METRO SUMBAR

Rotasi Jabatan Karutan Kelas IIB Padang, Mai Yudiansyah Gantikan Welli yang Pindah ke LPKA Kelas II Palu

0
×

Rotasi Jabatan Karutan Kelas IIB Padang, Mai Yudiansyah Gantikan Welli yang Pindah ke LPKA Kelas II Palu

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO— Tongkat kepemimpinan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Padang resmi berganti. Pada Jumat (26/9), Mai Yudiansyah dilantik sebagai Kepala Rutan (Karutan) Padang menggantikan Welli, yang kini dipercaya menjadi Kepala Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Palu.

Serah terima jabatan (sertijab) berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan. Acara tersebut sekaligus menjadi ajang perpisahan bagi Welli, yang telah memimpin Rutan Padang sejak 2023 hingga 2025.

Mai Yudiansyah bukanlah orang asing di lingkungan pemasyarakatan Sumatera Barat. Putra daerah asal Solok Selatan kelahiran 1989 ini adalah lulusan Akademi Ilmu Pemasyarakatan tahun 2010.

Sebelum dipercaya memimpin Rutan Padang, Mai menjabat sebagai Kepala Pengamanan di Lapas Kelas IIA Muaro Padang. Ia juga pernah bertugas di Rutan Padang pada 2018 sebagai Kepala Kesatuan Pengamanan. Dengan pengalaman tersebut, ia dianggap memahami betul dinamika yang ada di Rutan Padang.

Dalam sambutannya, Mai menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik di Rutan Padang.“Saya akan menjalankan tugas dengan maksimal. Mohon dukungan dan kerja sama dari seluruh keluarga besar Rutan Padang agar kinerja dan program dapat berjalan baik,” ujarnya.

Dalam sambutan perpisahannya, Welli menyampaikan terima kasih sekaligus permohonan maaf atas segala kekurangan selama hampir dua tahun bertugas.

“Sudah 1 tahun 11 bulan saya menjalankan tugas di sini. Terima kasih atas kerja sama seluruh jajaran. Semoga Rutan Padang terus menjadi rutan yang baik, aman, dan tertib,” ujarnya.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Ditjen Pemasyarakatan Sumbar, Kunrat Kasmiri, hadir langsung pada acara tersebut. Ia menekankan bahwa pergantian pimpinan adalah hal lumrah sebagai bagian dari penyegaran organisasi.

“Pergantian itu biasa, justru penting agar ada penyegaran. Terlalu lama di satu tempat juga tidak baik,” kata Kunrat.

Ia secara khusus mengapresiasi penunjukan Mai sebagai Karutan Padang. “Ini luar biasa, beliau pernah bertugas di sini, kemudian promosi, dan sekarang kembali sebagai Karutan. Artinya regenerasi berjalan dengan baik,” tambahnya.

Kunrat menitipkan sejumlah pesan penting. Ia meminta Karutan baru meningkatkan pelayanan, perawatan, serta pembinaan yang proporsional bagi hampir 900 warga binaan yang kini menghuni Rutan Padang. “Ciptakan suasana harmonis dan nyaman. Bangun komunikasi yang baik, antara warga binaan dengan pegawai maupun sesama warga binaan,” tegasnya.

Selain itu, Kunrat juga menekankan pentingnya inovasi di bidang pelayanan publik. Digitalisasi, menurutnya, harus menjadi perhatian utama seluruh pimpinan Lapas dan Rutan di Sumbar.

“Digitalisasi adalah kebutuhan masyarakat hari ini. Dengan sistem digital, pelayanan lebih mudah, transparan, dan efisien. Ini juga untuk mempersempit ruang praktik pungutan liar,” jelas Kunrat.

Ia bahkan menantang seluruh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan untuk berpikir kreatif melahirkan inovasi. Hasil inovasi tersebut akan menjadi salah satu tolok ukur dalam evaluasi kinerja.

Ia juga mendoakan kesuksesan Mai Yudiansyah dalam menahkodai Rutan Padang. Kunrat turut mengingatkan pentingnya penerapan 13 program akselerasi yang telah dicanangkan oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI. Program tersebut mencakup peningkatan pelayanan, penguatan keamanan, hingga pembinaan warga binaan.

Salah satu fokus program adalah mendukung ketahanan pangan. Beberapa Lapas di Sumbar, seperti Lapas Terbuka Pasaman dengan lahan 20 hektare, bahkan telah menggarap pertanian jagung dan menghasilkan hingga 4 ton per hektare setiap kali panen.

“Ketahanan pangan dan pengembangan UMKM adalah fokus pembinaan. Di sejumlah Lapas sudah ada usaha bawang goreng, sandal hotel, dan produk UMKM lainnya. Semua ini harus terus dikembangkan,” jelas Kunrat.

Dengan jumlah warga binaan di Sumbar yang mencapai 6.000 orang tersebar di 25 UPT Pemasyarakatan, ia berharap program-program tersebut dapat memberikan dampak nyata, baik bagi pembinaan maupun pemberdayaan warga binaan.

Dengan pengalaman panjang di bidang pemasyarakatan, Mai Yudiansyah diharapkan mampu menghadirkan terobosan baru di Rutan Padang. Dukungan dari jajaran pegawai dan sinergi dengan berbagai pihak diyakini akan menjadi kunci sukses kepemimpinannya.

Kini, publik menunggu bagaimana Mai Yudiansyah menerjemahkan pesan-pesan yang disampaikan menjadi langkah nyata untuk menjadikan Rutan Padang lebih modern, humanis, dan produktif. (rom)