METRO BISNIS

Laku Keras di Pasaran, Beras SPHP Stabilkan Harga Beras Lokal

1
×

Laku Keras di Pasaran, Beras SPHP Stabilkan Harga Beras Lokal

Sebarkan artikel ini
LAYANI PEMBELI—Pedagang beras di Pasar Ibuh Kota Payakumbuh saat melayani pembeli.

PAYAKUMBUH, METRO–Beredarnya beras Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Perum  Bulog di pasaran dan gencarnya Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diselenggarakan di berbagai Kabupaten Kota, berkat kolaborasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumbar bersama Perum Bulog dan Pemerintah Daerah (Pemda) berdampak stabilnya harga beras lokal.

Pasalnya, kehadiran beras SPHP di pasaran, menjadi alternatif bagi masyarakat karena harganya jauh di bawah harga beras lokal. Dampaknya, beras SPHP ini laku keras di pasaran karena rata-rata dijual 65 ribu per karung 5 Kg atau Rp 13.000 per Kg.

Sedangkan harga beras lokal jenis beras Solok, Anak Daro, Sokan, Kuruik Kusuik, Kuruik Cantik, dan jenis lainnya masih mahal. Bahkan jenis Anak Daro di jual seharga Rp 170-180 ribu rupiah perkarung 10 Kg harga jenis Sokan Rp 160.000,­ Kuruik Cantik Rp 160.000 masing-masing per karung 10 kg.

“Harga beras lokal ma­sih stabil dan bervariasi sesuai jenisnya. Berkisar antara 150-180 ribu per karung 10 Kg. Dan beras SPHP ini baru masuk dengan harga murah dari beras lokal, per karung 10 kg ini dijual 130 ribu rupiah,” ungkap salah seorang pe­da­gang beras Nal atau toko beras Nal di Pasar Ibuah Timur, Kota Payakumbuh, Jumat (26/9).

Menurut Nal, adanya beras jenis SPHP dari Bulog memberikan pilihan baru bagi masyarakat dan tentu disesuaikan dengan daya beli masyarakat serta selera makan masya­ra­kat.

Baca Juga  Andre Rosiade Sebut PT WTR Berperan dalam Investasi Jalan Tol di Indonesia

“Ini tentu jadi pilihan baru bagi masyarakat, dan tentu disesuaikan dengan daya beli dan selera ma­sya­rakat,” ungkapnya.

Dikatakan Nal, permin­taan masyarakat terhadap beras SPHP dari Bulog ini cukup tinggi. Dirinya mengakui baru dua kali mendapatkan stok beras SPHP. Di mana satu kali kedatangan stok, mencapai dua ton dan habis dalam satu Minggu.

“Kita mendapatkan stok­ SPHP sekali datang 2 Ton. Baru dua kali kita dapat. Biasanya habis dalam satu Minggu. Peminatnya memang sangat tinggi, karena harganya jauh di bawah harga beras lokal,” jelasnya.

Dirinya menilai dengan adanya beras SPHP, akan mempengaruhi harga beras lokal atau beras jenis lain. Meski saat ini belum terlihat, mengingat harga beras lokal masih stabil.

“Pengaruhnya ke beras lain, ada juga. Karena harga beras lokal memang mahal. Jadi kalau lama atau terus menerus ada beras SPHP ini bisa jadi harga beras lokal turun,” sebutnya.

Hal serupa juga disam­pai­­kan Yul. Menurutnya ada­nya beras jenis SPHP tentu akan memberikan pilihan lain kepada masya­ra­kat apalagi harganya murah.

“Harganya murah, dan masyarakat itu membeli sesuai dengan kemampuan daya beli dan selera. Tapi tentu akan mempengaruhi harga beras lain,” ungkapnya.

Sementara, Tin, salah seorang masyarakat yang membeli beras menyebut harga beras jenis anak Daro, dibeli Rp 17.000 per Kg, artinya perkarung 10 kg Rp 170.000.  Harga itu, disampaikannya mengalami kenaikan sejak beberapa bulan terakhir. Sebab, sebelumnya harga beras jenis anak Daro, dibelinya seharga 150-160 ribu per 10 Kg.

Baca Juga  Menara Agung Ajak Komunitas Motor Honda Nobar MotoGP

“Harganya naik, dari sebelumnya 150-160, menjadi 170 ribu per Kg.  Kenaikan harga beras itu sudah sejak dua belum terakhir. Semuanya mahal, harga cabe, bawang merah, sa­yur, tapi yang memberatkan sekali memang harga beras ini. Makanya, saya sekarang lebih memilih beras SPHP karena selisih harganya jauh dengan lo­kal,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pangan Provinsi Sumbar, Iqbal Ramadi Payana mengatakan, seiring masifnya intervensi stabilisasi pasokan beras SPHP  di berbagai daerah, berdampak signifikan terhadap harga beras beras lokal. Menurutnya, saat ini harga beras lokal masih stabil.

“Pastinya, GPM yang saat ini gencar dilaksanakan di berbagai Kabupaten Kota, memberikan dampak terhadap harga beras lo­kal. Meski beras utama yang dikonsumsi masya­ra­kat Sumbar jenis perah. Tapi, dengan beredarnya SPHP bisa menjadi alternatif bagi masyarakat karena harganya jauh lebih murah,” tutur dia.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Provinsi Sumbar, Darma Wijaya mengatakan, pendistribusian beras SPHP di wilayah Sumbar dilakukan secara masif dan merata berkat dukungan dari Pemda, TNI/Polri dan BUMN.

“Kita melihat beras SPHP­ ini peminatnya cukup tinggi di Sumbar dan bisa menjadi alternatif bagi masyarakat di tengah tingginya harga beras lokal. Untuk HET tidak boleh melebihi Rp 13.100 per Kg. Tapi saya lihat di kegiatan GPM, dijual di bawah HET,” tutup dia. (uus/rgr)