PAYAKUMBUH/50 KOTA

Mengembalikan Citra Minangkabau, Wawako: Hadirnya LAKAM Menjadi Tantangan

0
×

Mengembalikan Citra Minangkabau, Wawako: Hadirnya LAKAM Menjadi Tantangan

Sebarkan artikel ini
UCAPAN SELAMAT— Wawako Payakumbuh Elzadaswarman memberikan selamat kepada Ketua DPD LAKAM Payakumbuh, Pahlefi Mazni Dt. Bandaro Nan Balidah

PAYAKUMBUH, METRO –Semangat untuk membangkitkan kembali nilai-nilai luhur adat Minangkabau menggema di Aula Galau Indah Kantor Wali Kota Pa­yakumbuh, Rabu (8/10).

Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman menghadiri langsung pelantikan pengurus DPD Lembaga Advokasi Kebudayaan dan Adat Minangkabau (LAKAM) Kota Payakumbuh. Dalam acara yang penuh nuansa adat tersebut, Ketua DPD LAKAM Payakumbuh, Pahlefi Mazni Dt. Bandaro Nan Balidah,berserta seluruh pengurus resmi dilantik oleh Ketua DPP LAKAM Provinsi Sumatera Barat, Azwar Siri Prosesi pelantikan berlangsung khidmat, diiringi doa bersama dan petatah-petitih adat yang sarat makna kebersamaan.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Elzadaswarman menekankan bahwa hadirnya LAKAM di Payakumbuh bukan sekadar simbol, tetapi menjadi tanta­ngan moral dan budaya untuk mengembalikan citra Minangkabau sebagai tanah yang beradat, berilmu, dan bermartabat.

“Hadirnya LAKAM me­ru­pakan suatu tantangan untuk mengembalikan citra Minangkabau seperti pepatah kita, sarak mangato, adat memakai. Karena di dalamnya ada unsur advokasi, edukasi, pembinaan, dan mediasi,” ujar Elzadaswarman.

Ia berharap, kehadiran LAKAM dapat menjadi energi baru dalam menghidupkan kembali semangat mam­bangkik batang tarandam, mengangkat kembali nilai-nilai yang mulai teng­gelam.

“Kami berharap dengan adanya LAKAM ini, sema­ngat Minangkabau kembali bangkit. Kepada pengurus LAKAM Payakumbuh yang baru dilantik, jadilah contoh bagi organisasi lain. Tunjukkan bahwa LAKAM mampu menjaga marwah adat dan memperkuat prinsip adat basandi sarak, sarak basandi Kitabullah,” pesan Wawako.

Acara pelantikan ini turut dihadiri oleh Ketua DPP LAKAM Provinsi Sumatera Barat Azwar Siri, unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, perwakilan Kerapatan Adat Nagari (KAN), serta Bundo Kanduang dari berbagai kecamatan di Payakumbuh.

Kehadiran para tokoh adat dan pemerintah ini menandai kuatnya sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat adat dalam melestarikan budaya lokal. Melalui LAKAM, diharapkan muncul gerakan bersama yang mampu memperkuat jati diri Minangkabau di te­ngah arus modernisasi. “Adat itu tidak boleh hanya jadi simbol atau seremoni. Ia harus hidup dalam pe­rilaku, dalam tutur, dan da­lam ke­seharian masyarakat kita,” tambah Elzadaswarman.

Dengan semangat kebersamaan itu, Payakumbuh kembali meneguhkan diri sebagai kota beradat dan berbudaya, tempat di mana nilai Minangkabau terus tumbuh dan diwariskan lintas generasi. (uus)