PEJALANAN waktu telah menghantarkan Kota Solok beranjak usia 55 tahun saat ini. Setiap perjalanan waktu akan mencatatkan sejarah untuk dikenang dari masa ke masa.
Suasana khidmat meski duka akibat bencana masih terasa, mewarnai puncak peringatan Hari Jadi Kota Solok ke 55 yang ditandai Rapat Paripurna DPRD Kota Solok di Gedung Kubuang Tigo Baleh Kota Solok, Selasa (16/12).
Ketua DPRD Kota Solok Fauzi Rusli SE MM yang memimpin Rapat Paripurna itu, didampingi Wakil Ketua DPRD Amrinof Dias Dt Ula Gadang dan Mira Harmadia, S.Sos tampak tampil elegan dengan mengenakan pakaian khas Kota Solok.
Suasana sidang terasa begitu kental dengan budaya masyarakat Kota Solok. 20 orang anggota DPRD Kota Solok yang hadir tampak mengenakan pakaian taluak balango dengan kain sarung menjuntai dipundak.
Turut hadir Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansarullah, Walikota Solok Ramadhani Kirana Putra dan Wakil Wali Kota Solok Suryadi Nurdal, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, Para Mantan Walikota dan Wakil Walikota, Kepala Daerah, Pimpinan DPRD kabupaten/ kota lainnya.
Bagi Ketua DPRD Kota Solok, Fauzi Rusli, perjalanan Kota Solok yang kini berusia 55 tahun ini juga tidak terlepas dari perjalanan lembaga DPRD Kota Solok sebagai mitra pemerintah daerah. Banyak dinamika yang telah dilalui bersama dalam kurun waktu yang cukup panjang itu.
“Hari ini Kota Solok sudah berusia 55 tahun. Peringatan ini tak hanya jadi momentum peningkatan kolaborasi dan inovasi dalam mewujudkan kemakmuran masyarakat, namun sekaligus momentum introspeksi terhadap kualitas pelayanan publik,” kata Fauzi.
Ia manambahkan, Kota Kecil ini kini telah berkembang menjadi kota yang maju dan bisa disejajarkan dengan kabupaten dan kota lain di Indonesia. Hal itu tak hanya tergambar dari pembangunan infrastruktur, namun juga beragam penghargaan yang didapat dari masa ke masa.
Kota yang maju, modern dan agamis yang menjadi cita cita besar masyarakat Kota Solok hendaknya benar benar dapat diujudkan dalam kehidupan masyarakat. Namun menurutnya tentu butuh kebersamaan dan komitmen bersama dengan melibatkan semua pahak dan peran masyarakat Kota Solok secara aktif.
Dia menilai, Kota Solok memang telah menunjukan perubahan dari masa ke masa seiring perkembangan pembangunan sebagai tuntutan kebutuhan daerah dan masyarakatnya. Namun lanjutnya ini harus disikapi secara cerdas agar Kota Solok tetap menjadi tempat yang nyaman bagi sistem kehidupan, sekaligus memberi dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Fauzi Rusli SE MM dalam sambutannya menyampaikan penghargaan dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada para pendiri Kota Solok dan para Walikota terdahulu yang telah meletakkan pondasi dasar berdirinya Kota Solok. Sebuah perjuangan panjang yang penuh dengan lika-liku dari nagari menjadi sebuah kota administratif.
Tantangan ke depan tentu akan semakin besar, baik terkait urusan wajib maupun urusan pilihan. Untuk itu butuh sinergitas antara semua pihak dan bersama lembaga DPRD akan selalu berdiri sejajar dengan pemerintah Kota Solok dalam membangun daerah.
Sementara itu Walikota Solok Ramadhani Kirana Putra mengatakan, Kota Solok hari ini telah mengalami perkembangan yang signifikan, baik dari segi pembangunan maupun dalam pertumbuhan penduduk. Kondisi ini harus disikapi secara cerdas agar Kota Solok tetap menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali.
Ditengah tengah rasa prihatin atas bencana alam yang menimpa masyarakat Kota Solok, dia merasakan ada kebersamaan dalam mengahadapi cobaan itu. Untuk itu rasa kebersamaan antara masyarakat, pemerintah dan seluruh elemen yang ada harus tetap terjaga demi membangun Kota Solok kedepannya.
Hari Jadi Kota sejatinya sebagai pengingat agar generasi penerus menjadikan sejarah sebagai untaian peristiwa yang memiliki dinamika tersendiri. Rasa cinta dan memiliki Kota Solok menjadi alasan kuat menuju kota yang Berjuara (Berkah Maju dan sejahtera).
“Berkah itu didapat kalau semua masyarakatnya taat beragama dengan penanaman nilai moral yang tinggi,” ujarnya.
Searah dengan itu, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansarullah mengatakan, pentingnya penguatan pelayanan publik dan gotong royong sebagai karakter masyarakat Minangkabau. Ia mengingatkan agar pemerintah daerah terus berjalan seirama dengan ninik mamak, ulama, dan bundo kanduang.
Tantangan ini tidak hanya ditujukan bagi pemerintah daerah semata tapi juga bagi DPRD dalam membangun kolaborasi dalam pemerintahan.
“Semuanya tak akan bisa dicapai tanpa adanya sinergi dan kolaborasi yang terbangun harmonis selama ini.
Anggaran yang tidak memadai, membuat pemko Solok harus mencari opsi pembiayaan untuk memacu pembangunan daerah seperti investasi,” ujarnya.
Selain itu, Kota Solok juga telah mendeklarasikan diri sebagai kota serambi madinah. Untuk itu Kota Solok juga harus mampu mengimplementasikan nilai nilai moral dalam sendi kehidupan masyarakatnya dalam membangun Kota Solok ke arah yang lebih baik.
Mahyeldi optimistis Kota Solok mampu tampil sebagai daerah yang kuat secara sosial dan adat, sekaligus tangguh dalam melindungi generasi muda dari penyakit masyarakat.
Tokoh adat LKAAM Kota Solok, Rusli Khatib Sulaiman Malin Marajo, menegaskankemajuan Solok lahir dari hubungan erat antara pemimpin dan masyarakat. Menurutnya, kota ini berdiri bukan karena kelimpahan, tetapi karena kesediaan untuk saling menopang. (***)






