PAYAKUMBUH, METRO–Pemko Payakumbuh mulai memperkuat sistem penanganan kegawatdaruratan kesehatan melalui penyelenggaraan Workshop Kesiapsiagaan Kegawatdaruratan di Hotel Mangkuto, kemarin. Kegiatan yang diikuti sekitar 250 tenaga kesehatan dan tenaga pendukung ini menjadi bagian dari upaya membangun layanan darurat yang lebih cepat dan terkoordinasi.
Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta menyatakan kegiatan tersebut penting untuk meningkatkan kualitas respons di lapangan, terutama pada situasi yang menuntut kecepatan dan ketepatan penanganan. “Kegiatan ini sangat penting untuk memperkuat pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan tenaga kesehatan. Semua unsur yang terlibat memiliki peran strategis dalam penyelamatan nyawa,” kata Wako Zulmaeta.
Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan dan koordinasi menjadi kunci dalam memastikan layanan darurat berjalan efektif. Menurutnya, tenaga kesehatan tidak hanya harus memahami prosedur, tetapi juga mampu mengambil keputusan cepat dalam kondisi mendesak. Zulmaeta berharap kegiatan tersebut memberikan dampak langsung dan mampu memperkuat kesiapan daerah dalam menghadapi berbagai kejadian darurat. “Kami berharap workshop ini memperkuat kualitas pelayanan darurat di Payakumbuh, sehingga masyarakat dapat memperoleh penanganan cepat dan profesional,” tutupnya.
Dalam workshop ini, peserta mendapatkan pembekalan terkait tiga kompetensi inti penanganan darurat. Yang meliputi Pemahaman kebijakan dan protokol penanggulangan kegawatdaruratan. Kemudian kemampuan mengidentifikasi tingkat kegawatan korban serta keterampilan praktik Bantuan Hidup Dasar (BHD) serta Resusitasi Jantung Paru (RJP).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh Yanti menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari penguatan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang mulai dikembangkan di daerah. “SPGDT sudah mulai kita proses di Payakumbuh. Salah satu bentuknya adalah beroperasinya klinik Cegak Basamo di Mal Pelayanan Publik, yang setiap hari memberikan layanan kegawatdaruratan dengan dukungan petugas dari tim SPGDT,” kata Yanti.
Workshop ini digelar bekerja sama dengan UPTD BKOM dan lembaga pelatihan kesehatan untuk memastikan materi yang diberikan sesuai standar nasional. Penguatan SPGDT menuntut integrasi berbagai unsur, mulai dari fasilitas kesehatan, kesiapan ambulans, hingga jalur komunikasi dan koordinasi lintas instansi. Dinas Kesehatan menilai peningkatan kapasitas SDM menjadi langkah awal yang harus dipenuhi sebelum memasuki tahap pembenahan sistem lainnya. “Kita ingin memastikan bahwa setiap tenaga kesehatan memiliki keterampilan dasar yang sama dalam menangani situasi darurat. Ini penting untuk membangun sistem yang terkoordinasi,” pungkasnya. (uus)






