BERITA UTAMA

Percepat Identifikasi Jenazah Korban Bencana yang Sulit Dikenali, Wakapolri Komjen Dedi: 15 Tim DVI Pusdokkes Dikirim ke Sumbar

0
×

Percepat Identifikasi Jenazah Korban Bencana yang Sulit Dikenali, Wakapolri Komjen Dedi: 15 Tim DVI Pusdokkes Dikirim ke Sumbar

Sebarkan artikel ini
BERI KETERANGAN— Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo, memberikan keterangan kepada awak media di RS Bhayangkara Padang, Kamis (4/12).

PADANG, METROPusat Kedokteran dan Kese­ha­tan (Pusdokkes) Mabes Polri menge­rah­kan 15 tim DVI untuk mem­percepat identifikasi jenazah korban banjir bandang di Sumatera Barat (Sumbar). Hal ini mengingat kondisi jenazah yang sulit dikenali pasca sepekan bencana.

Wakapolri Komjen Pol Dedi Pra­setyo mengatakan, langkah terakhir identifikasi jenazah dalam kondisi yang sulit dikenali adalah dengan cara tes DNA. Kemudian pengam­bilan tes DNA pembanding dari keluarga lalu dikirim ke Jakarta.

“Kecepatan untuk DVI dan tim identifikasi kami ini harus segera dilakukan. Karena kita kasihan, kalau misalnya korban terlalu lama di­iden­tifikasi, ini semakin ke depan, kan, kondisi (jenazah) semakin tidak baik,” ujar Dedi di Rumah Sakit Bhayangkara Padang, Kamis (4/12).

“Kami memiliki laboratorium DNA yang cukup cepat di Jakarta, mungkin dalam waktu tiga hari hasil tes DNA sudah bisa disampaikan ke ke­luarga. Sehingga jenazah yang ada bisa diserahkan ke pihak keluarga dan se­gera dimakamkan,” sam­bungnya.

Dedi menyebutkan 15 tim DVI Mabes Polri ini dipusatkan di Kabupaten Agam, salah satu wilayah yang sangat terdampak parah dengan jumlah korban yang banyak. Termasuk di Rumah Sakit Bhayangkara Padang.

“Sudah mengirimkan 15 tim DVI. Paling parah, kan, di Agam. Ke Agam kami kirim, jadi enggak perlu lama di sini (Rumah Sakit Bhayangkara) je­na­zah,” ungkapnya.

Tim DVI Mabes Polri, kata dia, akan langsung melakukan identifikasi jenazah di lokasi bencana. Jika kondisi jenazah tidak buruk, identifikasi korban bisa dilakukan dengan sidik jari.

“Jadi salah satunya kecepatan kami melakukan identifikasi DVI adalah sidik jari. Kalau sidik jari, kalau sidik jari masih bisa diidentifikasi oleh inafis maka kecepatannya sangat cepat, tingkat akurasi dengan sidik jari bisa 99 persen,” ucap Dedi.

26 Jenazah di RS Bhayangkara Sulit Diidentifikasi

Sementara itu Ps Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Padang, dr. Harry Andromeda, mengungkapkan sudah 61 jenazah berada di Rumah Sakit Bhayangkara Padang. 26 jenazah di antaranya sulit teridentifikasi.

“Kami sampai saat ini sejak hari pertama bencana, total ada 61 jenazah, 35 jenazah sudah teridentifikasi, 26 jenazah belum,” kata dia.

Puluhan jenazah tersebut disimpan di lemari pen­dingin. Rumah Sakit Bhayangkara Padang juga men­dapat bantuan mobil boks pendingin dari dinas pertanian untuk menampung jenazah.

“Untuk 26 jenazah belum teridentifikasi ini su­dah kami ambil sampel DNA. Kami juga ambil sam­pel DNA pembanding dari keluarga korban merasa kehilangan saudara semua kami kirim sampel DNA ke Jakarta,” ujar Harry sembari menambahkan sudah 130 keluarga yang melapor kehilangan saudara di posko ante mortem. (rgr)