BERITA UTAMA

DVI Polda Sumbar Terima 193 Jenazah Korban Bencana, 161 Jenazah Berhasil Diindentifikasi, 32 Belum Ada Nama, Mayoritas Anak-Anak

0
×

DVI Polda Sumbar Terima 193 Jenazah Korban Bencana, 161 Jenazah Berhasil Diindentifikasi, 32 Belum Ada Nama, Mayoritas Anak-Anak

Sebarkan artikel ini
PAPARKAN— Plt Kabid Dokkes Polda Sumbar, AKBP dr Faisal bersama Ps Karumkit Bhayangkara TK III Padang, Kompol dr Hari Andromeda dan PS Kasubbid Penmas Kompol Omri memaparkan perkembangan proses identifikasi terhadap jenazah korban bencana.

PADANG, METROBencana banjir bandang dahsyat dan longsor yang melanda sebagian besar wilayah Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), menyisakan duka yang mendalam. Hingga Selasa (2/12), Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Sumbar sudah menerima 193 jenazah korban bencana.

Hal itu diungkap Plt Kabid Dokkes Polda Sumbar, AKBP dr Faisal, didampinggi Ps Kasubbid Penmas Kompol Omri Yan Sahureka, dan Ps Karumkit Bhayangkara TK III Padang, dr Hari Andromeda saat konfrensi pers yang dihadiri puluhan awak media.

“Jumlah korban bencana Sumbar yang meninggal hingga hari ini 193 orang. Dari jumlah itu, 161 orang sudah berhasil teridentifikasi dan 32 jenazah masih dalam proses identifikasi. Jenazah yang identitasnya sudah diketahui, sebagian besar telah diserahkan kepada keluarga,” kata AKBP Faisal.

Namun, kata AKBP Faisal, masih ada beberapa jenazah yang sudah berhasil diidentifikasi Tim DVI, belum dijemput oleh pihak keluarga. Ia pun meminta kepada pihak keluarga segera mengambil jenazah ke RS Bhayangkara Padang agar jenazah dikebumikan.

“Khusus di RS Bhayangkara Padang, sudah menerima 58 kantong jenazah yang sejak 27 November 2025. Sebanyak 33 jenazah telah teridentifikasi melalui data primer (DNA, sidik jari, rekam medis) dan sekunder. Sementara 25 jenazah lainnya masih berstatus tidak dikenali karena belum ada kecocokan data antemortem,” ujar AKBP Faisal.

Terkait 25 jenazah yang belum teridentifikasi, AKBP Faisal merincikan, terdiri dari 14 laki-laki, 8 perempuan, dan sisanya adalah potongan tubuh. Tim DVI telah mengambil sampel primer seperti DNA dan sidik jari dari ke-25 jenazah tersebut. Data ini menjadi kunci pembanding dalam proses identifikasi.

“Mayoritas jenazah yang tidak teridentifikasi ini merupakan anak-anak. Sidik jari mereka tidak terbaca pada alat finger print karena belum memiliki KTP. Data-data yang diambil tidak ada yang cocok dengan ke 25 jenazah yang belum teridentifikasi ini,” tutur dia.

AKBP Faisal mengimbau kepada seluruh keluarga yang merasa kehilangan sanak saudara pascabencana, agar segera datang ke Rumah Sakit Bhayangkara Padang. Pasalnya, pihaknya sudah mengambil sampel DNA dari gigi, tulang maupun jari kelingking.

“Kami mohon agar keluarga segera datang, tujuannya untuk kita ambil data antemortem. Data dari pihak keluarga ini akan kami bandingkan dengan data jenazah yang masih disimpan di sini, agar proses identifikasi bisa berjalan dengan cepat dan tepat,” tegasnya.

Menurut AKBP Faisal, proses identifikasi harus dilakukan dengan cepat  mengingat kondisi jenazah korban banjir bandang akan lebih cepat mengalami pembusukan dibandingkan jenazah yang tidak terkena air.

“Proses pembusukan jenazah korban terkena air itu lebih cepat daripada korban meninggal karena hal lainnya. Jadi, posedur identifikasi tidak hanya soal ketelitian, tapi juga faktor waktu,” tegas dia.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, kendala lain yang dihadapi tim adalah keterbatasan fasilitas penyimpanan. Banyak jenazah dari daerah seperti Agam 102 korban, 97 teridentifikasi, terpaksa dibawa ke RS Bhayangkara karena tidak adanya mesin pendingin yang memadai di sana.

“Fasilitas penyimpanan jenazah di tempat kami sangat terbatas. Di RS Bhayangkara hanya punya empat pendingin, RS M Djamil punya dua, dan Unand punya dua. Namun, kendala ini sedikit teratasi berkat bantuan satu mobil pendingin dari Pemprov Sumbar. Jenazah yang sudah kami periksa bisa disimpan sementara di sana sebelum diambil oleh pihak keluarga,” tutur dia..

Sementara itu, Ps Karumkit Bhayangkara TK III Padang, Kompol dr Hari Andromeda, SpJ, menegaskan pentingnya percepatan pengambilan sampel DNA dari keluarga korban agar identitas jenazah bisa diketahui.

“Kami mohon kepada masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga agar segera datang ke posko antemortem di RS Bhayangkara Padang. Semakin cepat data pembanding masuk, semakin cepat pula kami bisa menyelesaikan identifikasi 25 jenazah yang saat ini masih Mr X, “ tegas Kompol Hari.

Kompol Hari menyampaikan bahwa sebagian besar jenazah yang sulit teridentifikasi adalah anak-anak. Diduga orang tua atau kerabat terdekatnya juga menjadi korban, sehingga tidak ada yang melapor. Kondisi ini membuat proses pencocokan data menjadi lebih lama.

“Kami mengimbau masyarakat yang kehilangan sanak saudara akibat bencana agar segera mendatangi RS Bhayangkara Padang atau posko DVI terdekat guna memberikan data antemortem, sehingga proses identifikasi dapat segera tuntas dan jenazah dapat diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan,” tutup dia. (rgr)