PADANG, METRO–Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor yang dipicu hujan lebat selama sepekan belakangan ini di Sumatra Barat (Sumbar) terus bertambah. Pada Kamis (27/11), sembilan orang meninggal dunia dan belasan orang dinyatakan hilang.
Rinciannya, 5 orang meninggal akibat banjir bandang di Lubuk Minturun Kota Padang, 9 orang karena banjir bandang di Nagari Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, enam orang meninggal akibat banjir bandang di Silaing Bawah, Kota Padangpanjang, dan satu orang tertimbun longsor di Pasaman Barat.
Selain korban yang ditemukan meninggal dunia diterjang banjir bandang dan longsor, saat ini masih ada 3 orang lagi yang dalam proses pencarian. Bahkan, belasan ribu warga dilaporkan terdampak bencana hidrometerologi basah di 13 kabupaten kota di Sumbar.
”Ada sembilan korban jiwa, yaitu lima orang dalam banjir bandang di Padang, sembilan orang dalam banjir bandang di Agam, satu orang dalam longsor di Pasaman Barat dan enam orang di Kota Padangpanjang,” kata Juru Bicara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Ilham Wahab, Kamis (27/11).
Banjir bandang di Padang terjadi di sekitar aliran Sungai Lubuk Minturun di Kecamatan Koto Tangah pada Kamis pagi. Pada hari yang sama, banjir bandang juga terjadi di Silaing Bawah, Kota Padangpanjang. Banjir bandang di Agam terjadi di Kecamatan Malalak, Rabu sore (26/11). Sementara itu, longsor di Pasaman Barat terjadi di Kecamatan Ranah Batahan, Rabu (16/11).
“Angka korban jiwa yang dirilis merupakan hasil pendataan hingga Kamis siang. Namun jumlah korban jiwa diduga masih bisa bertambah. Tim gabungan kini masih menyisir daerah-daerah yang terdampak parah sembari mengevakuasi warga yang terisolasi. Sebanyak 3 orang ini masih dalam tahap pencarian, tersebar di Sumbar,” jelas Ilham.
Sementara itu, di wilayah Padanganjang yang hari ini juga dihantam banjir bandang besar. Jembatan kembar di pintu masuk Kota Padang Panjang, diterjang banjir bandang, Kamis siang (27/11/). Material lumpur bercampur batang pohon menutupi jembatan.
“Karena petugas masih di lapangan untuk pencarian, datanya belum direkap. Data sementara, enam korban telah berhasil dibawa ke rumah sakit dengan kondisi luka-luka. Dampak banjir bandang ini, akses jalan Padang-Bukittinggi via Lembah Anai saat ini tidak bisa dilalui kendaraan,” ungkap Ilham.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatra Barat (Sekdaprov Sumbar), Arry Yuswandi menyampaikan perkembangan terbaru terkait dampak bencana alam akibat cuaca ekstrem yang melanda sejumlah daerah sejak 21 November lalu.
“Berdasarkan update data sementara per hari Kamis (27/11) pukul 12.00 WIB, total kerugian sebesar Rp 9 miliar lebih dan total korban yang meninggal 21 orang,” ujar Arry Yuswandi di Padang, Kamis (27/11).
Arry menambahkan, kerugian materi terbesar tercatat di Kabupaten Padangpariaman, yakni mencapai Rp4.891.000.000. Data tersebut bersumber dari laporan kejadian bencana yang dikirimkan Pusdalops 13 kabupaten/kota ke Pusdalops provinsi. Data sewaktu-waktu dapat berubah dan akan diperbarui secara berkala.
Arry menegaskan, Pemprov Sumbar terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi cuaca, ketinggian air, pergerakan tanah, dan seluruh titik rawan bencana melalui Pusdalops yang siaga 24 jam. Setiap perangkat daerah terkait juga telah diarahkan untuk bergerak cepat sesuai SOP tanggap darurat.
“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang, saling membantu, dan memperbanyak doa agar Sumatera Barat diberi perlindungan. Kita berharap bencana ini segera berlalu. Semoga Allah SWT menjaga seluruh masyarakat Sumatera Barat dari marabahaya,” tutup Arry.
Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy dalam rapat tingkat menteri secara virtual pada Kamis sore mengatakan, arus banjir dengan volume debit air besar menerjang sejumlah rumah yang berada di bantaran Sungai Minturun. Material batang pohon dan lumpur merusak rumah warga di Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang Selain banjir bandang di Lubuk Minturun, jembatan penghubung di Koto Luar, Kecamatan Pauh, Kota Padang, putus akibat dihantam material banjir bandang.
“Unsur organisasi perangkat daerah berupaya mengevakuasi para korban serta membersihkan material imbas bencana ini. Warga terdampak bencana di Sumbar lebih dari 60 ribu jiwa. Titik longsor di badan jalan yang amblas, pohon tumbang di beberapa kabupaten dan kota,” kata Vasco melalui keterangan tertulis BNPB.
Di Kelurahan Lubuk Minturun, banjir bandang terparah melanda perumahan Luminpark Cluster. Aliran Sungai Lubuk Minturun, berjarak sekitar 40 meter, meluap ke perumahan, kemudian membentuk satu aliran baru yang membelah kompleks tersebut.
Kamis siang, air berangasur surut, tetapi puluhan rumah tertimbun material lumpur dan pasir setebal 50 cm serta kayu-kayu yang dibawa banjir bandang. Belasan mobil dan puluhan sepeda motor juga tertimbun material banjir.
Merujuk data BNPB, arus banjir dengan volume debit air yang besar menerjang sejumlah rumah yang berada di bantaran Sungai Minturun. Material batang pohon dan lumpur juga merusak rumah warga di Lubuk Minturun, serta jembatan penghubung di Koto Luar, Kecamatan Pauh, Kota Padang, hanyut terbawa arus.
Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menyebut bencana imbas cuaca ekstrem ini berdampak ke 17 kelurahan di 7 kecamatan di Kota Padang.
“BPBD setempat masih melakukan pemutakhiran data dampak bencana hingga sore ini,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya.
Soal cuaca ekstrem ini, sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi dua siklon tropis yang memengaruhi kondisi cuaca untuk beberapa wilayah di Indonesia. Anomali cuaca itu salah satunya dirasakan oleh Sumatra Barat. Adapun dua siklon tropis yang terdeteksi ini, yaitu Siklon Tropis Koto dan Siklon Tropis Senyar.
Merujuk analisis BMKG pada Rabu, Siklon Tropis Senyar terpantau berada di sekitar wilayah Selat Malaka, sebelah timur Aceh. Laju angin maksimum badai ini mencapai 43 knot atau 80 kilometer per jam dengan tekanan udara 998 hPa. Namun, kecepatan siklon ini diprediksi menurun, meski masih dalam kategori 1. Mobilitasnya ke arah barat–barat daya menuju Indonesia.
Pusaran angin tersebut bisa menyebabkan hujan berintensitas sangat lebat atau ekstrem, serta angin kencang di Aceh dan Sumut. Ada juga potensi hujan berintensitas sedang hingga lebat di Sumbar dan Riau. Efek lain Siklon Tropis Senyar adalah gelombang tinggi maksimal 4 meter di Selat Malaka bagian utara, serta Samudera Hindia sebelah barat Aceh hingga Kepulauan Nias. (*)






