SAWAHLUNTO, METRO – Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto melaksanakan bagi-bagi kipas, leaflet dan kelambu berinsektisida pada masyarakat di depan Gedung Pusat Kebudayaan (GPK), Jumat (26/4). Kegiatan ini dilakukan dalam memeriahkan Hari Malaria Sedunia.
“Hari ini kami melakukan bagi-bagi kipas, leaflet dan kelambu pada masyarakat sebagai bentuk sosialisasi Dinas Kesehatan dalam menjaga kesehatan terutama dalam kasus malaria,” ujar Kepala Bidang Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto, Dokter Al Anshari bersama Kasi P2P, Sriwaresky Ismal.
Ia menambahkan, dalam tiga tahun terakhir, kasus malaria di Sawahlunto sudah mulai menurun dengan angka parasit insiden kecil dari 1 (zona hijau) hingga sekarang dalam proses untuk mendapatkan bebas malaria dari Kemenkes RI.
“Pada peringatan Hari Malaria Sedunia 2019 ini, organisasi kesehatan dunia WHO mengusung tema “Zero Malaria Starts with Me” yang berarti, Nol Malaria Dimulai dari Saya dan bebas malaria prestasi bangsa,” sebutnya.
Sriwaresky Ismal menambahkan, malaria adalah penyakit yang menyebar melalui gigitan nyamuk anopheles yang sudah terinfeksi parasit plasmodium. Infeksi malaria bisa terjadi hanya dengan satu gigitan nyamuk.
Ia menjelaskan, gejala malaria biasanya akan muncul antara satu sampai dua minggu setelah tubuh terinfeksi. Gejala juga bisa muncul setahun setelah gigitan nyamuk, namun kasus ini jarang terjadi. Gejala-gejala malaria umumnya terdiri dari demam, berkeringat, menggigil atau kedinginan, muntah-muntah, sakit kepala, diare, dan nyeri otot.
Ia menjelaskan, pada dasarnya, malaria bisa dihindari. Untuk mencegah penularan malaria antara lain dengan menghindari diri dari gigitan nyamuk adalah cara yang paling penting untuk mencegah penularan malaria. “Kemudian, menggunakan kelambu berinsektisida tahan lama yang dapat mencegah dan melindungi dari gigitan nyamuk Anopheles saat tidur, menyingkirkan genangan air di sekitar rumah, memakai lotion anti nyamuk dan lainnya,” pungkasnya. (zek)





