JAKARTA, METRO–Transaksi judi online (judol) tahun ini masih cukup besar. Berdasar data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), hingga kuartal III 2025, nilai transaksi judol sebesar Rp 155 triliun. Angka itu diklaim menurun 57 persen dibandingkan total transaksi sepanjang 2024 yang mencapai Rp359 triliun.
“Memang terjadi penurunan sangat signifikan. Artinya hingga saat ini kami semua dengan kolaborasi yang sangat kuat, tentunya di bawah arahan bapak presiden, telah terjadi penurunan sampai 57 persen transaksi terkait dengan judi online,” klaim Kepala PPATK Ivan Yustiavandana pasca pertemuan tertutup dengan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid di kantornya, di Gambir, Jakarta Pusat, kemarin (6/11).
Penurunan juga disebutkannya terjadi pada jumlah dana deposit pemain judi online. Tahun lalu, nilai deposit masyarakat mencapai Rp 51 triliun, sedangkan hingga kuartal III tahun ini menyentuh angka Rp24,9 triliun atau turun lebih dari 45 persen.
Menurut Ivan, penurunan itu merupakan hasil kolaborasi lintas lembaga. Utamanya, PPATK bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang gencar melakukan pemblokiran situs dan rekening yang terindikasi terlibat dalam transaksi judi online. “Akses masyarakat terhadap situs judi online sudah berkurang 70 persen,” tegasnya.
Selain itu, jumlah pemain dengan penghasilan di bawah Rp5 juta per bulan, yang menjadi kelompok paling rentan, juga menurun tajam.
“Saat dibandingkan tahun 2024, jumlah pemain dengan kategori penghasilan rendah sudah berkurang 67,92 persen. Sementara secara keseluruhan jumlah pemain judi online per hari ini (6/11), kuartal III sudah berkurang 68,32 persen dibandingkan dengan tahun 2024,” terangnya.
Di lokasi yang sama, Menkomdigi Meutya Hafid menuturkan, kedatangannya ke kantor PPATK itu untuk memastikan kebenaran data transaksi judol yang ada PPATK.












