PADANG, METRO–Cuaca ekstrem kembali melanda sejumlah daerah di Sumatra Barat (Sumbar) memicu terjadinya bencana banjir dan tanah longsor di beberapa kabupaten dan kota. Hingga Selasa (25/11), bersasarkan data dari BPBD Sumbar, sebanyak 13 daerah di Sumbar dilanda bencana.
Juru Bicara BPBD Sumbar Ilham Wahab menyampaikan bahwa 13 daerah tersebut mengalami bencana alam beragam, mulai dari banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga pohon tumbang akibat cuaca ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Sumbar.
“13 daerah yang terkena bencana meliputi Padang, Padangpariaman, Kota Solok, Agam, Kota Pariaman, Bukittinggi, Padangpanjang, Tanahdatar, Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Pasaman, Pasaman Barat, dan Limapuluh Kota,” kata Ilham Wahab.
Menurut Ilham, puluhan ribu rumah warga terdampak banjir dan ribuan warga harus mengungsi. Bencana hidrometeorologi tersebut juga menyebabkan sejumlah titik jalan amblas, bangunan rusak, lahan pertanian terendam, serta kerusakan infrastruktur lain.
“Kami melihat dampak bencana di November ini merupakan dampak yang parah sepanjang tahun 2025 ini. Dari seluruh wilayah terdampak, kondisi terburuk terjadi di Kabupaten Padangpariaman. Banjir merendam 3.326 unit rumah yang dihuni 10.042 jiwa,” jelas Ilham.
Ilham menuturkan, dari jumlah itu, 13 unit rumah hanyut dan 15 unit lainnya mengalami kerusakan. Pihaknya mencatat akibat cuaca hujan dengan intensitas tinggi itu menyebabkan banjir setinggi 30 hingga 150 cm di beberapa wilayah Kabupaten Padangpariaman.
“Sementara, Kabupaten Agam juga mencatat bencana tanah longsor cukup parah dengan panjang jalan tertimbun mencapai 10 meter. Selain itu, jalan amblas teridentifikasi sepanjang sekitar 200 meter. Saat ini kami sedang mendata dampak dari bencana ini,” kata Ilham.
Menurut Ilham, pihaknya juga bergerak cepat dengan membantu mengevakuasi warga yang terjebak banjir. Pihaknya telah menyalurkan bantuan ke sejumlah lokasi evakuasi warga sehingga yang terdampak bisa mendapatkan makanan.
Kerugian Bencana di Sumbar Hampir Rp 5 Miliar
Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi mengatakan estimasi kerugian akibat bencana banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem mencapai hampir Rp 5 miliar. Namun, angka tersebut masih bersifat sementara berdasarkan laporan kabupaten/kota per Selasa (25/11) pukul 16.00 WIB.
“Angka kerugian tersebut berpotensi bertambah seiring proses asesmen detail yang masih berlangsung. Perkiraan kerugian sementara sekitar Rp 4,9 miliar lebih. Tim di lapangan terus melakukan verifikasi agar kita mendapatkan gambaran menyeluruh terkait dampak bencana dan kebutuhan intervensi pemulihan,” ujar Arry, Selasa (25/11).
Sekda memastikan, sejak awal kejadian, Pemprov Sumbar sudah menggerakkan seluruh perangkat untuk percepatan penanganan darurat, pemulihan akses, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga. Ia pun menegaskan koordinasi lintas sektor terus diperkuat agar respons berjalan cepat dan terarah.
“Kita bekerja dalam satu sistem komando. BPBD berada di garis depan, didukung OPD teknis, TNI dan Polri, serta pemerintah kabupaten/kota. Akses jalan dibuka, distribusi bantuan berjalan, dan layanan dasar diupayakan tetap stabil,” ujarnya.
Arry menambahkan bahwa asesmen menyeluruh terhadap rumah warga, fasilitas umum, lahan pertanian, dan infrastruktur akan dipercepat segera setelah kondisi lapangan memungkinkan.
“Data kerusakan yang valid sangat penting bagi pemerintah untuk menghitung kebutuhan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Kita ingin proses pemulihan berjalan cepat dan tepat sasaran,” tutupnya. (*)





