BERITA UTAMA

Galodo di Nagari Salareh Aia Luluhlantakkan 4 Jorong, 60 Orang Tewas, 69 Dilaporkan Hilang, Kondisi Medan Sulit,  Jalur Terputus

3
×

Galodo di Nagari Salareh Aia Luluhlantakkan 4 Jorong, 60 Orang Tewas, 69 Dilaporkan Hilang, Kondisi Medan Sulit,  Jalur Terputus

Sebarkan artikel ini
GALODO— Ratusan warga di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, menjadi korban galodo. 60 jenazah sudah ditemukan dan 69 lagi masih dicari.

AGAM, METROBencana banjir bandang meluluhlantakkan empat jorong di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Kamis (27/11) sekitar pukul 17.15 WIB. Peristiwa ini dipicu curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak siang hari.

Tidak hanya menghancurkan rumah-rumah warga maupun fasilitas umum, banjir bandang yang membawa material lumpur, batu-batu besar dan pohon, ratusan warga setempat dilaporkan tewas dan hilang. Para korban mulai dari anak-anak, dewasa hingga lansia.

Berdasarkan data resmi BPBD Kabupaten Agam hingga Jumat (28/11) pukul 20.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 60 orang di Kecamatan Palembayan. Sementara itu, 69 warga lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.

Kepala BPBD Agam Rahmad Lasmono  mengatakan operasi pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan di wilayah Kecamatan Palembayan. Pihaknya mengerahkan semua kekuatan bersama instansi terkait lainnya untuk mempercepat pencarian terhadap para korban.

“Data Pusdalops PB BPBD Kabupaten Agam per Jumat (28/11), pukul 20.00 WIB, total korban meninggal telah mencapai 60 orang, sementara 69 lainnya masih dinyatakan hilang, Jadi 129 total korban,” ujar Rahmad Lasmono.

Rahmad Lasmono menyebut kondisi di lapangan sangat berat, dengan sebaran korban di empat jorong dan medan pencarian yang tertutup material banjir bandang. Data ini terus bergerak karena proses evakuasi dan identifikasi masih berlangsung. Tim juga masih mencari 69 korban yang dilaporkan hilang.

“Selain korban jiwa, bencana di Agam, puluhan KK terdampak bencana juga telah dievakuasi ke tempat sementara, di Malalak terdapat 135 KK diungsikan, di Kecamatan Matur 300 KK, di Kecamatan Palembayan 43 KK, di Kecamatan Ampek Nagari 75 KK dan di Kecamatan Palupuah 30 KK,” ujar dia.

Baca Juga  Dengar Suara Tembakan, Nyali Pengedar Sabu Ciut

Ia menambahkan, bencana banjir dan longsor juga menimbulkan kerusakan. Tercatat 49 rumah rusak berat, 26 rumah rusak sedang dan 468 rusak ringan. Di samping itu, 55 sekolah juga ikut terdampak akibat bencana.

“Wilayah terdampak bencana banjir serta longsor akibat cuaca ekstrem di Kabupaten Agam meliputi 16 kecamatan. Masyarakat diimbau untuk terus waspada mengingat curah hujan masih tinggi,” ujarnya.

Identitas ke 60 korban meninggal di Kecamatan Palembayan di antaranya, di Jorong Pasa Koto Alam sebanyak 27 Orang yaitu Rika, Nawar, Monik (, Ranti (Koto Alam), Aisyah, Siyur, Erik, Si Aih, Si Em, Agusri, Kaider, Widya Ningsih, Naila, Nabila, Revan Kipli, Zara, Uci Sunu, Kasmawati, Safrudin, Nabila, Iwik. Ditambah 6 orang identitas belum diketahui.

Selanjutnya, di Kampung Tagah  tujuh orang meninggal, yaitu Betrina, Romi, Asmawati, Tek Jun, Edi Ajo, Bustamam, dan Leni. Di Kampung Tangah Timur  sembilan orang meninggal, yaitu Memet, Ni Mis, Pelangi, Piak Aluih, Celsibustamam, Alif, Yur Boy, Pak Pudin, dan Sariati.

Di Jorong Subarang Aia sebanyak 17 orang meninggal yaitu Zahara, Iyen Toko, Sidem, Febi, Iseh, Dewi, Mak Aguih, Azam, Wahyu, Iwik, Abibi, Tek Da, Simal, Heru, Mimi, Ratih, dan Tek Sidan.

Sementara, data yang masih hilang, di Koto Alam tiga orang yaitu Mak Dahan, Piano, dan Sides.

Selanjutnya di Kampung Tangah 12 orang yaitu Anak Endrizal, Inderawati, Simon, Safrudin, Anak Edi Ajo, Darnelis, Tek Nuraya, Anak Bustaman 1, Anak Bustaman 2, Sansiman, Kampuang Tanjung, dan Cucu Nipet. Di Kampung Tangah Timur 4 0rang yaitu Nelfi, Yuniarti, Fajrar, dan Rahma.

Baca Juga  Ketua DPD Sebut Penusukan Wiranto bukan Rekayasa

Di Subarang Aia, 50 orang hilang yaitu Iwel, Rudi, Fadil, Nisa, Silas, Ramon, Amit, Ipul, Mila, Aini, Ijun, Miki, Desi, Novi, Izur, Silai, Mai, Sidon, Monaih, Kanza, Tek Adin, Mak Ngeniang, Supak, Ilit, Sian, Sireh, Fani, Anak Fani 1, Anak Fani 2, Tek Ta, Iyyel, Anak Yel, Anak Miki 1, Anak Miki 2, Ilham, Anak Rapli, Anak Pebi, Anak Habibi, Iyek Muncak, Iyeh Nyak Bu­yuang, Siril, Iyon Kote, Mak Ngeniang, Sial, Si Pul, Anti, Anak Anti 1, Anak Anti 2, dan Unyil.

“Wilayah Subarang Aia menjadi lokasi dengan korban hilang terbanyak. Data kami ada 17 korban meninggal dan 50 orang hilang. Nama-nama yang hilang mayoritas berasal dari satu rumpun keluarga dan kelompok-kelompok kecil, menandakan skala sapuan banjir bandang yang sangat luas. Ini tantangan besar bagi tim SAR karena area tertimbun lumpur dan pepohonan,” jelasnya.

Rahmad Lasmono  menekankan bahwa proses pencarian belum berhenti. Kondisi medan sulit, jalur terputus, dan beberapa lokasi hanya bisa dicapai dengan perahu atau berjalan kaki. Namun pencarian korban tetap dilanjutkan.

“Tim SAR gabungan dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, relawan nagari, dan masyarakat terus berupaya mengevakuasi korban. Proses identifikasi dilakukan di beberapa posko darurat yang dibangun di Koto Alam dan Kampung Tengah. Kami mengimbau warga tetap melapor jika ada anggota keluarga yang belum ditemukan, me­ngingat beberapa korban ditemukan dalam kondisi sulit dikenali,” pungkasnya. (pry)