SOLOK/SOLSEL

Atasi Penyakit Sosial di Tengah Masyarakat, Masjid Sebagai Pusat Dakwah, Pendidikan dan Kontrol Sosial

0
×

Atasi Penyakit Sosial di Tengah Masyarakat, Masjid Sebagai Pusat Dakwah, Pendidikan dan Kontrol Sosial

Sebarkan artikel ini
RAPAT KOORDINASI— Wakil Bupati Solok Candra melakukan rapat koordinasi bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Solok.

SOLOK, METRO–Wakil Bupati Solok, Candra menegaskan pentingnya fungsi masjid sebagai benteng moral guna mengatasi semakin maraknya penyakit sosial di tengah tengah masyarakat.

“Masjid bukan sekadar tempat ibadah, tapi harus jadi pusat dakwah, pendidikan, dan kontrol sosial. Kita tidak boleh lelah mencari solusi,” tegasnya.

Untuk mendukung sikap tersebut, Peme­rintah Kabupaten Solok bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Solok menggelar rapat koordinasi. Kegiatan ini membahas penguatan peran masjid dalam menangani berbagai penyakit masyarakat, seperti narkoba, perilaku LGBT, dan aliran menyimpang.

Ia mengungkapkan, pertemuan ini meru­pakan tindak lanjut dari Rakorda sebelumnya di Gedung Solok Nan Indah. Bahkan, Ia juga telah berdiskusi dengan tiga mantan Bupati Solok untuk menyatukan persepsi dan strategi.

“Kita sepakat menyusun regulasi bersa­ma, termasuk lewat Peraturan Nagari. Contohnya, di Paninggahan sudah 24 tahun tidak boleh ada hiburan malam orgen tung­gal. Ini bentuk kearifan lokal yang efektif menjaga moral masyarakat,” tambahnya.

Perwakilan Kementerian Agama Kabu­paten Solok menambahkan, pihaknya kini tengah fokus memperkuat 372 masjid dan 856 mushalla yang ada di wilayah tersebut. “Masjid harus ramah perempuan, lansia, disabilitas, hingga musafir. Kita ingin masjid jadi pusat peradaban umat,” ujar perwakilan Kemenag.

Kemenag juga mendorong agar masjid-masjid di jalan lintas dijadikan percontohan untuk pelayanan ibadah yang inklusif dan nyaman bagi semua jamaah.

Sementara itu, Ketua MUI Kabupaten Solok, Aprijal Harun menyebut kegiatan ini adalah bentuk nyata komitmen bersama antara ulama dan pemerintah dalam memper­baiki kondisi sosial masyarakat. “Kami ucapkan terima kasih kepada Pemkab Solok atas dukungan penuh kegiatan ini. Ini bukti nyata kolaborasi ulama dan umara,” ujarnya.

Acara ini diikuti 76 peserta dari MUI, Muhammadiyah, Tarbiyah, dan NU, serta tokoh-tokoh dari tingkat kecamatan dan nagari.  MUI juga menghadirkan dua nara­sumber, yakni Huriyatul Akmal, M.Si dari UIN Imam Bonjol Padang dan Buya Gusrizal Gazahar dari MUI Provinsi Sumbar. (vko)