METRO SUMBAR

Libatkan BPOM, Dinkes Tingkatkan Keamanan dan Mutu Produk IRTP

0
×

Libatkan BPOM, Dinkes Tingkatkan Keamanan dan Mutu Produk IRTP

Sebarkan artikel ini
PELATIHAN PELAKU USAHA— Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok, Elvi Rosanti, memberikan sambutan saat pelatihan para pelaku usaha bersama Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

SOLOK, METRO–Meningkatkan keamanan dan mutu produk Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) yang beredar di ma­syarakat, terus menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Solok.

Dengan melibatkan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Dinas Kesehatan Kota Solok melatih para pelaku usaha. Kegiatan pelatihan ini sekaligus mendukung pelaksanaan pembangunan bidang kesehatan dal­am mewujudkan keamanan pangan. BPOM mencatat, pelanggaran keamanan pangan masih kerap ditemukan pada produk pangan rumahan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok, Elvi Rosanti, mengatakan keamanan pangan merupakan isu penting dan strategis, terutama di era globalisasi ini. Konsumsi pangan yang aman dan sehat adalah hak dasar setiap warga ne­gara.

Baca Juga  Destinasi Wisata Digital Pasar Silo

“Oleh karena itu, Pemko Solok melalui Dinas Kesehatan berkomitmen mening­katkan kesadaran dan pemahaman masyarakat, khususnya pelaku usaha pangan, mengenai pentingnya menjaga keamanan pangan,” ujar Elvi.

Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan, Emil Reza Razali, menambahkan bahwa setiap pelaku usaha IRTP harus memahami prinsip keamanan pangan dan menerapkannya dalam proses produksi.

Bimtek ini, lanjutnya, men­jadi sarana untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha agar mematuhi regulasi, termasuk Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2017 serta ketentuan BPOM terkait Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-PIRT).

Baca Juga  Tiga Komoditi Pangan Utama Turun Harga

Para peserta mendapat materi dari narasumber Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Pa­dang, yakni Yon Firman, S.Si, Apt, dan Fina Annisa, S.Farm, Apt.

Yon Firman menjelaskan, masalah utama keamanan pangan antara lain cemaran mikroba akibat rendahnya kondisi higiene dan sanitasi, cemaran kimia dari bahan baku yang tercemar, serta penyalahgunaan bahan berbahaya pada pangan. “Selain itu, penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang melebihi batas maksimal juga menjadi perhatian,” katanya. (vko)