SAWAHLUNTO, METRO–Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kandi Sawahlunto butuh bantuan dana CSR dari pihak-pihak yang tidak tidak mengikat. Hal itu disampaikan oleh Kalapas Narkotika Kandi Ressy Setiawan kepada awak media yang hadir dalam acara jumpa pers di aula Lapas Narkotika.
Kalapas yang sudah 5 bulan menjabat di Sawahlunto ini, menyebutkan ada beberapa kendala yang ditemuinya dalam memberikan pembinaan kepada warga binaan Lapas Narkotika Kandi Sawahlunto.
Dikatakan Kalapas Ressy Setiawan, untuk Tahun ini 2025 kita punya program pembinaan berupa pembuatan batik arang dengan merek Batik Tangsi. Pilihan kepada Batik Tangsi, disesuaikan dengan sejarah Kota Sawahlunto yang merupakan orang tahanan penjajah Belanda, dimana penyebutan sel adalah tangsi. “Dari hal tersebut ke luar lah motif-motif berupa jeruji besi atau pagar kawat berduri simbol tahanan penjajah,” ujarnya.
Namun dikarenakan ada kebijakan dari Kemenkumham pada 2026, bahwa untuk pembinaan warga binaan Lapas harus dilaksanakan secara mandiri.
Maka pihak Lapas membutuhkan dukungan dari Pemko Sawahlunto yaitu Dinas Sosial dan dukungan dari CSR untuk membantu pendanaan peningkatan keterampilan warga binaan Lapas Narkotika Sawahlunto.
“Untuk saat ini Batik Tangsi sudah cukup banyak peminatnya, dari festival Batik yang kami ikuti yang diadakan di SILO dalam rangkaian acara Simfest. Dan juga dari promosi yang diadakan serta pemasaran yang dilakukan melalui Shopee. Selain pembinaan Batik Tangsi, kami juga akan melakukan pembinaan lainnya,” pungkasnya. (pin)






