METRO BISNIS

Likuiditas Perekonomian Nasional Tumbuh 7,7 Persen, Uang Beredar Naik Tembus Rp 9.873 Triliun

0
×

Likuiditas Perekonomian Nasional Tumbuh 7,7 Persen, Uang Beredar Naik Tembus Rp 9.873 Triliun

Sebarkan artikel ini
1 53
PEREDARAN UANG— Bank Indonesia mencatat pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) sebesar 7,7 persen pada Oktober 2025.

JAKARTA, METRO–Likuiditas perekonomian nasional terus menunjukkan penguatan. Bank Indonesia (BI) mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Oktober 2025. Posisi M2 pada periode tersebut mencapai Rp 9.783,1 triliun atau tumbuh 7,7 persen secara tahunan (YoY), sedikit melambat dibandingkan September 2025 yang tumbuh 8,0 persen (YoY).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, pertumbuhan M2 terutama dido­rong oleh peningkatan uang beredar sempit (M1) yang tumbuh 11,0 persen (YoY). Sementara itu, uang kuasi mencatat pertumbuhan 5,5 persen (YoY).

“Perkembangan M2 pada Oktober 2025 di­pe­nga­ruhi oleh aktiva luar negeri bersih, penyaluran kredit, dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus),” kata Denny di Jakarta, Jumat (21/11).

Aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 10,4 persen (YoY) pada Oktober 2025. Ini melambat diban­dingkan 12,6 persen (YoY) pada September, namun tetap menunjukkan aliran devisa yang kuat dari perdagangan internasional dan investasi asing. Dari sisi pembiayaan perbankan, penyaluran kredit pada Oktober 2025 tercatat tumbuh 6,9 persen (YoY), sedikit lebih rendah di­bandingkan 7,2 persen (YoY) pada bulan sebelumnya.

Baca Juga  Sidak SPPBE Bersama Pj Wali Kota Padang, Pertamina Pastikan Berat LPG 3 Kg Sesuai Aturan

Perlambatan tipis ini dinilai masih dalam rentang wajar di tengah normalisasi ekonomi dan dinamika suku bunga global. Sejalan dengan itu, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tumbuh 5,4 persen (YoY), setelah sebelumnya naik 6,5 persen (YoY) pada September.

BI menjelaskan bahwa data penyaluran kredit hanya mencakup pinjaman (loans) dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker’s acceptances) maupun transaksi repo.

“Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar ne­geri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan pendu­duk,” imbuhnya.

Baca Juga  Musrenbang Polda Sumbar Tahun 2025, Brigjen Pol Solihin: Program yang Dirancang Harus Bedampak Nyata bagi Masyarakat

Pekembangan Uang Beredar (M2) 2025, Januari, Posisi M2 Rp 9.232,8 Triliun, Pertumbuhan 5,9 persen (YoY), Februari, Posisi M2 Rp 9.239,9 Triliun, Pertumbuhan 5,7 persen (YoY), Maret, Posisi M2 Rp 9.436,4 Triliun, Pertumbuhan 6,1 persen (YoY), April, Posisi M2 Rp 9.390,0 Triliun, Pertumbuhan 5,2 persen (YoY).

Kemudian, Mei, Posisi M2 Rp 9.406,6 Triliun, Pertumbuhan 4,9 persen (YoY), Juni, Posisi M2 Rp 9.597,7 Triliun, Pertumbuhan 6,5 persen (YoY), Juli, Posisi M2 Rp 9.569,7 Triliun, Pertumbuhan 6,5 persen (YoY), Agustus, Posisi M2 Rp 9.657,1 Triliun, Pertumbuhan 7,6 persen (YoY), September, Posisi M2 Rp 9.771,3 Triliun, Pertumbuhan 8 persen (YoY). (jpg)