirahat siang dan selesai kerja. Di bawah siraman hujan, pelintas jalur tersebut setia menunggu.

Kayu Gelondongan di Pantai

Galodo di Padang membawa air berlumpur, material batu dan kayu gelondongan, Kamis  (27/11), menyentak banyak orang. Seketika pantai di kawasan Air Tawar, Kec Padang Utara, menjadi viral. Media dan masyarakat tumpah ruang ke lokasi.

Pemerintah kemudian mengerahkan alat berat untuk menyingkirkan dan merapikan posisi kayu-kayu besar tersebut. Pembersihan dilakukan agar sampan dan bagan nelayan bisa mendarat ditepian.

Viralnya pantai tersebut karena kayu-kayu yang terdampar sangat besar. Ada yang ditemukan dengan bekas gergajian yang rapi, ada juga yang ber­no­mor.Belakangan ada se­jum­lah warga yang memanfaatkan situasi.

Saat berada di lokasi, Senin (8/12) pagi, terdengar bunyi alat pemotong kayu. Ketika sumber bunyi didekati, terlihat tiga orang sedang bekerja. Mereka memotong kayu-kayu di pinggir pantai.

Tak jauh dari mereka, petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang membersihkan pantai. Ada tiga truk sampah menampung material yang dikumpulkan pekerja, sehingga pantai bisa didarati kembali oleh sampan dan bagan nelayan.

Menjelang tengah hari, bunyi alat pemotong kayu berhenti. Tak lama berselang, sejumlah lelaki berpostur berisi terlihat menyisiri pantai. Ketika mereka melintas, sebuah pertanyaan diajukannya.

“Tadi ada yang memotong kayu di sana,” kata saya sambil menunjuk ke sumber bunyi sebelumnya, “sekarang tak ada lagi bunyinya,”

Rombongan tersebut bergegas ke arah yang disebutkan, tapi tak ada siapa-siapa lagi di sana.

Membangun Hunian Sementara

Disalah satu sudut Kelurahan Batu Busuak, Kec Pauah, Kota Padang, terpatri semangat bangkit satu keluarga besar. Terdiri dari 11 KK dengan 48 jiwa. Mereka membangun Hunian Sementara (Huntara) dengan menghimpun semua keluarga.

Galodo di Batu Busuak terjadi 26-28 November 2025. Satu keluarga besar, dalam istilah Minang disebut KeluargaSaparuik (sa­tu keturunan), turut menjadi korban. Empat unit rumah mereka hanyut, empat unit rusak berat, tiga ru­mah rusak sedang tetapi tidak boleh lagi ditempati karena sudah berada di pinggir sungai.

Keluarga Saparuik ini berasal dari Kapalo Koto. Awalnya mereka tinggal bersama dengan orang tuanya. Ketika menikah dan memiliki rezeki, satu persatu diantaranya mereka membangun rumah dan pindah ke rumah barunya. Masih di wilayah Batu Bu­suak.

Ketika galodo meluluhlantakkan kehidupan  yang dibangun bersama  ke­luarga barunya, mereka dibawa pulang oleh sang ayah, Usar (78) ke kampung keluarganya. Dalam adat Minangkabau, keluarga ayah disebut Bako oleh anak-anaknya. Mereka me­ne­tap di rumah berukuran 4×6 meter. Semua berkumpul di sana.

Beberapa hari berselang, diseperti diungkapkan Dasrul, salah seorang diantara keluarga besar tersebut, mereka berpikir harus melakukan sesuatu. Jika terus bertahan di rumah sekarang, kondisinya bisa memburuk karena kapasitas rumah tak memadai oleh jumlah yang banyak.

Akhirnya mereka bersepakat membangun Huntara untuk keluarga besarnya. Lahan sudah ada, tepatnya dibekas kediaman mereka, sebelum menikah. Tapak “rumah gadang” mereka ada dekat jembatan Talang, persisnya di RT 03 RW IV, Kelurahan Kapalo Koto, di sana Huntara dibangun bersama.

Diantara bantuan yang diterimanya, Senin (8/12) malam, Dasrul dan keluarga besarnya mempacking ulang bantuan yang diterima. Walau harus “menghidupi” 48 jiwa dalam sebuah keluarga besar, mereka tak mau menikmati sen­diri. Banyak warga yang juga membutuhkan, sehingga bantuan yang diterimanya juga didistribusikan ke­pa­da keluarga lain.

“Awalnya kami tak tahu, dari mana dananya, tetapi tekad kami sudah bulat. Kita mulai dulu,” kata Dasrul, Selasa (9/12) pagi.

Mereka memulai dari menebang pohon pinang untuk “pondasi” dan tiang, lalu material rumah mereka yang masih bisa dipakai, dikumpulkan. Belakangan ada-ada saja bantuan yang datang. Mereka mendirikan dua bangunan memanjang. Posisinya leter L. Satu bangunan memiliki enam kamar, di depannya ruangan lepas. Bangunan lainnya lima kamar. Konstruksinya sama.

Rabu (10/12) pagi, sebuah panggilan muncul di selular saya. Orang yang menghubungi sangat saya kenal, tapi sudah lama tidak jumpa dan tak berkomunikasi. Ketika saya menerima panggilannya, Ia langsung bertanya.

“Saya dapat kabar, kemarin Abie ke Batu Busuak, tempat Dasrul, ya?” tanyanya.

Saya mengiyakan.

Ia kemudian menanyakan, saya mengendari apa dan melalui jalan mana. Saya menjawab apa adanya.

“Sama mobil, melintasi jalan beton yang ada,”

“Melintasi depan SMPN 44 Padang?” tanyanya.

“Memangnya ada apa?” saya balik bertanya.

Ia menyebutkan, jalan di depan sekolah tersebut memang jalan kampung berbeton. Di kirinya aliran sungai Batu Busuak berair keruh. Jalan yang terlihat biasa tersebut memiliki ancaman bencana. Di ba­wah lapisan beton, tanahnya alahbaloong (cukam, atau berlobang di bagian da­lam) karena digerus air te­rus menerus.

Saya terkejut. Astagfirullah!*

*Penulis adalah Wartawan Utama Posmetro Padang