PADANG, METRO–Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang menggelar pelatihan Alua Pasambahan dan Penyelenggaraan Jenazah, dengan tema, “Melalui Alua Pasambahan dan Penyelenggaraan Jenazah Kita Lestarikan Nilai-Nilai Adat Salingka Nagari”, Selasa (11/11).
Kepala Disdikbud Kota Padang, Yovi Krislova yang diwakili Kabid Kebudayaan, Syamdani mengatakan bahwa Kota Padang merupakan tempat bertemunta sejarah, adat dan kebudayaan, untuk itu perlu dilestarikan.
“Kota Padang bukan hanya dikenal sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan di pantai barat Sumatra, tetapi juga sebagai tempat bertemunya sejarah, adat, dan kebudayaan yang kaya. Dalam setiap denyut kehidupan masyarakatnya, masih terasa kuat prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” katanya.
Dengan terus berkembangnya zaman, arus modernisasi, globalisasi, dan teknologi digital membawa tantangan baru yang tidak bisa diabaikan.
Menurutnya, banyak generasi muda yang mulai kehilangan keterhubungan dengan akar budayanya. Mereka mengenal dunia luar dengan cepat, tetapi tidak selalu memahami dunia asalnya dengan dalam.
“Karena itu, pelatihan adat dan budaya seperti yang kita adakan hari ini menjadi sangat penting sebagai bentuk “mambangkik batang tarandam”—menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang sempat terpendam oleh perubahan zaman,” ungkapnya.
Selain itu, menurutnya pelatihan adat dan budaya merupakan salah satu jalan untuk memastikan bahwa nilai-nilai tersebut terus ditransfer dan dipraktikkan lintas generasi.
Dalam konteks Kota Padang, adat dan budaya bukan hanya bagian dari identitas, tetapi juga aset pembangunan.
Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari yakni dimulai pada Senin sampai Selasa (10-11/11). Dengan materi pada hari pertama adalah Sumbang Duo Baleh, yang dilanjutkan pada hari kedua dengan materi Alua Pasambahan jo Kematian, dan Aqiqah dan Fiqih penyelenggaraan jenazah.
Syamdani menyebut, pelatihan adat dan budaya juga merupakan ruang untuk memperkuat dialog antar generasi. Para ninik mamak dan bundo kanduang bukan hanya narasumber sejarah, tetapi juga sumber kebijaksanaan hidup yang relevan dengan zaman kini.
“Dari mereka kita belajar tentang arti tanggung jawab sosial, solidaritas kaum, dan etika dalam bermusyawarah. Sementara bagi generasi muda, pelatihan ini adalah kesempatan untuk menemukan kembali makna dirinya di tengah dunia yang serba cepat,” katanya. (brm)





