PDG. PANJANG, METRO–Ribuan masyarakat tumpah ruah di Gelanggang Pacuan Kuda Bancalaweh, Minggu (26/10), menyaksikan pembukaan Pacu Kuda Gubernur Cup III Alek Anak Nagari Padang Panjang, Batipuah, dan X Koto (Pabasko). Momen ini bukan hanya tentang adu cepat kuda dan joki, tetapi juga simbol persatuan anak nagari, warisan budaya, dan kebangkitan ekonomi masyarakat.
Perwakilan Niniak Mamak Pabasko, Datuak Kupiah menyampaikan rasa bangga dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh panitia, anak nagari, dan masyarakat yang telah bekerja keras tanpa kenal lelah demi terlaksananya kegiatan besar ini. “Atas nama Niniak Mamak se-Pabasko, kami mengucapkan terima kasih kepada anak-anak nagari yang sudah pontang-panting menyiapkan alek besar ini. Mudah-mudahan dengan niat baik ini, kegiatan berjalan lancar dan menjadi ajang silaturahmi yang mempererat kita semua,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan nilai-nilai adat Minangkabau yang menjadi akar pacu kuda tradisional ini.
“Pergunakanlah gelanggang pacuan ini sebagai wadah mempersatukan anak nagari. Jangan sampai kita terpecah belah. Niniak Mamak siap mendukung dan akan selalu berada di barisan depan untuk menjaga alek nagari ini tetap hidup dan berkembang,” tegasnya.
Lebih lanjut, Datuak Kupiah menyinggung nilai historis Gelanggang Bancalaweh, yang dahulu merupakan hasil kesepakatan para niniak mamak se-Pabasko untuk membangun gelanggang pemersatu nagari. “Gelanggang ini saksi sejarah. Dari sinilah semangat kebersamaan itu tumbuh. Maka mari kita jaga dan kembangkan agar jadi kebanggaan Pabasko, bahkan Sumatera Barat,” tambahnya penuh haru.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sumbar, Erick Hamdani Datuak Ambasa, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya event ini.
“Pacu kuda di sini sangat kental dengan nilai adat dan budaya. Pemerintah Provinsi tentu sangat mendukung agar gelanggang Bancah Laweh bisa menjadi arena pacuan berskala nasional. Kita ingin cita-cita niniak mamak se-Pabasko untuk menggelar pacuan nasional segera terwujud,” ujarnya.
Erick menambahkan, alek pacu kuda bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan juga motor penggerak ekonomi lokal. “Keramaian ini memberi dampak langsung. Pedagang kecil dan UMKM meningkat omzetnya, masyarakat tersenyum, ekonomi berputar. Ini bukti bahwa budaya dan ekonomi bisa berjalan seiring,” jelasnya.














