BUNGUS, METRO–Ribuan warga tumpah ruah di kawasan Kecamatan Bungus, Teluk Kabung, Kota Padang, Minggu pagi (9/11). Mereka datang dengan membawa anjing pemburu peliharaan masing-masing.
Mereka datang dan berkumpul di tengah sawah yang tanaman padinya baru saja panen. Di tengah sawah itu, anjing-anjing peliharaan dilepaskan dari kala yang mengikat lehernya oleh pemiliknya ke tengah sawah.
Beberapa dari anjing-anjing yang diberi merek menggunakan cat pada bagian tubuh hewan tersebut, itu berlari cukup kencang sambil menyalak ke tengah sawah.
Anjing-anjing tersebut berlari ke balik hamparan sawah menuju hutan. Mereka berlari mengejar sesuatu dengan insting mereka, yakni hewan perusak tanaman babi hutan.
Kehadiran ribuan masyarakat pecinta anjing pemburu ini berdampak suasana di Bungus cukup ramai. Macet tidak terhindarkan dengan kehadiran kendaraan yang dilengkapi kandang anjing pada bagian belakang. Ekonomi masyarakat Bungus pun menggeliat dengan hadirnya pedagang dadakan, PKL dan kedai-kedai yang buka sejak pagi.
Hari itu ajang Buru Alek Persatuan Olahraga Buru Babi Indonesia (PORBBI) Sumatera Barat (Sumbar). Melalui perhelatan tersebut, anjing-anjing dilepas untuk memburu babi-babi hutan, hama yang merusak tanaman padi dan perkebunan masyarakat.
Kehadiran ribuan masyarakat pecinta anjing pemburu ini datang tidak hanya dari berbagai daerah di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Tetapi juga datang dari provinsi tetangga seperti, Riau, Bengkulu, Jambi, Jakarta, hingga Jawa Barat.
Kegiatan yang mengusung tema “Duduak Surang Basampik-sampik, Duduak Basamo Balapang-lapang” ini tidak hanya menjadi ajang olahraga tradisional, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi antar perantau dan masyarakat pecinta tradisi Minangkabau.
Ketua PORBBI Sumbar, H. Verry Mulyadi mengatakan, kegiatan ini warisan budaya yang perlu dilestarikan. Kegiatan tersebut bertujuan tidak hanya mengendalikan hama babi, tetapi juga menumbuhkan semangat gotong royong dan mempererat silaturahmi.
“Kegiatan buru alek sudah menjadi bagian dari budaya Minang yang penuh nilai gotong royong dan kebersamaan. Ini bukan sekadar olahraga, tetapi wadah mempererat silaturahmi dan menjaga kearifan lokal. Melalui Buru Alek Bungus 2025 ini, PORBBI tidak hanya memperkuat identitas budaya Minang, tetapi juga meneguhkan semangat gotong royong, ciri khas masyarakat Sumatera Barat,” ujar Sekretaris Komisi IV DPRD Sumbar itu.
Politisi dari Partai Gerindra itu menyebut, kegiatan ini juga telah masuk dalam 10 besar kalender budaya Sumbar, dan akan terus dikembangkan, agar lebih dikenal secara nasional. “Insya Allah Desember 2025 nanti akan digelar di Kabupaten Pesisir Selatan, dan untuk tahun 2026 akan kita laksanakan di Solok dan Sijunjung,” tambahnya.
Verry Mulyadi menuturkan selain kegiatan berburu, PORBBI juga meluncurkan dua program unggulan, yakni PORBBI Rescue dan PORBBI Peduli. Program tersebut bertujuan membantu masyarakat saat terjadi bencana alam. Termasuk juga fokus pada kegiatan sosial seperti membantu anggota yang sakit atau tertimpa musibah.
Dengan semakin tingginya animo masyarakat mengikuti kegiatan berburu babi ini, juga telah menjadi perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar.
Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Jefrinal Arifin menilai ajang seperti ini perlu dikembangkan lebih luas. “Acara ini bisa menjadi event budaya besar bahkan se-Sumatera. Selain menjaga silaturahmi, kegiatan buru babi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga dan membantu petani menjaga ladangnya dari hama,” ungkap Jefrinal.
Ia berharap kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi salah satu ikon budaya khas Sumbar yang mampu menarik wisatawan serta memperkuat persaudaraan antar komunitas. (fan)






