METRO SUMBAR

Damkar Limapuluh Kota, Turun Tangan Perbaiki Sekolah Rusak

0
×

Damkar Limapuluh Kota, Turun Tangan Perbaiki Sekolah Rusak

Sebarkan artikel ini
WAWANCARA—Kadis Damkar Lima Puluh Kota Alfian, saat diwawancarai oleh wartawan

LIMAPULUH KOTA, METRO  –Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Limapuluh Kota kembali menunjukkan peran aktifnya dalam membantu masyarakat, tak ha­nya dalam memadamkan api, tetapi juga dalam penanganan dampak bencana pekan lalu. Sebuah ruang kelas di SD Negeri 01 Bukit Limbuku mengalami kerusakan parah akibat tertimpa pohon tumbang yang disebabkan angin kencang.

Meski tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, proses belajar mengajar sempat terganggu karena ruang kelas tidak dapat digunakan.

Kepala Dinas Damkar Limapuluh Kota, Alfian, menjelaskan bahwa pihaknya segera merespons laporan warga terkait pohon tumbang tersebut.

“Begitu menerima laporan, kami langsung menuju ke lokasi dan ber­koordinasi dengan BPBD. Proses eva­kuasi pohon selesai hari itu juga,” ujar Alfian.

Namun, kerusakan yang terjadi cukup signifikan, terutama pada bagian kuda-kuda dan atap bangunan, se­hingga ruang kelas dinyatakan tidak layak pakai. Mengingat keterbatasan ruang belajar dan proses pengajuan anggaran pemerintah yang memerlukan waktu, Damkar mengambil langkah cepat dengan menginisiasi penggalangan dana gotong royong.

Inisiatif tersebut mendapat sambutan luas. Bantuan mulai mengalir dari berbagai pihak, di antaranya BPBD, PMI, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Pemerintah Nagari, serta masyarakat sekitar.

Kepala Sekolah SDN 01 Bukit Limbuku, Gita Ristalia, mengungkapkan rasa harunya atas bantuan dan ke­pedulian semua pihak.

“Kami sempat bingung harus belajar di mana. Alhamdulillah, berkat gotong royong semua pihak, kelas bisa diperbaiki tanpa menunggu anggaran pemerintah,” ujar Gita.

Dalam waktu singkat, perbaikan berhasil diselesaikan dan ruang kelas kembali dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Alfian menegaskan bahwa kejadian ini menjadi bukti nyata pentingnya kolaborasi lintas sektor dan semangat gotong royong dalam mengatasi persoalan masya­rakat secara cepat. “Kalau hanya menunggu APBD, butuh waktu lama. Tapi dengan gotong royong, semua­nya selesai dalam hitungan hari,” tutup Alfian. (uus)