BERITA UTAMA

Belajar dari Bencana, Prabowo Tegaskan Negara Tak Boleh Kalah dengan Kepentingan Korporasi

0
×

Belajar dari Bencana, Prabowo Tegaskan Negara Tak Boleh Kalah dengan Kepentingan Korporasi

Sebarkan artikel ini
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto

JAKARTA, METRO–Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembelajaran penting dari bencana yang terjadi di Suma­tera adalah perlunya negara bersikap tegas dalam mengelola sumber daya dan tidak tunduk pada kepentingan segelintir pihak, termasuk korporasi. Penegasan itu disampaikan Prabowo saat menutup Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (15/12).

Menurut Prabowo, sa­lah satu pelajaran besar yang harus diambil adalah pentingnya pengelolaan sumber daya nasional secara disiplin. Ia menyoroti masih banyaknya kebocoran yang terjadi akibat praktik ilegal seperti pembalakan hutan, pertamba­ngan ilegal, dan penyelundupan yang berdampak besar terhadap ekonomi dan lingkungan.

“Pelajaran yang kita simak dari ini semua bahwa kita perlu benar-benar mengelola sumber daya kita. Banyak sekali sumber daya kita yang bocor sedikit demi sedikit kita tutup,” kata Prabowo.

Presiden juga menegaskan bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara serius, termasuk terhadap aparat yang terlibat atau melindungi kegiatan ilegal.

“Saya harap Panglima TNI dan Kapolri benar-benar menindak aparat-apa­ratnya yang melindungi kegiatan penyelundupan ini dan juga kegiatan-kegiatan ilegal, pelanggaran hukum, ini harus kita hadapi dengan serius,” ujarnya.

Dalam konteks kebijakan nasional, Prabowo menekankan bahwa arah pe­ngelolaan ekonomi dan sumber daya harus kembali pada amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Ia mengingatkan bah­wa negara tidak boleh kalah oleh kepentingan korporasi.

“Tidak boleh ada korporasi yang mengalahkan negara. Kita butuh korporasi, kita butuh dunia usaha swasta, tetapi dia tidak boleh mengatur negara dan mengalahkan negara,” tegas Prabowo.

Prabowo menegaskan bahwa bumi, air, dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

“Bumi dan air dan ke­kayaan alam yang terkandung di dalamnya di­kuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,” ucapnya.

Presiden juga meng­ungkapkan bahwa pemerintah telah mengambil lang­kah tegas dengan men­cabut dan menguasai kembali jutaan hektare lahan konsesi serta meng­hentikan sementara penerbitan izin baru di sektor kehutanan dan pertamba­ngan untuk dilakukan eva­luasi menyeluruh.

“Pemerintah sudah 4 juta hektare sudah kita kuasai kembali, sudah kita cabut, dan tahun ini tidak ada satu pun izin yang dikeluarkan atau diperpanjang,” kata Prabowo.

Ia menegaskan bahwa konsesi yang disalahgu­nakan dan tidak memberikan manfaat bagi kepen­tingan nasional tidak boleh dibiarkan.

“Kalau mereka yang megang konsesi me­nyalah­gunakan, mengambil keuntungan tetapi keun­tungannya dibawa ke luar negeri dan tidak ditaruh di dalam negeri, itu merugikan kepentingan nasional dan kepentingan rakyat Indonesia,” ujarnya.

Menutup arahannya, Prabowo mengajak seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat untuk bergotong royong memba­ngun kemakmuran bersama serta memastikan ne­gara hadir dan berpihak kepada rakyat.

“Tidak boleh segelintir orang menikmati kekayaan Indonesia. Rakyat masih banyak yang susah,” tegas Prabowo.

Prabowo juga me­nyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas di lapangan, termasuk TNI, Polri, tenaga kesehatan, dan aparatur negara yang bekerja di tengah risiko demi melindungi rakyat.

“Saya bangga saya se­karang menjadi Presiden Republik Indonesia, saya punya pemerintah, saya punya petugas di lapangan yang semua bekerja untuk rakyat,” pungkasnya. (jpg)